Konten dari Pengguna

Filosofi Baju Toga Wisuda yang Perlu Diketahui Mahasiswa

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Filosofi Baju Toga Wisuda. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Melanie
zoom-in-whitePerbesar
Filosofi Baju Toga Wisuda. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Melanie

Filosofi baju toga wisuda salah satunya adalah memiliki panjang yang bervariasi sesuai dengan tingkat gelar yang diperoleh. Dikutip dari buku Bersarang di Kepala, Mirna dkk (2020: 7), baju toga wisuda bukan hanya sekadar pakaian seremonial untuk upacara kelulusan.

Di balik tampilan formalnya, terdapat makna dan sejarah panjang yang mencerminkan nilai-nilai akademis serta perjalanan intelektual mahasiswa. Untuk memahami filosofi di balik baju toga wisuda, mahasiswa perlu melihat sejarah, simbolisme, dan lainnya.

Filosofi Baju Toga Wisuda

Filosofi Baju Toga Wisuda. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Melanie

Toga wisuda berakar dari tradisi akademis Eropa abad pertengahan. Pada masa itu, universitas seperti Universitas Bologna dan Universitas Paris menggunakan jubah akademis sebagai seragam bagi para sarjana.

Pakaian ini dipengaruhi oleh busana rohaniwan, karena pada awalnya, banyak universitas adalah lembaga gerejawi. Seiring berjalannya waktu, penggunaan toga menyebar ke universitas-universitas di seluruh dunia dan menjadi simbol universal pencapaian akademis.

Berikut penjelasannya.

1. Simbolisme dan Makna

  1. Jubah dan Toga, jubah toga memiliki panjang yang bervariasi sesuai dengan tingkat gelar yang diperoleh. Gelar sarjana biasanya mengenakan toga yang lebih pendek, sementara gelar master dan doktor memiliki toga yang lebih panjang dan lebih rumit. Hal ini menandakan tingkatan keahlian dan pengetahuan yang telah dicapai.

  2. Topi Mortarboard, topi persegi, dikenal sebagai mortarboard, memiliki simbolisme tersendiri. Bagian atas yang datar melambangkan meja tempat siswa belajar dan menulis. Rumbai yang awalnya digantung di sisi kanan, kemudian dipindahkan ke sisi kiri setelah prosesi wisuda, menandakan transisi dari siswa menjadi sarjana.

  3. Warna Toga, warna toga dan aksesori lainnya sering mencerminkan fakultas atau bidang studi tertentu. Misalnya, warna biru tua mungkin melambangkan ilmu humaniora, sementara hijau menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Warna ini membantu mengidentifikasi disiplin ilmu lulusan, merayakan keragaman akademis dalam satu upacara.

  4. Kalung Medali, beberapa universitas juga melengkapi toga wisuda dengan kalung medali yang melambangkan kehormatan akademis. Medali ini biasanya diberikan kepada lulusan dengan prestasi luar biasa dan menandakan penghargaan atas usaha dan dedikasinya.

2. Elemen Filosofis

  1. Kesetaraan dan Kesatuan, semua lulusan mengenakan toga yang serupa, mencerminkan kesetaraan dan kesatuan dalam pencapaian akademis. Ini menekankan bahwa semua orang, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi akademis.

  2. Transisi dan Pencapaian, prosesi pemakaian toga dan topi mortarboard merupakan simbol transisi dari dunia pendidikan ke dunia profesional. Ini menandakan pencapaian pribadi sekaligus tanggung jawab baru yang akan diemban oleh lulusan sebagai kontributor di masyarakat.

  3. Identitas Akademis, selain menjadi simbol kesetaraan, toga juga menunjukkan identitas akademis seseorang. Setiap detail, mulai dari warna hingga aksesori tambahan seperti hood dan kalung medali, memperkuat identitas dan kebanggaan akademis lulusan.

Filosofi baju toga wisuda bukan hanya sekadar pakaian seremonial, melainkan simbol pencapaian akademis, penghormatan terhadap tradisi panjang, dan perjalanan intelektual yang telah ditempuh. (Msr)

Baca juga: Apa Itu KRS kuliah? Inilah Pengertian dan Fungsinya