Mengenal Perkembangan Pemerintahan pada Kerajaan Mataram Kuno

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan pemerintahan pada kerajaan Mataram Kuno tercatat sebagai bagian dari sejarah kerajaan yang pernah ada di Indonesia. Kerajaan Mataram Kuno berlokasi di Jawa Tengah, tepatnya di wilayah aliran Sungai Bogowonto, Progo Elo, dan Bengawan Solo.
Mataram Kuno sebenarnya hanya istilah untuk membedakan dua kerajaan yang namanya sama-sama mataram. Adapun Mataram Kuno merujuk pada Kerajaan Mataram di bawah pengaruh Hindu dan Budha.
Perkembangan Pemerintahan pada Kerajaan Mataram Kuno
Dikutip dari buku Kehidupan Masyarakat pada Masa Praaksara, Masa Hindu Budha, dan Masa Islam, Tri Worosetyaningsih (2019:72-74), terdapat beberapa pemerintahan yang pernah berlangsung di Kerajaan Mataram Kuno. Berikut penjelasannya.
1. Pemerintahan Raja Sanjaya
Raja Sanjaya merupakan raja yang cukup terkenal di Kerajaan Mataram. Kekuasaannya dimulai sejak tahun 717 hingga 780 Masehi.
Raja Sanjaya adalah anak dari Sanaha, saudara perempuan dari Raja Sanna, penguasa Kerajaan Mataram sebelum Raja Sanjaya. Di bawah kekuasaan Raja Sanjaya, ia berhasil menaklukkan beberapa kerajaan kecil yang melepaskan diri saat pemerintahan Raja Sanna.
Raja Sanjaya juga merupakan seorang raja yang memperhatikan perkembangan agama Hindu. Ini dibuktikan dengan pendirian bangunan suci berupa lingga yang berada di atas Gunung Wukur, Kabupaten Magelang, yang dibangun pada tahun 732 Masehi.
Perhatian Raja Sanjaya yang besar terhadap keagamaan menunjukkan bahwa rakyat Mataram merupakan rakyat yang taat beragama.
2. Pemerintahan Rakai Panangkaran
Setelah Raja Sanjaya, tahta digantikan oleh putranya yang bernama Rakai Panangkaran. Pada masa pemerintahannya, bukan hanya agama Hindu saja yang berkembang, tetapi juga agama Buddha.
Karena hal tersebut, Raja Panangkaran mendirikan berbagai bangunan suci agama Buddha. Salah satu buktinya adalah Candi Kalasan yang kini berada di Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
Pada masa Panungkaran, kekuasaan Mataram semakin bertambah luas. Hal ini terlihat dari perpindahan pusat kerajaan ke daerah Yogyakarta.
3. Perpecahan Dinasti Syailendra
Setelah kekuasaan Raja Panangkaran berakhir, kerajaan Mataram yang selama ini dikuasai oleh keluarga Dinasti Syailendra mulai mengalami perpecahan karena adanya masalah perbedaan agama.
Perkembangan agama Hindu saat masa pemerintahan Sanjaya dan agama Buddha pada masa pemerintahan Panungkaran membuat terjadinya perselisihan di keluarga dinasti Syailendra hingga membagi wilayah Mataram menjadi dua.
Keluarga yang menganut agama Hindu mengembangkan kekuasaannya di daerah Jawa Tengah bagian utara. Sementara keluarga yang beragama Buddha berkuasa di daerah Jawa Tengah bagian selatan.
Hal ini membuat bangunan candi di Jawa Tengah bagian utara lebih dominan bercorak Hindu, seperti Candi Dieng dan kompleks Candi Gedongsongo.
Sedangkan bangunan candi di Jawa Tengah bagian selatan lebih banyak bercorak Buddha, seperti Candi Mendut dan Candi Borobudur.
Setelah adanya percobaan persatuan dari kedua keluarga Mataram hingga digantikan oleh beberapa raja, kerajaan Mataram mengalami kemunduran.
Faktor terbesarnya berasal dari semakin berkembangnya Kerajaan Sriwijaya dan adanya letusan Gunung Merapi pada awal abad XI.
Baca juga: Mengenal Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan beserta Sejarah Singkatnya
Demikian penjelasan mengenai perkembangan pemerintahan pada kerajaan Mataram kuno. Semoga ulasan ini dapat meningkatkan pengetahuan seputar sejarah kerajaan di Indonesia. (YAS)
