Mengenal 4 Kemampuan yang Dimiliki Kritikus Seni

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seni adalah cerminan dari keindahan dan kreativitas manusia. Namun, memahami dan menghargai seni tidak semudah itu. Dibutuhkan sebuah kemampuan yang dimiliki kritikus seni yang berperan penting dalam membimbing masyarakat untuk memahami seni secara lebih dalam.
Menurut buku Saksi Kata, Arif Bagus Prasetyo (2021:226), kritikus seni adalah sosok panutan yang pendapatnya diyakini berbobot istimewa dan didengar orang banyak. Kritikus seni biasanya mengkritik seni dalam konteks estetika atau teori keindahan.
Kemampuan yang Dimiliki Kritikus Seni dan Ciri-Cirinya
Kritikus seni tidak hanya menyajikan pendapat subjektif mereka tentang sebuah karya seni, tetapi juga membawa kemampuan-kemampuan khusus yang memungkinkan para kritikus tersebut memandang seni dari berbagai sudut pandang.
Apa saja kemampuan yang dimiliki kritikus berdasarkan fungsinya? Berikut penjelasannya.
1. Kritik Jurnalistik
Jenis kritik ini adalah kritik seni yang mana hasil penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik. Biasanya, melalui media massa, khususnya koran. Hal-hal yang dikritik itu tidak hanya karya seni saja, tetapi juga kegiatan pamerannya.
Karena penyampaiannya melalui media massa, maka akan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni yang dibahas.
Ciri-ciri kritik jurnalistik adalah sebagai berikut.
Ditulis untuk pembaca surat kabar.
Tidak banyak menyita kolom pemberitaan dalam surat kabar.
Waktu penulisan terbatas.
Hanya bersifat sebagai pemberitaan saja.
2. Kritik Populer
Hampir sama dengan kritik jurnalis, bedanya kritik populer bersifat umum sehingga lebih fokus pada pengenalan atau publikasi dari sebuah karya seni. Gaya bahasa yang digunakan pun lebih mudah dipahami oleh orang awam karena memakai istilah-istilah sederhana.
Tak jarang, penulisan kritik populer ini dibuat oleh penulis yang memang tidak memiliki keahlian kritis akan dunia seni.
Ciri-ciri kritik populer adalah sebagai berikut.
Dapat ditulis oleh penulis umum.
Melihat realitas yang tengah berkembang di masyarakat.
Bahasanya mudah dicerna dan lebih sederhana.
3. Kritik Kependidikan (Pedagogik)
Kritik kependidikan alias pedagogik ini merupakan kegiatan kritik yang memang bertujuan untuk meningkatkan kepekaan artistik dan estetika sebagai proses belajar seni.
Biasanya, digunakan di lembaga pendidikan seni, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas karya seni dari para peserta didiknya. Jika diterapkan dalam lembaga pendidikan sekolah umum, maka diselenggarakan pada mata pelajaran seni.
Ciri-ciri kritik kependidikan (pedagogik) adalah sebagai berikut.
Bersifat responsif.
Terdapat acuan standar nilai.
Dilakukan di lingkungan lembaga kependidikan.
Adanya keleluasaan diskusi.
4. Kritik Keilmuan (Ilmiah)
Jenis kritik ini bersifat akademis sehingga membutuhkan wawasan, pengetahuan, kemampuan, dan kepekaan tinggi untuk menilai sebuah karya seni. Biasanya, disampaikan oleh kritikus yang memang telah ahli pada bidang seni dan harus mengikuti metodologi kritik secara akademis.
Nantinya, hasil kritik keilmuan ini dijadikan referensi bagi para kolektor atau kurator institusi seni, misalnya yang ada di galeri, museum, dan balai lelang.
Ciri-ciri kritik keilmuan adalah sebagai berikut.
Menerapkan metodologi atau kaidah-kaidah tertentu dalam mengkritik.
Hasilnya tidak bersifat mutlak.
Bersifat ilmiah.
Dikembangkan oleh peneliti secara netral dan adil.
Baca juga: Mengenal Pengertian Wiraga, Wirama dan Wirasa beserta Penjelasannya dalam Seni
Kemampuan yang dimiliki kritikus seni ini memainkan peran penting dalam menghubungkan seniman dengan audiens. Para kritikus membantu membuka jendela ke dunia seni, memungkinkan orang untuk lebih memahami, menghargai, dan merespons karya seni dengan cara yang mendalam dan bermakna. (VAN)
