Konten dari Pengguna

Hipospadia: Gejala, Penyebab, dan Cara Menanganinya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hipospadia. Sumber: Pixabay/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hipospadia. Sumber: Pixabay/Pexels

Hipospadia adalah kondisi saluran kencing pada bayi laki-laki yang tidak berada pada posisi normalnya. Hipospadia berasal dari istilah Yunani yaitu hipo yang artinya di bawah dan spadon artinya celah.

Hipospadia merupakan anomali kongenital pada laki-laki yang sering terjadi. Kongenital adalah kelainan bawaan yang disebabkan oleh adanya kegagalan dalam pembentukan organ saat fase organogenesis di trimester pertama kehamilan.

Gejala Hipospadia

Ilustrasi gejala hipospadia. Sumber: Pixabay/Smpratt90

Kondisi hipospadia pada setiap penderita bisa berbeda-beda. Dikutip dalam buku Asuhan Kebidanan, Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah oleh Noordiati, SST., MPH. (2019:123) penderita yang mengalami hipospadia akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Testis tidak turun.

  • Lazim ditemukan hernia inguinalis.

  • Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah atau di dasar penis.

  • Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis.

  • Jika berkemih anak harus duduk.

Akibat ciri-ciri di atas, bayi dengan hipospadia akan mengalami gejala seperti di bawah ini:

  1. Percikan urin tidak normal saat buang air kecil.

  2. Kulup hanya menutupi bagian atas kepala penis.

  3. Bentuk penis melengkung ke bawah.

Penyebab Hipospadia

Ilustrasi penyebab hipospadia. Sumber: Pixabay/Rmt

Dikutip dalam buku Asuhan Neonatus Dan Bayi Baru Lahir Dengan Kelainan Bawaan oleh Diaz Capriani Randa Kusuma, Ika Fitria Elmeida, Reni Nofita, dkk (2022:143) hipospadia berhubungan dengan kondisi keturunan yang diestimasikan mempengaruhi 57-77% kejadian hipospadia.

Meski penyebab hipospadia belum dapat diketahui secara pasti, akan tetapi ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko bayi mengalami hipospadia. Beberapa faktor risiko hipospadia adalah:

  1. Adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke-10 sampi ke-14.

  2. Riwayat keturunan dan etnis (faktor genetik).

  3. Usia ibu hamil di atas 35 tahun.

  4. Menjalani terapi kehamilan atau perawatan kesuburan.

  5. Faktor lingkungan seperti paparan zat tertentu (rokok, pestisida, obat-obatan, dan lain sebagainya).

  6. Terhambatnya kerja hormon testosteron.

  7. Kelahiran prematur.

Cara Menangani Hipospadia

Ilustrasi cara menangani hipospadia. Sumber: Pixabay/Sasint

Penanganan medis yang diperlukan penderita hipospadia berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahan yang dialami. Jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi seharusnya dan bentuk penis tidak melengkung, tidak membutuhkan penanganan secara khusus.

Tetapi, jika lubang kencing berada jauh dari posisi normal, operasi perlu dilakukan. Operasi pemindahan uretra bertujuan untuk menempatkan lubang kencing ke posisi yang seharusnya.

Selain itu pada kasus penis yang melengkung ke bawah, operasi juga harus dilakukan untuk memperbaiki kelengkungan penis ke bentuk yang normal.

Pasien yang melewati proses operasi akan menggunakan kateter di penisnya sebagai saluran buatan dari plastik untuk membantu mengalirkan urin. Biasanya dokter juga akan memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah operasi.

Saat yang paling ideal untuk melakukan operasi adalah ketika anak berusia 6 bulan hingga 1,5 tahun. Operasi bisa dilangsungkan lebih dari sekali, tergantung pada tingkat keparahannya.

Baca juga: Kenali Penyebab Panu di Wajah dan Cara Menghilangkannya

Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan yang terjadi pada bayi laki-laki. Kenali gejala dan penyebabnya. Jika terdapat gejala seperti uraian di atas, bawa segera ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. (MRZ)