Konten dari Pengguna

Tahapan Proses Terjadinya Petir secara Fisika

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi proses terjadinya petir secara fisika - Sumber: pixabay.com/ronomore
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi proses terjadinya petir secara fisika - Sumber: pixabay.com/ronomore

Bagaimana proses terjadinya petir secara fisika? Petir adalah fenomena alam yang melibatkan pelepasan energi listrik sangat besar antara awan dan permukaan bumi atau antara awan dengan awan lainnya. Petir memang lebih sering terjadi di musim penghujan.

Selain itu, petir juga biasanya diikuti oleh suara guntur yang keras. Ini disebabkan oleh adanya pemanasan mendadak dan perluasan udara yang dihasilkan oleh aliran listrik yang kuat.

Proses Terjadinya Petir secara Fisika

Ilustrasi proses terjadinya petir secara fisika - Sumber: pixabay.com/wkidesign

Berdasarkan buku Mari Belajar: llmu Alam Sekitar: Panduan Belajar IPA Terpadu untuk SMP/MTs Kelas IX, Sukis Wariyono, Yani Muharomah, 2008, proses terjadinya petir melibatkan serangkaian peristiwa fisika yang kompleks.

Secara umum, proses ini dapat diuraikan menjadi beberapa tahapan. Berikut adalah tahapan proses terjadinya petir secara fisika yang bisa dipahami.

  1. Proses pembentukan petir dimulai dengan evaporasi air dari permukaan Bumi, seperti danau, sungai, laut, kolam, dan pohon.

  2. Melalui transpirasi, air naik ke atmosfer dalam bentuk gas. Udara yang naik ini bersifat hangat, yang menyebabkan gerakan udara dingin yang bergerak dan bergabung dengan udara hangat.

  3. Fenomena ini menyebabkan udara hangat naik dengan cepat, membentuk awan cumulonimbus atau awan badai yang besar dan padat.

  4. Selama badai terjadi, partikel curah hujan di wilayah yang lebih tinggi dari awan akan saling bertabrakan. Gesekan ini terjadi karena terdapat aliran udara yang kuat.

  5. Akibatnya, udara bertabrakan dan bersentuhan dengan butiran air dan kristal es. Lalu enciptakan muatan listrik statis yang bermuatan positif dan negatif.

  6. Sebagian kristal es dan butiran air menjadi bermuatan positif, sementara yang lain menjadi bermuatan negatif.

  7. Seiring waktu, potensi listrik yang bermuatan positif dan negatif di dalam awan terpisah satu sama lain.

  8. Kristal salju yang bermuatan positif bergerak ke bagian atas, sementara kristal berat yang bermuatan negatif dan tetesan air turun ke bawah.

  9. Bagian dari awan yang bermuatan negatif akan menuju muatan positif dan membentuk loncatan elektron yang dikenal sebagai petir.

  10. Karena Bumi memiliki medan listrik yang besar dan bermuatan negatif dan positif, elektron dari awan dapat meloncat menuju bagian permukaan Bumi yang bermuatan listrik.

  11. Proses ini mirip dengan loncatan elektron yang terjadi saat mencolokkan barang elektronik ke sumber listrik, yang sering disertai dengan percikan api.

  12. Setelah petir meloncat ke tanah, ia kembali menuju awan melalui jalur yang sama. Proses terjadinya petir memerlukan waktu yang relatif singkat untuk bergerak dari titik A ke titik B.

  13. Ketika petir meloncat ke tanah, terjadi pemisahan ruang pada udara karena udara panas tidak memiliki cukup waktu untuk bergerak, menghasilkan tekanan udara yang meningkat hingga 10-100 kali lipat dari tekanan udara normal atmosfer.

  14. Tekanan udara ini meledak keluar dari saluran listrik. Kemudian membentuk gelombang kejut partikel yang terkompresi ke segala arah, sehingga menghasilkan suara ledakan atau guntur.

Baca Juga: Ciri-ciri Awan Nimbostratus dan Jenis-jenisnya

Itu tadi tahapan proses terjadinya petir secara fisika. Perlu dipahami juga bahwa fenomena ini memiliki potensi bahaya yang tinggi. Selain itu dapat menyebabkan kebakaran, kerusakan, bahkan cedera pada manusia dan hewan. (DNR)