Konten dari Pengguna

Contoh Cerpen Remaja Romantis Singkat yang Membuat Baper

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh cerpen remaja romantis. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh cerpen remaja romantis. Sumber: pexels.com

Membuat cerpen remaja romantis bukanlah hal mudah. Sebab, isi dari cerita itu harus cocok dengan selera anak muda. Jadi, diperlukan keterampilan yang baik dalam mengarang dan menulis. Untuk itu, diperlukan contoh cerpen remaja romantis sebagai inspirasi.

Dikutip dari buku Tema dan Amanat dalam Cerita Pendek Indonesia oleh Marwoto (2020:14), dalam mencari ide, seorang penulis cerpen dapat mencampurkan antara fiksi (rekaan) dan fakta. Dapat pula fakta saja atau rekaan saja. Semua sah-sah saja.

Contoh Cerpen Remaja Romantis

Gambar dari contoh cerpen remaja romantis. Sumber: pexels.com

Sebuah cerpen perlu berisi peristiwa dari suatu kejadian. Cerpen biasanya memberikan gambaran mendalam dari suatu permasalahan. Dalam tema percintaan remaja, biasanya permasalahan yang hadir juga masalah remaja. Berikut contoh cerpen remaja romantis tersebut.

Terlambat

Elden tengah fokus mencoret-coret lembar hitungnya yang sudah penuh dengan angka. Sebenarnya bel istirahan telah berbunyi sejak 5 menit yang lalu, namun Elden belum ingin beranjak dari kursinya. Ia merasa tidak puas jika belum menemukan jawaban yang benar.

“El! Ayo ke kantin! Itu soalnya dikerjain nanti aja di bimbel.” Elden merasakan bahunya ditoel-toel oleh seseorang yang sudah ia kenali suaranya. Itu Amira, temannya sekaligus tetangga. Mereka sudah cukup akrab sekali karena telah mengenal sejak kecil.

“Iya, sebentar. Kurang 1 soal ini doang.”

“Astaga, aku udah lapar. Lagian hari ini kita mau ditraktir sama Laskar. Cepetan! keburu dia berubah pikiran. Kamu tahu kan dia sepelit apa? Ini kesempatan langka!” ujar gadis berambut panjang itu antusias.

Elden tertawa kecil mendengar ucapan Amira. “Iya iya, udah nih.”

“Hadeh, ini pada ngapain sih lemot banget?” terdengar suara Laskar yang mendekat sambil mengeluh.

“Ih, ngapain sih kesini?!” protes Amira dengan ekspresi tak senang tampak di wajah cantiknya.

“Ya jemput kawan-kawanku yang lemot inilah! Masa mau lamar kamu? Sabar, Mir ... tunggu aku sukses dulu dong, hehe.”

“Apa sih! Nggak jelas! Maksud aku kamu masuk ke kelas kami, harusnya tunggu aja!” balas Amira makin garang. Gadis itu memalingkan mukanya yang perlahan memerah karena malu.

Elden memandang kedua orang itu dalam diam dan bertanya-tanya, apakah Amira menyukai Laskar?

Kalau boleh jujur Elden agak merasa tersisih jika melihat betapa akrabnya Amira dan Laskar. Padahal keduanya baru saling mengenal beberapa bulan yang lalu saat pertama kali masuk SMA. Elden merasa bingung pada perasaannya, padahal Laskar pun juga temannya sedari SMP.

Apakah ini karena dirinya cemburu? Elden memang menyukai Amira sejak lama. Akan tetapi, dirinya belum punya keberanian untuk mengaku.

“Yaudah, yuk ke kantin! Keburu bel masuk nanti. Mau makan gratis nggak kalian?” ajak Laskar pada Amira dan Elden. Hari ini Laskar hendak menraktir mereka berdua dalam rangka merayakan lolosnya Laskar untuk mengikuti perlombaan basket dengan tim sekolah.

Sesampainya di kantin mereka menempati tempat duduk kosong, kemudian Laskar pun berucap “kalian tunggu di sini aja, biar aku pesenin.”

“Oke, bos siap! Sesuai request-ku tadi loh ya!” ujar Amira berpesan pada Laskar. “Pesenan Elden juga jangan sampai salah.”

“Iya-iya, bawel!” Laskar pun beranjak menuju para penjual kantin yang hendak dibelinya.

“Yes! Hari ini hemat uang jajanku. Rejeki banget ya, El.”

“Iya, syukur banget,” balas Elden sambil tersenyum tipis menatap Amira yang tampak senang. Gadis bahkan bersenandung yang menandakan suasana hatinya sedang baik. Namun, melihat kegembiraan Amira bukannya membuat Elden senang, ia justru jadi cemas.

