Jenis-jenis Majas dan Contohnya dalam Kalimat Bahasa Indonesia

Ragam Info
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Majas merupakan salah satu unsur yang menarik dalam sebuah bacaan. Majas merupakan kata atau kelompok kata yang bermakna kias untuk menghasilkan efek-efek tertentu. Jenis-jenis majas yaitu majas perbandingan, sindiran, penegas, dan pertentangan.
Dalam kalimat Bahasa Indonesia fungsi penggunaan majas yaitu menjadikan pesan lebih berbobot. Pemakaian majas yang tepat (sesuai dengan waktu dan penerima yang menjadi sasaran) juga dapat menarik perhatian penerima.
Jenis-Jenis Majas
Dalam buku Stilistika Sebuah Kajian Dalam Prosa oleh Robert Rizki Yono, M.Pd. (2023:21-52) dijelaskan bahwa jenis-jenis majas terdiri dari empat jenis, yaitu majas perbandingan, majas sindirian majas penegas, dan majas pertentangan. Majas tersebut dirinci sebagai berikut.
1. Majas Perbandingan
Majas perbandingan adalah majas yang dibentuk dengan membandingkan sesuatu hal dengan hal yang lain yang mempunyai ciri sama. Majas perbandingan meliputi:
Personifikasi: Majas yang menggambarkan benda mati seperti manusia. Dalam hal ini benda mati dapat bersikap dan bertingkah laku layaknya manusia.
Metafora: Majas yang membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata-kata seperti, bagaikan, laksana, bak, dan lain-lain.
Eufeminisme (ungkapan pelelembut): Majas yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata lain agar lebih sopan santun atau tabu.
Sinekdoke: Terdapat 2 jenis yaitu pars pro toto dan totem pro prate. Pars pro toto mengungkapkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan objek. Sedangkan totem pro prate pengungkapan keseluruhan objek untuk menyatakan sebagian objek.
Alegori: Majas yang menyatakan sesuatu dengan cara lain.
Hiperbola: Majas yang melebih-lebihkan sesuatu sehingga sesuatu tersebut tidak masuk akal.
Litotes: Majas yang meluksikan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan arti dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
Alusio: Majas yang merujuk sesuatu secara tidak langsung kesamaan antara orang, peristiwa, dan tempat.
Metonimia: Majas yang mengemukakan merek dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan atau dikerjakan sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan.
Simile: Majas yang membandingkan secara langsung dengan menggunkan kata-kata pembanding. Misalnya kata-kata seperti bak, bagaikan, laksana, dan lain-lain.
2. Majas Sindiran
Majas sindiran atau ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Majas sindirian meliputi:
Ironi: Majas yang melukiskan sesuatu dengan menyatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud untuk menyindir.
Sinisme: Majas yang menyatakan ejekan secara kasar.
Sarkasme: Majas terkasar dan langsung menusuk perasaan.
Satire: Majas yang digunakan untuk mengejek, mengkritik, atau menertawakan suatu gagasan, kebiasaan, atau idelogi.
Innuendo: Majas yang dipakai untuk menyindir seseorang dengan cara mengecilkan suatu fakta.
3. Majas Penegas
Majas penegas adalah majas yang menggunakan kata-kata kiasan yang menyatakn sebuah penegasan. Gaya bahasa ini bertujuan untuk memberikan pengaruh kepada pembaca atau pendengar agar menyetujui sebuah ujaran atau kejadian. Majas penegasan meliputi:
Repetisi: Majas yang menggunakan kata, frase, atau klausa secara berulang-ulang pada satu kalimat yang dianggap penting untuk memberikan penekanan.
Retorik: Majas yang pengungkapannya menggunakan kalimat tanya yang tidak membutuhkan sebuah jawaban.
Pleonasme: Majas yang menggunakan kata atau istilah yang berlebihan. Pada majas pleonasme, terdapat penambahan kata, keterangan, atau gagasan terhadap sebuah pernyataan yang maksud dan tujuannya sudah jelas.
Tautologi: Majas yang menggunakan pengulangan kata, gagasan, atau pernyataan secara berlebihan untuk memberikan penegasan lebih dan tidak perlu.
Antiklimaks: Majas yang mengurutkan kata atau gagasan dari yang kompleks (sangat penting) hingga ke hal yang sederhana.
4. Majas Pertentangan
Majas pertentangan adalah majas yang digunakan untuk melukiskan atau mengekspresikan hal apapun dengan cara mempertentangkan antara hal yang satu dengan hal yang lainnya. Majas pertentangan meliputi:
Litotes: Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan maksud untuk merendahkan diri. Majas ini merupakan kebalikan dari majas hiperbola.
Paradoks: Majas yang menggunakan bahasa kiasan untuk membandingkan sesuatu yang berkebalikan.
Oksimoron: Majas yang menempatkan paradoks atau dua hal berlawanan dalam sebuah kalimat yang sama.
Antitesis: Majas yang menggunakan kata-kata berlawanan arti untuk mengungkapkan suatu pertentangan.
Contoh Majas
Setelah mengetahui jenis-jenis majas, pahami juga contohnya agar lebih memahami penerapan majas dalam suatu kalimat. Berikut contoh majas:
"Jiwanya rapuh, lebih rapuh dari kayu yang paling kering sekalipun." (Majas metafora).
"Pendengaranya sudah berkurang." (Majas eufeminisme).
"Sejak hari senin Messi tidak keliahatan batang hidungnya." (Majas sinekdoke pars pro toto).
"Indonesia akan bertanding melawan Italia dalam ajang tinju." (Majas sinekdoke totem pro prate).
"Hidup ini diluksikan dengan perahu yang tengah berlayar di laut." (Majas alegori).
"Terimalah walaupun sedikit." (Majas litotes).
"Aku minum Aqua." (Majas metanimia).
"Suaramu indah, lebih indah lagi jika kamu diam." (Majas sinisme).
"Mereka itu bodoh." (Majas sarkasme).
"Perpuluh-puluh jenis burung ditangkarkan di kebun binatang ini." (majas plesonasme).
"Orang sepertimulah yang kunanti. Yang kutunggu. Dan yang kucari." (majas tautologi).
"Mulai dari bapaknya, kakaknya, sampai anak yang bungsunya, mereka semua adalah pecinta sepak bola." (Majas antiklikamask)
"Dia merasa sepi di tengah ramainya kota." (Majas paradox).
"Gus Dur buta, tetapi dapat melihat kesengsaraan rakyat." (Majas parabola).
"Janganlah sungkan untuk singgah di gubuk kami lagi." (Majas litotes).
Baca juga: Jenis-Jenis Motor Honda Berdasarkan Kebutuhan Penggunanya
Itu tadi jenis-jenis majas dan contohnya. Dalam kalimat bahasa Indonesia penggunaan majas harus sangat diperhatikan agar tulisan bisa dipahami oleh pembaca. Bila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan majas akan sia-sia bahkan mengganggu pembaca. (MRZ)
