Konten dari Pengguna

Mengenal Rencana Pembelajaran Berdasarkan Experiential Learning di SD

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Rencana Pembelajaran Berdasarkan Experiential Learning di SD. Sumber: pixabay/ jashmingg
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rencana Pembelajaran Berdasarkan Experiential Learning di SD. Sumber: pixabay/ jashmingg

Rencana pembelajaran berdasarkan experiential learning di SD berfokus pada pembelajaran melalui pengalaman. Maksudnya para siswa akan diajak belajar dengan secara langsung terlibat pada tema pembelajaran sehingga menambah pengalamannya.

Siswa SD yang mayoritas berada di kelompok usia anak-anak paling cocok belajar dengan metode experiental learning. Hal itu disebabkan oleh anak-anak cenderung lebih mudah memahami konsep melalui kegiatan nyata dibandingkan dengan penjelasan teoritis.

Rencana Pembelajaran Berdasarkan Experiential Learning di SD

Ilustrasi Rencana Pembelajaran Berdasarkan Experiential Learning di SD. Sumber: pixabay/ preschoolinhsrlayout

Dikutip dari Mengintegrasikan Experiential Learning dalam Kurikulum Pelatihan Kompetensi Digital Guru Sekolah Dasar oleh Dr. Aah Ahmad Syahid, M.Pd., Prof. Dr. Asep Herry Hernawan, M.Pd., Dr. Laksmi Dewi, M.Pd., Detak Pustaka (2025:74), experiential learning berasal dari kata ecperiri yang dalam bahasa Latin yang memiliki arti mencoba. Sedangkan istilah pembelajaran berkaitan erat dengan perubahan dalam diri seseorang yang dihasilkan dari perolehan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berasal dari pengalaman.

Rencana pembelajaran berbasis experiential learning di SD melibatkan kegiatan-kegiatan yang membuat siswa aktif terlibat secara fisik dan emosional dalam proses belajar.

Contohnya, dalam pembelajaran IPA tentang siklus air, guru dapat merancang kegiatan simulasi sederhana. Pertama, siswa melakukan eksperimen membuat miniatur siklus air menggunakan wadah transparan, air, dan plastik bening (tahap pengalaman konkret).

Setelah itu, siswa diminta mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi (tahap refleksi). Selanjutnya, guru mengarahkan diskusi untuk membantu siswa menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep ilmiah siklus air (tahap konseptualisasi abstrak). Terakhir, siswa diminta membuat model atau presentasi tentang siklus air yang menunjukkan pemahaman mereka (tahap eksperimen aktif).

Contoh lainnya dalam mata pelajaran PPKn, siswa dapat diajak bermain peran sebagai anggota masyarakat dalam sebuah musyawarah kelas. Siswa akan mengalami langsung proses pengambilan keputusan bersama, yang kemudian didiskusikan dan dianalisis untuk memahami nilai demokrasi.

Manfaat experiential learning bagi siswa SD sangat besar, antara lain meningkatkan daya ingat, mendorong keterampilan berpikir kritis, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab. Pembelajaran ini juga memungkinkan siswa untuk belajar dari kesalahan dan mengembangkan solusi secara mandiri.

Rencana pembelajaran berdasarkan experiential learning di SD sangat bagus dan efektif. Dengan menyusun rencana pembelajaran yang mengintegrasikan experiential learning, guru dapat menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan menyenangkan, sekaligus membekali siswa dengan keterampilan belajar siswa. (IMA)

Baca juga: Mengenal Konsep Belajar Meaningful Learning dan Penerapannya