Mengapa Konflik Antara Kaum Adat dengan Kaum Padri Bisa Dimanfaatkan Belanda?

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Padri merupakan perang besar di wilayah Sumatera Barat, terutama di wilayah Kerajaan Pagaruyung yang berlangsung pada 1803 hingga 1838. Namun mengapa konflik antara kaum Adat dengan kaum Padri bisa dimanfaatkan Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Minangkabau?
Dikutip dari buku Nama dan Kisah Pahlawan Indonesia, Angga Priatna (2013:69), Belanda ternyata melancarkan politik adu domba dengan memanfaatkan konflik yang terjadi antara kaum Adat dan kaum Padri.
Mengapa Konflik Antara Kaum Adat dengan Kaum Padri Bisa Dimanfaatkan Belanda untuk Memperluas Kekuasaannya di Minangkabau? Ini Penjelasannya
Perang Padri pada awalnya merupakan perang saudara antara kaum Padri dengan kaum Adat terkait pertentangan masalah perilaku negatif dari kaum Adat. Pada 1803, pecah perang saudara yang melibatkan orang Minang dan Suku Mandailing.
Dalam pertempuran tersebut, kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan sedangkan kaum Adat dipimpin oleh Yang Dipertuan Agung Sultan Arifin Muningsyah.
Dalam perkembangannya, kaum Adat yang mulai terdesak memilih untuk meminta bantuan Belanda. Sehingga, Perang Padri berubah menjadi perang kolonial.
Namun mengapa konflik antara kaum Adat dengan kaum Padri bisa dimanfaatkan Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Minangkabau? Karena perpecahan tersebut membuat Belanda bisa mendirikan benteng pertahanan.
Pada perang Padri, Belanda menggunakan strategi Benteng Stelsel atau membangun benteng pertahanan dan pos militer guna mempersempit pergerakan musuhnya. Salah satu benteng pertahanan yang dibangun adalah Benteng Van der Capellen di Batusangkar.
Belanda berusaha mengambil hati para penduduk dan melakukan diplomasi kepada kaum Padri supaya tidak terjadi peperangan. Cara Belanda memenangkan hati kaum Padri adalah dengan iming-iming penghapusan pajak di pasar, gaji bagi para juragan dan para pegawai.
Selain itu, Belanda juga berjanji tidak akan berperang dengan kaum Padri. Akan tetapi, strategi ini kurang berhasil karena perlawanan masih terus berjalan.
Setelah membangun benteng di Batusangkar, Belanda yang dipimpin oleh Kapten Goffinet kembali menyerang kaum Padri. Pada tahun yang sama, Belanda kembali gagal menyerang kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh dan kembali ke Batusangkar.
Perang Padri berakhir pada tahun 1838 dengan kemenangan Belanda setelah semua perlawanan rakyat Minangkabau berhasil ditumpas.
Dari pemaparan di atas, dapat dipahami mengapa konflik antara kaum Adat dengan kaum Padri bisa dimanfaatkan Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Minangkabau? Karena Belanda berhasil membangun benteng pertahanan berkat perpecahan tersebut. (EA)
Baca juga: Apa yang Dapat Kalian Lakukan Jika Teman Terlibat Tawuran?
