Mengenal 6 Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Ragam Info
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan sekolah, masyarakat maupun pribadi. Hal ini membuat indikator berpikir kritis menjadi hal yang penting untuk dipahami.
Istilah berpikir kritis merupakan proses mencari, menganalisis, mensintesis dan konseptualisasi informasi untuk mengembangkan pemikiran seseorang, menambah kreativitas dan mengambil risiko. Umumnya, kemampuan berpikir kritis pada siswa dapat dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat.
Indikator Berpikir Kritis pada Siswa yang Penting untuk Diketahui
Dikutip dari buku Model Problem Mind Mapping Based Learning (PMMBL) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar oleh Lita Ariyanti, M.Pd., dkk. (2024), indikator keterampilan berpikir kritis merupakan tolak ukur dalam berpikir kritis yang ditunjukkan peserta didik melalui komponen-komponen yang sudah ditentukan.
Pada umumnya indikator berpikir kritis disusun secara sistematis untuk membangun pengetahuan peserta didik selama proses pembelajaran.
Pengukuran keterampilan berpikir kritis menggunakan penjabaran yang terdiri dari beberapa indikator. Facione sendiri mengungkapkan bahwa indikator berpikir kritis meliputi interpretasi, analisis, inferensia, evaluasi, eksplanasi dan regulasi diri.
Berikut ini informasi lengkap mengenai indikator berpikir kritis yang dikemukakan oleh Facione.
Interpretasi merupakan kemampuan untuk memahami dan menjelaskan makna atau signifikansi dari berbagai macam pengalaman, situasi, data, peristiwa, penilaian, konvensi, kepercayaan, aturan, prosedur atau kriteria.
Analisis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi hubungan dari berbagai pernyataan, konsep, deskripsi, atau bentuk representasi lain yang dimaksudkan untuk mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi atau pendapat.
Evaluasi berarti menilai kredibilitas pernyataan.
Inferensia bermakna mengidentifikasi dan mengamankan elemen yang dibutuhkan untuk membuat kesimpulan yang masuk akal.
Eksplanasi atau menjelaskan bermakna mampu mempresentasikan penalaran secara meyakinkan dan koheren.
Regulasi diri bermakna kesadaran diri untuk memantau aktivitas kognitif, elemen yang digunakan dalam aktivitas tersebut dan hasil yang dihasilkan, khususnya dengan menerapkan keterampilan dalam analisis, dan evaluasi terhadap penilaian inferensial seseorang dengan maksud untuk mempertanyakan, mengkonfirmasi, memvalidasi, atau mengoreksi alasan seseorang.
Secara umum, ada beberapa ahli yang menyampaikan indikator berpikir kritis. Pemilihan indikator keterampilan berpikir kritis menjadi hal yang harus diperhatikan oleh siswa karena bisa membantu dalam merepresentasikan konsep berpikir kritis yang logis, di mana kelogisan itu dapat dilihat dari prosedur-prosedur yang dilakukan sebelum mencapai indikator strategi dan taktik. (NTA)
Baca juga: 6 Contoh Pertanyaan Tentang Berpikir Kritis
