Konten dari Pengguna

Ketahui Berbagai Elemen Kompetensi Pendidik dalam AI Menurut UNESCO

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Elemen Kompetensi Pendidik dalam AI Menurut UNESCO. Sumber: Pexels/Tara Winstead
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Elemen Kompetensi Pendidik dalam AI Menurut UNESCO. Sumber: Pexels/Tara Winstead

Pada era digital ini, AI atau kecerdasan buatan menjadi salah satu hal yang banyak disoroti terutama dalam bidang pendidikan. Oleh karenanya, sebagai panduan guru ada beberapa elemen kompetensi pendidik dalam AI menurut UNESCO yang penting diperhatikan.

AI (Kecerdasan Buatan) adalah bidang ilmu komputer yang mengembangkan sistem atau mesin mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia. AI dapat melakukan berbagai hal seperti, seperti belajar, berpikir, menalar, memecahkan masalah, memahami bahasa, mengenali pola, dan mengambil keputusan.

Berbagai Elemen Kompetensi Pendidik dalam AI Menurut UNESCO yang Perlu Diketahui

Ilustrasi Elemen Kompetensi Pendidik dalam AI Menurut UNESCO. Sumber: Pexels/Alex Knight

Mengutip buku Cara Pintar Kuasai RPUL (Ringkasan Pengetahuan Umum Lengkap), Tika Yuitaningrum (2013:148), UNESCO adalah organisasi di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang bertujuan untuk membina kerja sama internasional pada bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Pada 2024 lalu, UNESCO telah menerbitkan kerangka kerja kompetensi AI untuk guru yang berisi beberapa elemen. Berikut beberapa elemen kompetensi pendidik dalam AI menurut UNESCO yang penting untuk diketahui.

1. Human‑centred mindset

Dimensi ini menekankan bahwa teknologi kecerdasan buatan harus digunakan untuk memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya.

Pendidik perlu memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga otonomi manusia dalam proses pembelajaran. Kompetensi ini mencakup pemahaman tentang tanggung jawab sosial, keberlanjutan, dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.

Dalam praktiknya, pendidik diharapkan dapat menggunakan AI dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan peserta didik dan komunitas pendidikan secara luas.

2. Ethics of AI

Dimensi ini menuntut pendidik memahami prinsip-prinsip etika dalam penggunaan AI, seperti keadilan, transparansi, privasi, dan akuntabilitas. Penggunaan AI dalam pendidikan harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi.

Pendidik harus mampu mengenali potensi risiko dari teknologi seperti bias algoritmik atau pelanggaran privasi, serta mampu meresponsnya dengan kebijakan dan praktik yang etis.

Etika tidak hanya dilihat sebagai teori, tetapi juga sebagai pedoman tindakan dalam memilih dan menggunakan alat AI secara bertanggung jawab.

3. AI foundations and applications

Dimensi ini berfokus pada pemahaman dasar tentang cara kerja AI, termasuk teknik-teknik dasar, fungsi algoritma, dan batas kemampuan sistem cerdas. Pendidik dituntut untuk mengetahui bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam konteks pendidikan.

Kompetensi ini meliputi kemampuan untuk mengevaluasi dan mengadopsi aplikasi AI yang relevan, serta memahami dampak teknologi tersebut terhadap proses belajar-mengajar. Pendidik tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga mampu secara kritis memilih dan menerapkan teknologi yang sesuai.

4. AI pedagogy

Dimensi ini berkaitan dengan penerapan AI dalam strategi pembelajaran. Pendidik diharapkan mampu mengintegrasikan AI ke dalam metode pengajaran untuk meningkatkan efektivitas proses belajar.

AI dapat digunakan untuk pembelajaran adaptif, penilaian otomatis, dan personalisasi materi ajar. Namun, integrasi ini harus mempertimbangkan nilai-nilai pedagogis dan tidak menghilangkan peran penting interaksi manusia dalam pendidikan.

Kompetensi ini menuntut kreativitas dan kepekaan dalam merancang pengalaman belajar yang memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti.

5. AI for professional learning

Dimensi ini menekankan pemanfaatan AI untuk pengembangan profesional pendidik. AI dapat mendukung proses refleksi, pelatihan berbasis data, serta kolaborasi dengan komunitas belajar profesional.

Teknologi ini dapat digunakan untuk merancang jalur pembelajaran personal, menyediakan umpan balik otomatis, atau mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi.

Dengan kemampuan ini, pendidik dapat terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan dalam dunia pendidikan, serta memanfaatkan AI sebagai mitra dalam pengembangan karier dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Elemen kompetensi pendidik dalam AI menurut UNESCO ini saling mendukung, membentuk sebuah kerangka holistik agar guru siap menghadapi era digital. Elemen ini disusun untuk menjaga nilai kemanusiaan, etika, dan profesionalisme guru dalam menghadapi perkembangan teknologi. (BAI)

Baca Juga: 6 Strategi Terbaik dalam Menerapkan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Sekolah