Makna Lagu Kamis Hindia beserta Liriknya

Ragam Info
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makna lagu Kamis Hindia ini perlu dipahami para penggemarnya agar lebih mendalami lagu ini. Lagu "Kamis" merupakan salah satu karya terbaru dari Hindia, nama panggung dari musisi Baskara Putra.
Melalui karya-karyanya, Hindia terus berusaha menyuarakan isu-isu penting dan memberikan ruang bagi refleksi diri. Sehingga menjadikan musiknya lebih dari sekadar hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan.
Makna Lagu Kamis Hindia dan Liriknya
Dirilis sebagai bagian dari album "Lagipula Hidup Akan Berakhir", makna lagu Kamis Hindia menonjol karena mengangkat suara Ibu Sumarsih. Ia adalah seorang inisiator Aksi Kamisan.
Ibu Sumarsih telah berjuang mencari keadilan bagi korban pelanggaran HAM di Indonesia. Dikutip dari buku HAM, Majda dkk (2017), konstitusi dan jaminan atas HAM merupakan satu kesatuan yang mencerminkan kesinambungan gagasan.
Selain itu, hal ini juga mencerminkan praktik demokrasi konstitusional. Penggunaan suara Ibu Sumarsih dalam lagu ini memberikan dimensi emosional yang mendalam.
Sehingga mengingatkan pendengar akan pentingnya perjuangan dan konsistensi dalam menuntut keadilan. Hindia, melalui karya ini, tidak hanya menyajikan musik.
Namun, juga menyampaikan pesan sosial, mengajak pendengar untuk merenungkan isu kemanusiaan yang sering terabaikan. Selain "Kamis", album "Lagipula Hidup Akan Berakhir" juga memuat lagu yang mengangkat berbagai tema kehidupan.
Misalnya, lagu "Kami Khawatir, Kawan" yang terinspirasi dari pengalaman pribadi Hindia melihat sahabatnya yang memiliki adik sering menghilang dan enggan pulang ke rumah. Lagu ini menggambarkan kekhawatiran dan kepedulian.
Lagu ini juga mengajak seseorang untuk kembali dan berbagi beban bersama. Melalui lirik dan melodi yang menyentuh, Hindia berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya dukungan dan perhatian dalam hubungan antar manusia.
Secara keseluruhan, album ini mencerminkan kemampuan Hindia dalam mengolah berbagai isu sosial dan personal menjadi karya musik yang tidak hanya enak didengar. Namun, juga kaya akan makna.
Dengan mengangkat suara tokoh-tokoh seperti Ibu Sumarsih dan tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Hindia berhasil mengajak pendengar untuk lebih peka dan reflektif terhadap realitas di sekitarnya.
Untuk mendengarkan lagu "Kamis" dan lagu-lagu lainnya dalam album "Lagipula Hidup Akan Berakhir", para pendengar dapat mengunjungi platform musik seperti Spotify. Selain itu, video lirik resmi untuk "Kami Khawatir, Kawan" tersedia di YouTube.
Berikut ini adalah lirik lagu Kamis Hindia yang menarik diketahui.
Dan tidak akan ada orang yang rela anak yang dicintai ditembak atau dibunuh
Wawan itu anak yang menyenangkan
Hobinya membaca
Dia di kamar mandi pun selalu baca koran
Atau bawa komik atau buku
Kalau hari Sabtu, hari Minggu
Kami masak bersama-sama
Pada saat makan bersama itu, jam berapa pun makan malam bersama
Kami bercerita tentang keseharian
Dari pembicaraan yang sederhana, kami membicarakan masalah politik
Karena pada tahun '97-'98 masalah politik Indonesia semakin memanas
Setelah pembicaraan sampai kepada masalah politik, selalu ditutup dengan "Besok dimasakin apa?"
Karena pada tahun '98 itu demonstrasi dan hari ke hari semakin membesar
Tahun '98 terjadi tragedi kemanusiaan yang sudah diselidiki oleh Komnas HAM
Yaitu dalam berkas tragedi penembakan mahasiswa
Peristiwa Semanggi 1, Semanggi 2, Trisakti
Kemudian berkas kerusuhan 13-15 Mei '98
Dan berkas penghilangan paksa atau penculikan aktivis pro-demokrasi
Wawan mahasiswa Atma Jaya
Juga aktif di masyarakat dengan ikut anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Mengadvokasi korban 13, 15 Mei '98 sebagai anggota tim relawan kemanusiaan
Setiap Wawan datang ke rumah sakit yang diminta adalah obat-obatan untuk teman-temannya yang berdemonstrasi
Dan menurut kesaksian, pada tanggal 13 November hari Jumat itu, jam 10 pagi
Bersama enam orang temannya, Wawan menetralisir gas air mata di depan kampus Atma Jaya dengan menyemprotkan air hidran
Sekitar jam 3 sore, aparat masuk ke Atma Jaya
Ada korban yang jatuh, Wawan ngasih tahu
"Pak, itu ada korban. Boleh ditolong atau tidak?"
Tentara itu mengatakan, "Boleh, silakan"
Kemudian Wawan mengeluarkan bendera putih, dilambai-lambaikan
Tetapi pada saat Wawan akan mengangkat korban, justru Wawan ditembak
Banyak orang mengatakan dari pagi Wawan menggunakan ID card Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Dan Wawan diautopsi oleh Dr. Budi Sampurno
Wawan meninggal dunia karena ditembak dengan peluru tajam standar militer di dada sebelah kiri mengenai jantung dan parunya
Dan menurut kesaksian juga bahwa Wawan ditembak oleh aparat di halaman kampusnya ketika sedang menolong seorang korban yang juga ditembak oleh aparat
Setelah Wawan meninggal dunia, hari Jumat 13 November '98 Wawan ditembak, hari Sabtu Wawan dimakamkan
Pulang dari makam ada wartawan bertiga begitu, di rumah sunyi
Kemudian saya bilang, "Saya akan berhenti bekerja
Saya tidak sanggup untuk bertemu dengan orang"
Saya sangat mencintai Wawan, kami sekeluarga mencintai Wawan
Tapi duka cita saya bertransformasi pada cinta terhadap sesama
Dengan memperjuangkan agar kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia ini
Dipertanggungjawabkan sesuai dengan undang-undang yang berlaku
Yaitu Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM
Untuk mewujudkan agenda reformasi yang ketiga yang diperjuangkan oleh Wawan dan kawan-kawannya
Yaitu tegakkan supremasi hukum
Bagi saya, warna hitam bukan lambang duka cita tetapi lambang keteguhan
Jangan yang ada hanya korban, tetapi pelakunya tidak ada
Itulah makna lagu Kamis Hindia lengkap dengan liriknya yang menceritakan tentang seorang inisiator Aksi Kamisan yang berjuang mencari keadilan bagi korban pelanggaran HAM di Indonesia. (Msr)
Baca juga: Menilik Makna Lagu Rasa Sayange sebagai Lagu Daerah Maluku
