Rangkuman Materi Seni Budaya Kelas 10 Semester 1

Ragam Info
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada kelas 10 semester 1, pembelajaran seni budaya mencakup dasar konsep yang dapat mengembangkan pengetahuan di bidang seni. Adapun materi seni budaya kelas 10 semester 1 yang dipelajari di antaranya yaitu mengenai seni rupa, musik, tari, dan teater/lakon.
Mata pelajaran seni budaya memiliki peranan penting bagi siswa. Melalui materi ini siswa dapat lebih mengembangkan kreativitas dan pemahaman budaya secara lebih mendalam.
Materi Seni Budaya Kelas 10 Semester 1
Materi Seni Budaya kelas 10 semester 1 terdiri atas 8 bab utama. Masing-masing bab memiliki beberapa topik pembahasan dan kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh setiap siswa.
Maka dari itu, agar semakin memahami pelajaran tersebut, berikut materi seni budaya kelas 10 semester 1 beserta penjelasannya dikutip dari buku Seni Budaya untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Semester 1, Zackaria Soetedja, dkk, (2017:1-214).
1. Bab 1: Berkarya Seni Rupa Dua Dimensi (2D)
Karya seni rupa memiliki bentuk dan fungsi yang beraneka ragam. Berdasarkan dimensinya kita mengenal karya seni rupa dua dan tiga dimensi.
Karya dua dimensi terwujud dari berbagai bahan dan medium yang beraneka ragam. Karakter unik dari masing-masing bahan dan medium ini membutuhkan berbagai alat dan teknik pengolahan serta penggarapan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut.
Bahan dan medium yang digunakan untuk berkarya seni rupa dua dimensi dapat berupa bahan alami atau bahan sintetis.
Keindahan karya seni rupa tampak secara visual dari bentuk dan objek. Pada karya seni rupa tersebut, unsur-unsur rupa (unsur isik) disusun menggunakan prinsip-prinsip penataan (unsur nonisik) membentuk komposisi objek gambar atau lukisan yang unik dan menarik.
Objek pada karya seni rupa dua dimensi dapat berwujud abstrak atau menyerupai kenyataan yang ada di sekitar. Makhluk hidup dan benda mati dapat digunakan sebagai model objek berkarya seni rupa dua dimensi.
Melalui serangkaian tahapan dalam proses berkarya seni rupa dua dimensi akan terwujud karya seni rupa dua dimensi yang unik dan menarik.
Untuk terampil berkarya seni rupa tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi yang terutama oleh latihan dan kesungguhan dalam berkarya.
2. Bab 2: Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi (3D)
Karya tiga dimensi terwujud dari bahan yang beraneka ragam. Karakter unik dari masing-masing bahan ini membutuhkan berbagai alat dan teknik pengolahan serta penggarapan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut.
Bahan yang digunakan untuk berkarya seni rupa tiga dimensi dapat berupa bahan alami atau bahan sintetis.
Karya seni rupa tiga dimensi ada yang berfungsi sebagai benda pakai yang biasa disebut karya seni terapan (applied art) dan ada yang dibuat dengan tujuan ekspresi semata yang biasa disebut seni murni (pure art).
Nilai estetis karya seni rupa tiga dimensi tampak secara visual dari wujud karya seni rupa tersebut.
Nilai estetis karya seni rupa bersifat objektif dan subjektif. Nilai objektif terdapat pada karya seni rupa itu sendiri sedangkan nilai subjektif berada pada penikmatnya.
Karya seni rupa ada yang memiliki makna simbolik. Unsur-unsur rupa yang terdapat pada karya seni rupa tiga dimensi dapat menunjukkan atau menjadi simbol dari sesuatu.
Berkarya seni rupa tiga dimensi dimulai dengan mencari ide gagasan atau model karya yang akan dibuat. Kegiatan ini dapat didahului dengan membuat rancangan berupa sketsa, dilanjutkan dengan memilih medium (bahan, alat dan taknik) yang akan digunakan.
Alasan-alasan pemilihan gagasan, model hingga teknik berkarya dapat disebut sebagai konsep berkarya seni rupa.
3. Bab 3: Musik Tradisional
Musik merupakan salah satu bentuk kebutuhan ekspresif manusia. Sebagai kebutuhan ekspresif, musik digunakan manusia untuk mengekspresikan gagasan atau ide melalui bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh beragam media atau instrumen yang ada di lingkungan sekitar, baik instrumen bernada atau tidak bernada (perkusif).
Kemampuan manusia dalam mengekspresikan gagasan atau ide mereka melalui bunyi yang dihasilkan oleh instrumen-instrumen musik tidak dapat terlepas dari tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Sebagai kebutuhan ekspresif, aktivitas musik dilakukan oleh setiap kelompok manusia di seluruh dunia, timur dan barat. Hal tersebut disebabkan masing-masing kelompok manusia hidup dalam lingkungan berbeda maka instrumen dan produksi bunyi yang dihasilkan pun berbeda.
Perbedaan pada bentuk instrumen dan bunyi musik yang dihasilkan menyebabkan instrumen dan musik dapat mengandung makna tertentu sehingga musik dan instrumen musik dapat dipandang sebagai simbol.
Sebagai simbol, musik dan instrumen musik memiliki nilai keindahan atau estetika tersendiri bagi masyarakat pendukungnya.
