Contoh Tembung Andhahan atau Kata Imbuhan dalam Bahasa Jawa

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh tembung andhahan dalam Bahasa Jawa, seperti ngaca, yang dalam Bahasa Indonesia artinya bercermin. Kata ngaca berasal dari kata dasar kaca dengan imbuhan -ng atau melakukan. Tembung andhanan ngaca dalam bahasa Indonesia artinya mengaca atau bercermin.
Dikutip dari buku Proyek Keterampilan Menulis Berbahasa Jawa, Endang Sri Maruti, dkk (2022:46), tembung andhahan yaitu kata yang sudah mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Sedangkan bentuk asli atau kata dasar disebut dengan tembung lingga.
3 Contoh Tembung Andhahan dan Artinya
Contoh tembung andhahan atau kata imbuhan secara umum dibagi menjadi tiga bagian. Imbuhan di depan, di tengah, dan di akhir. Berikut ini penjelasan lengkapnya
1. Imbuhan di Depan atau Awalan
Dalam bahasa Jawa imbuhan yang letaknya berada di depat kata disebut dengan ater-ater. Ater-ater itu sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu ater-ater anuswara, ater-ater tripurusa, dan ater-ater liyane (lainnya)
a. Contoh ater-ater anuswara:
Macul (menyangkul), berasal dari kata dasar pacul (cangkul). Imbuhan di depan berupa M membuat katanya berubah menjadi macul.
Mangan (makan), berasal dari kata pangan (makanan). Imbuhan M di depan mengubah makanan menjadi mangan, kegiatan terhadap makanan tersebut yaitu makan.
Nangis (menangis), berasal dari kata dasar tangis. Imbuhan N di depan mengubah kata tangis menjadi .
Nyopot (melepas), berasal dari kata dasar copot (lepas). Penambahan ater-ater Ny merubah kata copot menjadi nyopot.
b. Contoh ater-ater tripusara:
Daksilih (kupinjam), berasal dari kata dasar silih (pinjam). Imbuhan di depan Dak mengubah kata pinjam menjadi kupinjam.
Dipangan (dimakan), berasal dari kata pangan (makan).
Koksilih (kaupinjam), berasal dari kata silih (pinjam), ditambahkan kok (kau).
Kumawani (sok berani) berasal dari kata dasar wani (berani) yang diberi imbuhan kuma di depan.
2. Imbuhan di Tengah atau Sisipan
Sisipan dalam bahasa jawa disebut dengan seselan, yaitu imbuhan di tengah tembung lingga. Seselan dalam bahasa jawa di antaranya adalah in, er, dan el.
Contoh tembung andhahan dengan Seselan:
Sinerat (tertulis) berasal dari kata dasar serat atau tulis, yang mendapat imbuhan -in di tengah.
Beleber (tumpah) berasal dari kata beber yang mendapat imbuhan -el di tengah.
Ceruwil (terpotong-potong menjadi banyak bagian), berasal dari kata cuwil (terpotong). Imbuhan -er di tengah menjadikan maknanya berubah menjadi lebih banyak.
3. Imbuhan di Belakang atau Akhiran.
Dalam Bahasa Jawa, akhiran disebut dengan panambang. Imbuhan ini terletak di bagian belakang kata dasar (lingga)
Contoh tembung andhahan Panambang:
Kobongan (kebakaran) berasal dari kata kobong (bakar/terbakar) dengan imbuhan akhir -an.
Soren (agak sore) dari kata sore dapat imbuhan -an.
Beleni (ulangi), berasal dari kata bali (ulang/kembali) dengan panambang i, tembung andhahannya menjadi baleni.
Tulisake (dituliskan), dari kata tulis (tulis/ menulis) terdapat imbuhan ake, menjadi tulisake.
Baca juga: 16 Contoh Purwakanthi Lumaksita dalam Bahasa Jawa
Demikian pembahasan tentang contoh tembung andhahan yang terkadang kata bentukan memiliki arti dalam bahasa Indonesia yang jauh berbeda dengan kata dasarnya. Semoga bermanfaat. (STA)
