Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Sejarah Megengan, Tradisi Menyambut Ramadan di Pulau Jawa
28 Februari 2025 7:08 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Setiap daerah memiliki tradisi berbeda-beda menyambut datangnya bulan Ramadan seperti megengan di kalangan masyarakat Jawa. Sejarah Megengan ini ternyata sudah ada sejak beribu-ribu tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Tradisi megengan diadakan sebagai perwujudan rasa syukur manusia kepada Tuhan karena sudah memberikan nikmat sehat sehingga bisa merasakan bulan suci Ramadan. Tradisi ini juga diturunkan secara turun temurun.
Pengertian dan Sejarah Megengan
Sejarah megengan menjadi informasi menarik yang penting diketahui mengingat tradisi ini masih dilaksanakan hingga sekarang. Ada yang mengatakan bahwa tradisi megengan pertama kali diadakan di zaman Kerajaan Demak tepatnya tahun 1500 Masehi.
Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Megengan dimulai pada zaman Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Pada masa itu, Megengan dilakukan oleh raja dan keluarga kerajaan, namun seiring berjalannya waktu, masyarakat bisa mengadakannya.
Pada masa penjajahan Belanda, megengan sempat dilarang karena dianggap mengandung unsur keagamaan. Karena itu, masyarakat Jawa melakukannya secara diam-diam ketika akan memasuki bulan Ramadan.
ADVERTISEMENT
Setelah Indonesia merdeka baru masyarakat Islam bisa merayakan kembali secara terang-terangan karena dianggap positif dan layak dilestarikan.
Mengutip dari buku Merekam Dunia Umat Islam, M. Fakhru Riza, (2021:50), megengan adalah tradisi yang dilaksanakan di akhir bulan Syakban. Dulu, masyarakat Jawa akan berkumpul bersama keluarga menjalankan tradisi ini.
Namun sekarang disiasati dengan doa mandiri sekeluarga karena itu saja sudah cukup. Biasanya, masyarakat akan membagikan makanan yang sudah didoakan ke tetangga-tetangga. Pada saat ini, ada banyak santapan lezat yang didapat dari tetangga.
Kue Apem, Kudapan Tradisional yang Wajib Ada di Megengan
Ciri khas megengan adalah menyajikan kue apem yang berasal dari Bahasa Arab “afwan” yang artinya maaf atau ampunan. Kue apem bukan sembarang makanan karena ada makna di baliknya.
ADVERTISEMENT
Kue apem adalah permohonan maaf kepada Allah Swt atas segala dosa yang pernah dilakukan sengaja dan tidak sengaja selama setahun sebelumnya. Kue apem juga bermakna permohonan maaf ke sesama manusia agar hati bersih menyambut bulan Ramadan.
Sejarah megengan penting diketahui masyarakat Islam agar bisa mempersiapkan diri menyambut Bulan Ramadan dengan sepenuh hati. Harapannya masyarakat bisa merenungi apa yang sudah dilakukan setahun belakangan. (GTA)