Fenomena Kemarau Basah, Anomali Iklim yang Melanda Indonesia

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musim kemarau di Indonesia harusnya berlangsung mulai dari April hingga September. Namun, beberapa wilayah Indonesia, curah hujannya masih tinggi. Kemarau basah adalah fenomena yang menggambarkan apa tengah melanda iklim Indonesia saat ini.
Kondisi ini menjadikan musim kemarau yang seharusnya kering tapi justru masih diguyur hujan. Dampak dari fenomena ini berpengaruh terhadap sektor pertanian, perencanaan infrastruktur hingga pengelolaan sumber daya air. Bahkan ada daerah yang mengalami bencana banjir sebagai dampak dari fenomena kemarau basah.
Mengenal Fenomena Kemarau Basah: Pengertian dan Dampaknya
Dikutip dari website resmi BMKG, https://www.bmkg.go.id/, musim kemarau tahun 2025 diprediksi akan berlangsung lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini berdasarkan dari hasil pemantauan serta analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan oleh BMKG hingga pertengahan April 2025.
Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Juni hingga Agustus dengan wilayah meliputi Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku.
Lebih lanjut lagi dari BMKG, sifat musim kemarau tahun 2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% kemarau lebih basah dari normal dan 14% wilayah lebih kering dari biasanya.
Cuaca di beberapa daerah sekarang ini masih diguyur hujan baik di pagi hari, siang, sore dan malam hari. Bahkan cuaca di pagi hari terkadang kering, lain harinya terasa lembab. Fenomena yang tengah melanda cuaca di Indonesia ini dinamakan kemarau basah.
Lantas, apa itu kemarau basah? Berikut penjelasan terkait anomali iklim ini.
1. Pengertian
Dikutip dari buku Sosiologi Lingkungan Hidup karya Suharko (2024:31), gejala La Nina menimbulkan curah hujan yang tinggi, bahkan pada musim kemarau pun disebut sebagai kemarau basah. Baik El Nino dan La Nina secara signifikan mengubah cuaca global.
Secara ringkas, kemarau basah adalah kondisi ketika musim kemarau tetap disertai curah hujan dengan intensitas yang tinggi.
Umumnya, musim kemarau ditandai dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian (10 hari). Tapi, di kondisi kemarau basah, nilai tersebut bisa dilampaui secara signifikan dan terus-menerus. Akibatnya, musim kemarau pun tidak menenjukkan kekeringan seperti biasanya.
Fenomena ini juga pernah terjadi di tahun sebelumnya yakni Juli 2022 di Kota Bandung. Kala itu, kemarau basah ditandai dengan dominannya tiupan angin muson Australia, sedangkan posisi matahari sudah mulai bergerak ke arah utara.
2. Dampak Kemarau Basah
Kondisi kemarau basah ini perlu diwaspadai oleh semua pihak karena berpotensi memicu terjadinya banyak hal. Fenomena ini berisiko menimbulkan penyakit diare dan leptospirosis karena banyaknya genangan air dan lingkungan yang lembab.
Tak hanya itu saja, perubahan cuaca tidak menentu ini bisa membuat perkembangan jentik nyamuk lebih tinggi, sehingga kasus DBD dikhawatirkan akan meningkat. Oleh karena itu, masyarakat wajib menjaga kebersihan rumah.
Di sektor pertanian, bawang merah terancam gagal panen karena curah hujan yang tinggi sedangkan tanaman tersebut membutuhkan kondisi kering. Tak hanya itu saja, cuaca ekstrem selama kemarau basah berpotensi menimbulkan bencana alam seperti banjir, angin puting beliung hingga tanah longsor.
Kemarau basah adalah anomali iklim yang terjadi dengan penyebab salah satunya dari pengaruh La Nina. Fenomena ini membuat musim kemarau berlangsung singkat. (RAN)
Baca juga: Pengertian Perubahan Iklim beserta Faktor Penyebab dan Dampaknya
