Konten dari Pengguna

Contoh Jurnal Refleksi Dwi Mingguan 10 Calon Guru Penggerak

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jurnal refleksi dwi mingguan 10. Sumber foto: Pixabay/Elf-Moondance
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jurnal refleksi dwi mingguan 10. Sumber foto: Pixabay/Elf-Moondance

Guru penggerak harus memiliki nilai reflektif pada dirinya. Adapun untuk melakukan refleksi, guru dapat menulisnya dalam bentuk jurnal. Karena itulah, contoh jurnal refleksi dwi mingguan 10 perlu diketahui sebagai panduan dalam penyusunnya.

Sebagai guru penggerak, refleksi harus menjadi suatu kebiasaan bukan hanya untuk menyelesaikan tagihan materi saja. Pasalnya, refleksi yang tepat akan membantu proses pembelajaran yang memberdayakan bagi peserta didik.

Contoh Jurnal Refleksi Dwi Mingguan 10

Ilustrasi jurnal refleksi dwi mingguan 10. Sumber foto: Pixabay/Mediamodifier

Mengutip buku Guru Penggerak, Merdeka dan Memesona, Erwin Widiasworo, dkk, (hal.33-34), jurnal refleksi merupakan salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik.

Selain itu, dokumen ini juga dapat menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis. Seperti halnya pada jurnal dwi mingguan 10 yang memuat terkait modul 3. 3 pengelolaan program yang berdampak positif pada murid.

Dengan menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang guru untuk merenungkan praktik yang telah dijalankannya. Kemudian, guru juga dapat memikirkan langkah untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung.

Agar tidak kesulitan dalam menyusunnya, di bawah ini merupakan contoh jurnal refleksi dwi mingguan 10 mengutip dari akun YouTube Ega Priyosa, Jurnal Refleksi Mingguan Ke 10. (2023).

Model Refleksi

Jurnal Refleksi yang kali ini dibuat menggunakan model 4 F sebagaimana kembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, meliputi:

1. Facts (Peristiwa)

2. Feelings (Perasaan)

3. Findings (Pembelajaran)

4. Future (Penerapan)

Facts (Peristiwa)

Pada modul 3.3 ini saya mempelajari tentang pengelolaan program berdampak positif pada murid. Materi pada modul ini dimulai dengan aktivitas pembelajaran mulai dari diri, pada aktivitas ini tujuan pembelajaran yang hendak dicapai adalah CGP melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar mereka dimasa lalu, untuk menyimpulkan apa yang dimaksud dengan program yang berdampak positif pada murid.

Materi dilanjutkan dengan Eksplorasi Konsep, pada sesi ini dihadirkan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang dapat menggali kedalaman konsep berpikir CGP terkait materi pada modul 3.3.

Berlanjut pada sesi berikutnya adalah Ruang Kolaborasi dimana pada sesi ini kami dibagi menjadi beberapa kelompok, kami bekerja sama dengan kelompok membuat gambaran umum sebuah program / kegiatan sekolah yang mempromosikan suara, pilihan, serta kepemilikan murid.

Setelah itu sesi pembelajaran dilanjutkan dengan demonstrasi kontekstual yang mana kami diminta untuk merancang program yang berdampak positif bagi murid yang mempromosikan suara, pilihan serta kepemilikan murid.

Program yang dirancang dibuat dengan tahapan BAGJA, program ini juga dibuat dalam sebuah aksi nyata disekolah masing-masing. Kemudian materi pada modul ini ditutup dengan elaborasi pemahaman bersama instruktur.

Fellings (Perasaan)

Pada pembelajaran Modul 3.3 yang saya pelajari ini memberikan pengalaman yang luar biasa kepada saya. Secara pribadi materi ini mengubah cara pandang saya terhadap perencanaan program yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang guru. Program yang selama ini dirancang dan dilaksanakan belum mempromosikan suara, pilihan, serta kepemilikan murid.

Murid melaksanakan kegiatannya hanya dengan menjalankan instruksi yang diberikan oleh guru, sehingga tanpa disadari guru membiarkan murid-murid sengaja tidak berdaya, guru dengan sepihak memutuskan semua yang harus dipelajari oleh murid, serta bagaimana mereka mempelajarinya tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

Sebagai seorang guru sebaiknya kita berperan aktif dalam mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetaplah sesuai dengan kodrat, konteks dan sesuai kebutuhannya. Saya mendapatkan banyak motivasi serta keinginan untuk merubah atau memperbaiki apa yang sudah saya lakukan.

Findings (Pembelajaran)

Dari modul 3.3 yang saya pelajari, saya memahami bahwa kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab.

Dari pada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar maka cenderung menunjukan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu untuk menentukan tujuan belajar mereka sendiri.

Ketika murid menjadi pemimpin dalam pembelajaran mereka sendiri atau kita katakan saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), serta kepemilikan (ownersip) dalam proses pembelajaran mereka.

Melalui suara, pilihan serta kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya dimana murid memiliki suara, pilihan, serta kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan dan bagaimana mereka melaksanakan niat tersebut, serta bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.

Future (Penerapan)

Dari modul 3.3 yang saya pelajari ini, sebuah perubahan saya akan terapkan dalam mengelola program-program yang akan dirancang dan dijalankan. Menjadikan murid sebagai pemimpin dalam pembelajaran menjadi tujuan utama setiap program yang akan dikelola.

Mempromosikan aspek suara, pilihan serta kepemilikan murid dalam menumbuh kembangkan kepemimpinan murid. Dalam menumbuh kembangkan kepemimpinan murid menjadi indikator utama dalam merancang sebuah program.

Kolaborasi dengan rekan sejawat, pemimpin serta orang tua wali murid juga menjadi agenda utama yang harus dijalankan dalam rangkaian pengelolaan program yang akan di buat. Berbagi praktik baik dengan rekan sejawat maupun komunitas paktisi juga saya akan lakukan sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan positif bagi murid.

Demikian jurnal refleksi dwi mingguan 10 yang penting diketahui. Adanya informasi ini diharapkan mampu memudahkan calon guru penggerak (CGP) dalam menyusun dokumen refleksi secara tepat. (Riyana)

Baca Juga: Contoh Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1