Nilai-nilai keindahan musik pada satu masyarakat berbeda dari masyarakat lainnya yang bergantung pada nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat.
Sebagai kebutuhan ekspresif, musik memiliki beberapa fungsi dalam masyarakat. Musik seringkali digunakan manusia dalam acara hiburan atau bahkan ritual keagamaan.
Sebagai hiburan, musik berfungsi untuk menghibur atau menyenangkan pendengar, sedangkan fungsi musik sebagai ritual sangat berkaitan dengan nilai-nilai kepercayaan atau agama yang diyakini oleh anggota masyarakat yang memiliki musik itu.
4. Bab 4: Pertunjukkan Musik dalam Permainan Musik
Pertunjukan sebuah karya seni, baik pertunjukan musik, tari, rupa, ataupun kolaborasi dari ketiga bidang seni itu, mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan karya seni dapat memberikan sebagian dari kebutuhan dasar hidup manusia.
Pertunjukan musik dapat difungsikan sebagai media upacara, media hiburan, media komunikasi, media keagamaan, media sosial, media pendidikan, media berekspresi dan berkreasi.
Dampak dari fungsi tersebut, pertunjukan seni musik dapat mengukur kompetensi dan merubah baik aspek kognisi maupun afeksi para apresiatornya.
Kolaborasi seni diharapkan dapat digunakan untuk menghadirkan gagasan dan ide para peserta didik dalam berkesenian, sebagai media hiburan, memperindah, merencanakan, menata karya-karya seni yang fungsional dan ekspresi kolaborasi seni.
Kolaborasi musik dan gerak tubuh memperlihatkan keterkaitan yang erat di antara keduanya.
Kolaborasi seni dapat dipandang sebagai suatu aktivitas yang tidak hanya melatih ‘rasa’ (feeling) para peserta didik, tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir secara logis pada peserta didik.
5. Bab 5: Gerak Dasar Tari
Setiap etnis di Indonesia memiliki gerak dasar tari berbeda. Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan gerak adalah faktor sosial.
Gerak tari dapat dilakukan secara baik dan benar jika teknik dan prosedur sesuai dengan ketentuan yang berlaku dari mana gerak tari itu berasal.
Gerak pada tari tradisi sering memiliki standar atau aturan baku yang harus dilakukan.
Orang penari dapat melakukan teknik dan prosedur gerak tari tradisi dengan baik jika dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.
6. Bab 6: Bentuk, Jenis dan Nilai Estetis Gerak Tari
Setiap tari memiliki ragam gerak dasar yang dirangkai menjadi sebuah tarian.
Gerak dasar tari memiliki aspek pada sikap gerak kepala, tangan, badan atau kaki. Gerak dan sikap yang dilakukan dengan tepat akan melahirkan rasa dalam melakukannya.
Teknik dalam melakukan gerak yang tepat akan terlihat pantas dalam rangkaian tari tertentu.
Setiap tarian memiliki simbol dan jenis ragam gerak dasar untuk menjadikan ciri khas gerak pada tarian tersebut. Sehingga tarian tersebut memiliki nilai estetis yang tinggi untuk dapat dinikmati oleh penonton.
Ragam gerak dasar yang berbeda antara tarian satu dengan yang lainnya akan menjadi ciri khas tersendiri, menghargai perbedaan tersebut dan mensyukurinya bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan suku dan bangsa yang berbeda-beda.
7. Bab 7: Seni peran
Ragam seni peran dalam pementasan teater tradisional, dapat dibedakan dalam gaya; komikal, realistik dan, agung.
Unsur seni peran meliputi ekspresi tubuh, ekspresi wajah, ekspresi suara, ekspresi irama permainan seni peran, penghayatan peran, kostum (rias, busana, dan aksesoris) dan peralatan (handprop) pemain.
Teknik dasar seni peran meliputi; olah tubuh, olah suara, dan olah rasa/ sukma.
Kreativitas seni peran dalam seni teater dapat dilakukan dengan langkah-langkah atau prosedur, meliputi memilih dan menentukan lakon, membaca lakon (reading), pembagian peran (casting peran), dsb.
8. Bab 8: Menyusun Naskah lakon
Hakikat lakon adalah hakikat tentang kehidupan. Dimana kehidupan yang dihadapi, dialami dan terjadi dijadikan sebagai sumber gagasan lakon dalam memaknai hidup agar lebih gairah, indah dan bermanfaat bagi kemaslahatan orang lain salah satunya melalui pementasan teater.
Berdasarkan jumlah babak, lakon dapat kita bedakan menjadi dua jenis lakon, yakni, lakon panjang dan lakon pendek
Lakon teater atau pun drama panggung pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam bentuk lakon, yakni tragedi, komedi, tragedi komedi dan melodrama.
Unsur-unsur yang dimaksud adalah alur, tema, tokoh, karakter, setting dan sudut pandang masyarakat atau pengarang selaku pemilik lakon.
Menulis atau menyusun naskah lakon, dengan teknik; menterjemahkan, mengadaptasi, dan menyadur untuk pementasan teater, bermula dari ketertarikan kamu pada sumber bacaan berupa lakon.
Materi seni budaya kelas 10 semester 1 di atas memberikan dasar pemahaman bagi siswa. Dengan mempelajari pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga keterampilan. Selamat belajar! (Riyana)
Baca Juga: Kumpulan Materi Seni Budaya Kelas 7 Semester 1 Kurikulum Merdeka
