Konten dari Pengguna

Penanggulangan Gunung Meletus untuk Mengurangi Risiko

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penanggulangan gunung meletus. Sumber: unsplash.com/YoshGinsu.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penanggulangan gunung meletus. Sumber: unsplash.com/YoshGinsu.

Penanggulangan gunung meletus melalui edukasi mitigasi bencana terus diberikan kepada masyarakat. Berbagai cara dilakukan agar masyarakat mudah memahami pentingnya mitigasi, mulai dari artikel, infografik, konten ringan hingga video detail.

Pemerintah sudah melakukan berbagai langkah peringatan dini, namun tidak ada yang tahu kapan tepatnya gunung akan meletus. Dengan edukasi yang memadai, risiko dapat dikurangi karena masyarakat mengerti apa yang harus dilakukan.

Penanggulangan Gunung Meletus

Ilustrasi penanggulangan gunung meletus. Sumber: unsplash.com/StefanoStanasi.

Letusan gunung berapi merupakan bencana geologi yang sering mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Muntahan lava panas, awan panas, gas beracun, abu dan lontaran material gunung berapi sulit dihindari.

Meski DVMBG (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah melakukan pengawasan dan penetapan status suatu gunung berapi, namun tidak dapat memastikan kapan gunung meletus. Tindakan tersebut dilakukan agar masyarakat mempersiapkan diri.

Berikut adalah beberapa upaya penanggulangan gunung meletus untuk mengurangi risiko jatuhnya korban dan kerugian, yang dikutip dari Mitigasi Bencana, Ismail Suardi Wekke (2021:17).

1. Pemantauan Aktivitas Gunung Berapi 24 Jam

Pemantauan aktivitas gunung berapi menghasilkan laporan rutin dan laporan khusus jika ada tanda-tanda aktivitas. Masyarakat wajib mematuhi instruksi dari DVMBG.

Sedangkan tingkatan status gunung berapi adalah sebagai berikut:

  1. Normal (Level I), berupa aktivitas biasa.

  2. Waspada (Level II), yaitu karena ada peningkatan aktivitas di atas normal.

  3. Siaga (Level III), yaitu gunung berapi bergerak ke arah letusan. Persiapan dan koordinasi dengan warga dilakukan setiap hari.

  4. Awas (Level IV), yaitu gunung berapi akan atau sedang meletus. Ada perintah pengosongan untuk radius tertentu.

2. Penetapan Status Tanggap Darurat

Status tanggap darurat mengikuti status awas, apalagi jika sudah ada letusan pembukaan. Tim Tanggap Darurat terjun ke lokasi untuk melakukan koordinasi.

3. Melakukan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana

Pemetaan ini akan menghasilkan peta daerah rawan bencana, potensi bahaya yang dihadapi, rute evakuasi yang aman, titik pengungsian dan tempat yang pas untuk pendirian pos penanggulangan bencana.

4. Penyelidikan Gunung Berapi

Penyelidikan gunung berapi menggunakan ilmu geologi, geofisika dan geokimia. Hasil penyelidikan ini didokumentasikan dan dibukukan sebagai tambahan informasi dan pengetahuan untuk semua pihak karena Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif.

5. Sosialisasi di Sekitar Gunung Berapi

Sosialisasi harus dilakukan secara rutin meski bukan masa tanggap darurat terkait status gunung di sekitar, pentingnya safety kit dan alat komunikasi darurat, rute penyelamatan diri dan sebagainya.

Baca juga: Mengenal Penyebab Gunung Meletus beserta Penjelasannya

Penanggulangan gunung meletus merupakan pekerjaan besar karena menyangkut banyak manusia, daerah yang luas, serta aset warga dan pemerintah. Semua pihak harus mendukung upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat. (lus)