Mengenal Asesmen Diagnostik Non Kognitif yang Perlu Diketahui Pendidik

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemahaman mengenai asesmen diagnostik non kognitif menjadi aspek krusial yang perlu didalami. Dengan ini, guru dapat lebih menguasai ragam metode penilaian secara efektif.
Asesmen non kognitif merupakan salah satu sistem evaluasi dalam Kurikulum Merdeka. Metode tersebut dapat diimplementasikan di setiap jenjang pendidikan. Baik untuk sekolah tingkat dasar maupun menengah.
Mengenal Asesmen Diagnostik Non Kognitif yang Patut Diketahui Pendidik
Mengutip buku Asesmen Diagnostik Pendukung Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka, Ika Maryani, dkk, (2023: 10), asesmen diagnostik non kognitif merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologi, emosional, dan sosial siswa.
Metode ini bertujuan untuk mengenali keadaan personal peserta didik secara menyeluruh. Karena itu, adanya asesmen non kognitif dianggap sangat memengaruhi capaian pembelajaran peserta didik.
Dalam penerapannya, terdapat beberapa tahapan yang perlu ditempuh oleh pengajar. Setiap alur asesmen patut dilalui dengan sesuai dan terstruktur.
Agar lebih jelasnya, inilah langkah asesmen diagnostik non kognitif yang dapat dijadikan sebagai panduan.
1. Persiapan
Persiapan merupakan langkah awal dalam penilaian diagnostik non kognitif. Tahap ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Pendidik mempersiapkan instrumen berupa gambar ekspresi emosi.
Buat daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam kegiatan asesmen.
Beberapa contoh soal yang dapat digunakan, antara lain "Kegiatan apa saja yang mendukung semangat belaja saat berada di rumah?" atau "Apa saja hal menyenangkan dan tidak menyenangkan yang terjadi selama belajar di rumah?"
2. Pelaksanaan
Berikut metode pelaksanaan asesmen non kognitif yang bisa digunakan sebagai acuan.
Guru memberikan gambar emoticon (ekspresi emosi) kepada peserta didik.
Pendidik meminta siswa untuk menunjukkan ekspresi perasaan selama belajar di rumah.
Ungkapan ekspresi bisa disampaikan secara lisan, tulisan, maupun gambar.
3. Tindak Lanjut
Setelah pelaksanaan asesmen, guru perlu mengadakan fase tindak lanjut. Tahap yang bisa diterapkan, meliputi
Identifikasi siswa yang menunjukkan ekspresi diri dengan gambar emosi negatif. Kemudian, ajak murid untuk berdiskusi secara personal.
Tentukan tindak lanjut untuk membantu persoalan siswa secara tepat.
Komunikasikan permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik kepada orang tua.
Pendidik mengulang kembali asesmen diagnostik non kognitif pada awal pembelajaran.
Itulah penjelasan mengenai asesmen diagnostik non kognitif yang bisa dicermati. Setelah memahaminya, pendidik akan mampu menilai secara tepat dan komprehensif. (Riyana)
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 21 Untuk Pembelajaran
