Konten dari Pengguna

Mengenal Nilai Sosial dalam Hikayat dan Contohnya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi nilai sosial dalam hikayat. Sumber foto: Pixabay/Ri_Ya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nilai sosial dalam hikayat. Sumber foto: Pixabay/Ri_Ya

Hikayat termasuk jenis karya sastra lama yang memuat beragam pesan kehidupan. Salah satu nilai yang dapat dipelajari yaitu berupa nilai sosial. Dengan demikian, nilai sosial dalam hikayat mampu memberikan nasihat moral dan sudut pandang baru bagi pembaca.

Hikayat memiliki karakteristik yang mudah untuk diidentifikasi. Dalam hal ini, teks hikayat umumnya tidak dikenali nama penulisnya (anonim) dan mengandung aspek edukasi.

Nilai Sosial dalam Hikayat beserta Contohnya

Ilustrasi nilai sosial dalam hikayat. Sumber foto: Pixabay/josealbafotos

Berdasarkan buku CCM Cara Cepat Menguasai Bahasa Indonesia SMA dan MA Rangkuman Bahasa Indonesia SMA MA SBMPTN, Tomi Rianto, (2019: 31), hikayat ialah teks berbentuk prosa yang bersifat statis (kaku dan tetap). Pada dasarnya, hikayat memuat unsur-unsur pembangun dan nilai yang mendasari latar belakang suatu cerita. Adapun salah satu strukturnya yaitu berupa nilai sosial.

Nilai sosial dalam hikayat merupakan nilai yang berkaitan dengan kehidupan sosial atau sesama. Hal ini umumnya memuat pesan dan nasihat-nasihat yang dapat diteladani. Misalnya budaya tolong menolong, tanggung jawab, kerja keras, serta keadilan.

Biasanya nilai sosial pada hikayat disampaikan secara tersirat. Meskipun begitu, pembaca dapat mempelajari nilai positif tersebut setelah membaca keseluruhan isi teks cerita. Selanjutnya, makna yang terkandung di dalamnya dapat dengan mudah disimpulkan.

Agar semakin memahaminya, contoh teks hikayat yang sarat akan nilai sosial adalah sebagai berikut sebagaimana dikutip dari buku Mengenal Sastra Lama, Eko Sugianto, (2015: 198-199).

Hikayat Hang Tuah

Asal muasal raja-raja di Malaka atau Melayu. Seorang raja keinderaan (kayangan) Sang Pertala Dewa, akan mempunyai seorang anak. Anak ini akan menjadi raja di Bukit Seguntang. Keturunan-keturunan sang dewa inilah dengan segala kemuliaan yang dimiliki kemudian menjadi raja-raja di tanah Melayu.

Hang Mahmud dan Hang Merduwati adalah kedua orang tua Hang Tuah. Mereka berasal dari orang kebanyakan (rakyat jelata) dan tinggal di Sungai Duyung. Mereka hidup sederhana, tetapi bahagia. Suatu ketika, Hang Mahmud bermimpi. Dalam mimpi dia melihat bulan dalam lautan cahaya jatuh di kepala anaknya. Karena kesulitan hidup, mereka meninggalkan kampung halaman dan menetap di Bentan.

Hang Tuah memiliki sahabat-sahabat yang pemberani. Mereka adalah Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Suatu ketika, kelima sahabat ini berlayar bersama. Dalam pelayaran itu mereka bertemu perampok. Pertempuran pun tak dapat dihindarkan. Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya menang.

Kabar tentang keberanian Hang Tuah dan para sahabatnya sampai ke telinga Paduka Raja. Beliau memuji keberanian kelima sahabat ini sambil mengucapkan terima kasih.

Sekali waktu ada orang mengamuk di depan rumah Hang Tuah. Orang yang mengamuk ini dikalahkan Hang Tuah.

Suatu ketika, lagi-lagi ada orang mengamuk. Di tempat orang mengamuk ini ada bendahara. Hang Tuah dan para sahabatnya menyelamatkan Bendahara dari amukan orang tersebut.

Kelima sahabat ini mendapat hadiah dari Bendahara. Kelimanya disayangi oleh Bendahara, terutama Hang Tuah. Mereka dijadikan teman bermain putra Bendahara.

Berita ini sampai kepada Paduka Raja. Hang Tuah dan para sahabatnya dibawa oleh Bendahara menghadap Paduka Raja di istana. Kelimanya diangkat menjadi hamba raja. Paduka Raja sangat menyayangi kelimanya, terutama Hang Tuah. Hang Tuah diberi keris panjang.

Nilai sosial: Hang Tuah dan para sahabatnya memiliki keberanian dan saling bekerjasama untuk melawan kawanan perampok.

Nilai sosial dalam hikayat dapat memberikan pesan yang bermakna. Adanya informasi ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman dan wawasan pembaca dalam mengenali ragam unsur teks Bahasa Indonesia. (Riyana)

Baca Juga: 2 Unsur Ekstrinsik Teks Cerita Sejarah