Ini karena ia berencana menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan pada Amira dan Laskar. Eden takut merusak suasana. Tapi semakin Elden mengundur waktu menyampaikannya, kian tertekan pula hatinya.

Tak berselang lama Laskar pun datang membawa makanan dan minuman dibantu ibu kantin. Akhirnya mereka bertiga pun menikmati makan siangnya.

“Kar, nanti temenin ke perpustakaan ya? Aku mau balikin komik yang kemarin,” Elden yang baru menghabiskan segelas es jeruknya berucap pada Laskar.

“Yoi! Sekalian ngopi bentar aja kalau gitu,” jawab Laskar mengiyakan.

“Oiya ... ngomong-ngomong, ada yang mau aku sampein ke kalian,” cetus Elden dengan sedikit ragu-ragu.

Amira yang sedang mungunyah butiran-butiran nasi goreng terakhirnya menatap Elden penasaran. “Mau ngomong apa? Serius amat kayaknya.”

“Aku seminggu lagi bakal pindah sekolah.”

“APA?!” ucap Amira dan Laskar bersamaan dengan raut yang sama terkejutnya.

“Seminggu?! Kamu bercanda kan? Yang bener aja! Kok baru cerita sekarang? Kok mendadak banget?” tanya Amira bertubi-tubi dengan alis menukik tajam.

“I-iya, sorry ... aku sebenarnya mau cerita dari lama nggak nemu waktu yang pas. Jadi, ngomong hari ini.”

“Kamu kok tega banget sih?! Bukannya kita temen ya? atau cuma aku yang ngira begitu? Jahat banget, sih!” terlihat jelas sekali Amira langsung murka dengan sikap Elden. Gadis itu beranjak dari kursinya dan pergi dari kantin.

“Ra! Aku nggak maksud begitu! Aku cuma—“

“El! Udah biarin aja,” Laskar menahan Elden yang akan mengejar Amira. “Dia pasti butuh waktu buat redain amarahnya. Lagian mendadak banget ngasih kabar kayak gitu.”

Elden pun menurut dan duduk kembali, merasa Laskar ada benarnya. “Iya aku memang salah. Harusnya aku nggak ngasih tahu tiba-tiba begini. Tapi aku nggak nyangka Mira bakal semarah itu.”

“Wajar, sih. Dia kan suka sama kamu,” ucap Laskar sembari terkekeh.

“Apa? Amira suka sama aku? Jangan ngawur kamu!”

“Ngawur apanya? Orang dia pernah curhat ke aku langsung.”

Elden melongo, masih setengah tak percaya. “KENAPA NGGAK PERNAH NGASIH TAHU?!”

Elden memejamkan matanya sambil menghela napas mengingat kejadian 10 tahun lalu. Kini ia sedang menatap kaca sambil merapikan rambutnya. Sebentar lagi ia akan pergi ke reuni SMA lamanya, di mana dirinya, Laskar, dan Amira berteman sangat akrab.

Elden jadi merindukan masa-masa itu. Ia juga agak gugup ingin mengetahui kabar teman-temannya, karena Elden memang sempat lost contact dengan mereka. Elden pun berangkat dan tak sampai 30 menit sampai ke gedung sekolahan tempatnya menuntut ilmu dulu.

Ia sedikit merapikan dasi hitamnya sembari berjalan menuju aula tempat acara diadakan, namun hampir saja kakinya menyandung sesuatu. Itu seorang anak perempuan yang umurnya sekitar 3 tahun. “Astaga, kenapa lari-larian? Mamah kamu?”

“Hehe ...” gadis kecil itu justru tertawa, menatap Elden. Entah mengapa Elden merasa familiar dengan wajah anak itu.

“Alana! Udah Mama bilang jangan nakal ... tahu begitu kamu nggak Mama ajak ...”

Mendengar suara seorang perempuan yang sepertinya ibu dari sang gadis cilik ini membuat Elden mendongak. Lelaki itu tercekat menyadari siapa wanita itu. Itu Amira.

“Amira?” panggil Elden memastikan.

“Hey ...” sapa wanita itu pelan.

“Loh! Elden? Datang juga ternyata temanku ini,” terdengar kembali suara yang familiar baginya, itu Laskar. Laskar terlihat sumringah melihat kehadian Elden, ia mendekat dan berhenti di samping Amira. Ia pun melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Amira.

Melihat hal itu Elden hanya tersenyum getir. Rupanya dirinya sudah terlambat. “Apa kabar kalian?”

Baca Juga: 3 Contoh Cerpen Remaja Singkat Berbagai Tema

Demikian contoh cerpen remaja romantis singkat yang dapat membuat baper pembacanya. Seorang penulis cerpen remaja harus membuat isi dan alur cerita yang sesuai dengan selera para anak remaja agar dapat menghibur. (SLM)