Sinopsis Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Bumi Manusia merupakan karya monumental yang ditulis oleh sastrawan legendaris Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Novel ini memuat kisah perjalanan yang menakjubkan dari masing-masing tokohnya. Untuk lebih mendalami ceritanya, sinopsis novel Bumi Manusia menjadi informasi yang menarik diketahui.
Novel Bumi Manusia termasuk salah satu bagian dari tetralogi Pulau Buru. Karya ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 dan memicu berbagai polemik bagi beberapa pihak, sehingga harus dilakukan pembebasan karya pada masa orde baru.
Sinopsis Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer yang Menarik
Dikutip dari buku Kisah di Balik Bumi Manusia, Agus Wahyudi, (2019: 11), novel Bumi Manusia adalah kisah serial yang jumlahnya ada empat seri. Jalinan ceritanya saling terkait layaknya cerita bersambung. Keempat novel ini antara lain Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Roman Bumi Manusia dapat dikategorikan sebagai novel sejarah karena unsur-unsur setting yang dibawanya berkaitan dengan sejarah bangsa. Selain itu, Bumi Manusia juga dianggap menjadi salah satu novel kanon di Indonesia. Hal ini dikarenakan novel tersebut mampu secara detail mencerminkan suasana masyarakat hingga terjadinya pergerakan nasional.
Selain itu, mahakarya Bumi Manusia turut memperoleh sambutan bagus di luar negeri. Bahkan, sebagian besar kritikus sastra memberi penilaian positif, sampai diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Untuk lebih mengenali kisahnya, sinopsis novel Bumi Manusia yang dapat disimak adalah sebagai berikut dikutip dari buku Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer, (2005: 551).
Sinopsis Bumi Manusia
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dari cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi, yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama, Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai tokoh berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Menuju sudut lain membelah jiwa ke Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil, “Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orang tuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya.”
Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang dipelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Sinopsis novel Bumi Manusia dapat memberikan gambaran cerita bagi pembaca. Karya sastra ini mengisahkan perjuangan historis yang luar biasa dan patut dijadikan sumber bacaan hingga saat ini. (Riyana)
Baca Juga: Sinopsis Drama China a Beautiful Life dan Daftar Pemain
