Rumus Uji Validitas dan Pengertiannya

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumus uji validitas dapat ditemui dalam pengukuran sebuah data hasil penelitian. Uji validitas dilakukan untuk mengukur apakah data yang telah didapat setelah penelitian merupakan data yang valid atau tidak, dengan menggunakan alat ukur yang digunakan (kuesioner).
Umumnya, uji validitas dilakukan sebelum dilakukan uji reliabilitas data. Hal ini dikarenakan data yang akan diukur harus valid, dan baru dilanjutkan dengan uji reliabilitas data. Namun, apabila data yang diukur tidak valid, maka tidak perlu dilakukan uji reliabilitas data.
Pengertian Uji Validitas
Uji validitas adalah uji ketepatan atau ketelitian suatu alat ukur dalam mengukur apa yang sedang ingin diukur. Uji ini bertujuan untuk menilai apakah seperangkat alat ukur sudah tepat mengukur apa yang seharusnya diukur.
Dikutip dalam buku Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian Di Bidang Manajemen, Teknik, Pendidikan Dan Eksperimen, Slamet Riyanto, Aglis Andhita Hatmawan (2020:63), validitas merupakan suatu ukuran yang menujukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen penelitian.
Pengujian validitas mengacu pada sejauh mana suatu isntrumen dalam menjalankan fungsi. Instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur.
Untuk hasil uji validitas tidak berlaku secara universal. Artinya, bahwa suatu instrumen dapat memiliki nilai valid yang tinggi pada saat tertentu dan tempat tertentu. Akan tetapi, menjadi tidak valid untuk waktu yang berbeda atau pada tempat yang berbeda.
Rumus Uji Validitas
Untuk perhitungan uji validitas dari sebuah instrumen dapat menggunakan rumus korelasi product moment atau dikenal juga dengan korelasi Pearson. Adapun rumus uji validitas, yaitu:
r= N.Σxy – (Σx) (Σy) / √({N.Σx²-(Σx)²}{N.Σy²-(Σy)²})
Keterangan:
rxy: Koefisien korelasi antara skor butir dan skor total
N: Jumlah subyek penelitian
Σx: Jumlah skor butir
Σy: jumlah skor total
Σxy: jumlah perkalian antara skor butir dengan skor total
Σx²: Jumlah kuadrat skor butir
Σy²: Jumlah kuadrat skor total
Setelah data dihitung dengan menggunakan rumus di atas, bandingkan nilai koefisien validitas dengan nilai koefisien korelasi Pearson atau tabel Pearson (r-tabel). Pada taraf signifikansi, a 0,05 dan n (banyaknya data) yang sesuai dengan kriterianya, yaitu:
Instrumen valid, jika r-hitung = r-tabel
Instrumen tidak valid, jika r-hitung < r-tabel
Adapun kategori dari validitas instrumen yang mengacu pada pengklasifikasian validitas, yaitu:
0,80 < rxy 1,00 validitas sangat tinggi (sangat baik)
0,60 < rxy 0,80 validitas tinggi (baik)
0,40 < rxy 0,60 validitas sedang (cukup)
0,20 < rxy 0,40 validitas rendah (kurang)
0,00 < rxy 0,20 validitas sangat rendah (jelek)
rxy 0,00 tidak valid
Pentingnya Uji Validitas
Dikutip dalam buku Metode Riset Penelitian Kesehatan & Sains, Slamet Riyanto, S.T., M.M., Andi Rahman Putera, S.Kom., M.M.S.I. (2022:66), uji validitas perlu dilakukan terhadap suatu instrumen penelitian, khususnya instrumen yang dibuat dari kuesioner. Uji validitas dapat mengantisipasi dan memiliki tujuan, yaitu.
Menghindari pertanyaan atau pernyataan yang kurang jelas menurut presepsi responden.
Mengidentifikasi atau pernyataan yang kurang jelas menurut persepsi responden.
Mengidentifikasi atau meniadakan kata-kata yang terlalu asing atau kata-kata yang menimbulkan kecurigaan atau bermakna ganda.
Memperbaiki pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan yang kurang jelas atau tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya objek penelitian.
Menambah item yang diperlukan atau meniadakan item yang dianggap tidak relevan setelah diketahui uji validitas.
Mengetahui bahwa instrumen penelitian benar-benar layak untuk digunakan dalam penelitian lebih lanjut.
Baca juga: Mengenal Jenis Metode Penelitian beserta Perbedaannya
Dengan adanya rumus uji validitas, maka dapat membantu peneliti untuk mengetahui kualitas instrumen terhadap objek yang akan diteliti lebih lanjut. (MRZ)
