Lagu Buruh Tani Ciptaan Siapa dan Bagaimana Asal Usulnya?

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan tentang "Lagu Buruh Tani ciptaan siapa?" Ini sering ditanyakan masyarakat. Hal tersebut karena lagu ini melekat dengan semangat dan perjuangan rakyat.
Lirik lagu ini dibuat sederhana dan penuh makna. Lagu ini juga mudah dinyanyikan oleh masyarakat. Tidak heran jika lagu ini kerap hadir dalam aksi, diskusi, hingga ruang-ruang kebudayaan sebagai simbol keberanian dan harapan.
Lagu Buruh Tani Ciptaan Siapa? Ini Penjelasan Lengkap beserta Asal-Usulnya
Lagu Buruh Tani hampir selalu terdengar dalam setiap aksi demonstrasi hingga hari ini. Meski begitu, tidak banyak orang yang benar-benar tahu siapa penciptanya.
Lagu Buruh Tani ciptaan siapa? Dikutip dari buku Gerakan Korektif Tradisi Baru Gerakan Mahasiswa Indonesia, Nanang dkk (2025: 11), lagu ini diciptakan oleh Safi’i Kemamang pada tahun 1996.
Safi’i Kemamang adalah pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 5 Juni 1976. Dalam sebuah wawancara, Safi'i menegaskan bahwa judul asli lagu tersebut bukanlah Buruh Tani, melainkan Pembebasan.
Lagu ini lahir dari suasana politik yang mencekam pada era Orde Baru. Tepatnya saat Safi’i sudah bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik di Jawa Timur.
Kala itu PRD bergerak secara bawah tanah. Namun, situasi berubah ketika Komite Nasional Perjuangan Demokrasi dibentuk pasca peristiwa KUDATULI pada Juli 1996. Di tengah represi penguasa, Safi’i dan kawan-kawan merasa membutuhkan penyemangat.
Safi'i sadar, politik tanpa musik akan terasa kering. Jalan keluar yang paling mungkin saat itu hanyalah persatuan. Buruh, tani, mahasiswa, dan kaum miskin kota menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan rezim.
Oleh sebab itu, semua lapisan tersebut perlu dirangkul dalam satu barisan perjuangan. Menurut Safi’i, inti dari perjuangan adalah membangun garis penghubung yang jelas antara semangat, persatuan, dan aksi.
Perjuangan itu hanya bisa dijaga jika ada instrumen yang mampu menyatukanhm yaitu musik. Lirik dan melodi sederhana yang mudah dihafal mampu menyalakan harapan dan menjaga daya juang di tengah tekanan aparat.
Menariknya, Safi’i bukan berasal dari keluarga musisi. Safi'i lahir dari keluarga petani yang kehidupannya kian terhimpit oleh situasi pertanian yang tidak menentu. Kedua orang tuanya terpaksa meninggalkan sawah dan kebun.
Lalu, merantau ke kota untuk bertahan hidup sebagai pekerja urban. Dari pengalaman itu, Safi’i merasakan ketidakadilan sekaligus luka batin yang kemudian Safi'i ekspresikan lewat karya. Perkenalannya dengan musik baru terjadi ketika Safi'i duduk di bangku STM.
Safi'i belajar gitar secara otodidak, tanpa referensi musik perjuangan dari luar negeri karena keterbatasan akses dan kendala bahasa. Satu-satunya sumber inspirasinya adalah lagu-lagu nasional, seperti Halo-Halo Bandung atau Garuda Pancasila.
Mulai dari sini, Safi’i menciptakan lagu sederhana yang mudah dipahami, serta sarat pesan perjuangan. Lagu ini lahir sebagai bentuk keresahan serta harapan rakyat.
Bagi Safi’i, lagu ini bukan sekadar hiburan. Namun, media untuk menyatukan langkah dan semangat. Tidak heran jika karya tersebut terus bertahan, dinyanyikan lintas generasi, dan menjadi salah satu ikon perlawanan terhadap ketidakadilan.
Itulah jawaban atas pertanyaan, "Lagu Buruh Tani ciptaan siapa?". Sampai sekarang, lagu tersebut menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa suara rakyat tidak pernah bisa dibungkam. (Msr)
Baca juga: Makna lagu Kuning Rumahsakit yang Beraliran Britpop
