Mengenal Masa Food Gathering dan Perbedaannya dengan Food Producing

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Food gathering adalah cara manusia prasejarah bertahan hidup pada zaman Batu Tua (Paleolithikum). Dikutip dari buku Be Smart Ilmu Pengetahuan Sosial, Mila Saraswati dan Ida Widaningsih (2008:11), pada masa food gathering, manusia mencari makanan dari alam dengan cara mengambil hasil hutan dan berburu binatang.
Lain halnya dengan masa food producing, yaitu periode ketika manusia mulai mampu mengolah makanan. Periode ini sama dengan masa bercocok tanam dan Zaman Neolitikum. Makanya, sering disebut sebagai masa revolusi kebudayaan atau Revolusi Neolitik.
Perbedaan Keadaan Alam dan Ciri Kehidupan pada Masa Food Gathering dan Food Producing
Masa food gathering dan food producing memiliki perbedaan baik dari keadaan alam maupun ciri kehidupan masyarakatnya sebagai berikut.
1. Keadaan Pada Masa Food Gathering
Bumi pada masa food gathering masih belum stabil, sebab perubahan iklim mengakibatkan permukaan bumi masih sering mengalami perubahan.
Jenis tanaman tumbuhan yang dijadikan sebagai bahan makanan manusia purba pada masa itu berupa umbi-umbian, buah, dan sayur-sayuran.
Hewan-hewan yang berpindah dari daratan Asia menuju kepulauan Indonesia dan dapat diidentifikasi sudah hidup masa zaman berburu dan meramu. Contohnya seperti wauwau, gibbon, tapir, beruang Malaya, lembu purba, gajah purba, dan harimau.
Kehidupan masyarakat manusia purba yang mendominasi pada masa food gathering atau zaman berburu dan meramu sederhana adalah jenis Pithecanthropus erectus. Mereka masih berpindah-pindah dan tinggal di gua-gua, berkelompok sekitar 20-30 orang.
Alat-alat kehidupan yang digunakan masih sangat sederhana. Biasanya, terbuat dari batu dan tulang. Alat berburu pada masa food gathering contohnya kapak perimbas, alat-alat serpih untuk penusuk, kapak genggam untuk menggali ubi dan memotong daging binatang buruan.
2. Keadaan Pada Masa Food Producing
Masyarakatnya mulai bisa bercocok tanam dengan membuka hutan, kemudian menanam sayur dan buah untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Tanaman yang dikembangkan misalnya keladi, ubi, sukun, pisang, gandum, padi, kentang, jagung, kedelai, dan buah.
Masyarakatnya bisa beternak dan menjinakkan hewan. Binatang buruan yang ditangkap tidak semuanya dikonsumsi. Namun, ada yang dijinakkan untuk dipelihara dan ada yang diternak.
Masyarakat pada masa food producing hidup menetap dan berkelompok membentuk perkampungan kecil.
Mereka membuat rumah panggung dan tidak lagi memanfaatkan gua-gua sebagai tempat tinggal.
Mulai mengenal sistem barter untuk memenuhi kebutuhan hidup. Barter merupakan bentuk awal perdagangan yang memfasilitasi pertukaran barang dan jasa ketika manusia belum mengenal uang. Barang yang dipertukarkan dari hasil bercocok tanam.
Peralatan dari batu sudah diasah dan dihias, contohnya beliung, kapak lonjong, mata panah, dan mata tombak.
Mulai membuat dan mengenakan pakaian dari kulit kayu atau kulit binatang. Selain itu juga mulai membuat dan menggunakan gerabah.
Menganut kepercayaan akan hal gaib dan orang yang meninggal akan memasuki alam lain. Kepercayaan pada masa bercocok tanam dibagi dalam dua aliran, yaitu animisme (kepercayaan pada roh leluhur) dan dinamisme (kepercayaan pada benda gaib).
Baca juga: Pembagian 4 Zaman Batu di Masa Prasejarah
Perkembangan di masa food producing dari masa food gathering adalah revolusi kehidupan dan budaya manusia pada zaman prasejarah. Hingga saat ini manusia terus berkembang, dengan meningkatnya ilmu pengetahuan yang dimiliki dari masa ke masa. (SR)
