Konten dari Pengguna

Teori Retorika Aristoteles dalam Seni Berbicara

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teori retorika Aristoteles. Sumber: pexels.com/icsa.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teori retorika Aristoteles. Sumber: pexels.com/icsa.

Teori retorika Aristoteles adalah salah satu materi dalam ilmu komunikasi. Namun materi ini juga bermanfaat bagi siapa pun yang sering berbicara di depan umum.

Asal bicara itu mudah. Namun bicara untuk mengomunikasikan suatu pesan atau pemikiran itu butuh cara tersendiri. Hal itulah yang dipelajari oleh Aristoteles sehingga menghasilan teori retorika.

Mengenal Teori Retorika Aristoteles

Ilustrasi teori retorika Aristoteles. Sumber: pexels.com/Shvetsa.

Dikutip dari Retorika dalam Kehidupan, Mar'atus Solihah dan Kawan-kawan (2024:2), retorika adalah kemampuan menampilkan kecerdasan yang dapat digunakan untuk mengajak ke hal-hal tertentu yang dipengaruhi oleh karakter, kecerdasan emosi dan pemikiran orator.

Aristoteles dianggap sebagai tokoh pertama yang meletakkan dasar-dasar dalam public speaking. Retorika berkembang di Yunani dan Romawi Kuno. Tokoh retorika selain Aristoteles adalah Cicero dan Quintilianus.

Teori retorika Aristoteles didasarkan pada 3 elemen, yaitu ethos (karakter pembicara), pathos (emosi audiens) dan logos (logika argumen). Berikut ini penjelasannya.

1. Ethos

Ethos merujuk ke karakter pembicara yang dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan audiens. Ethos mencakup elemen kunci, yaitu:

  1. Karakter moral, yang mencerminkan nilai-nilai etis dan integritas pembicara.

  2. Kompetensi, yaitu pembicara harus bisa menunjukkan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang relevan dengan topik yang disampaikan.

  3. Niat baik , yaitu pembicara harus memperlihatkan niat baik dan kepedulian terhadap audiens.

  4. Contoh praktis, yaitu pembicara harus bisa menunjukkan contoh-contoh yang telah dilakukannya.

2. Pathos

Pathos bisa jadi efektif karena pada dasarnya manusia sering diperangaruhi oleh emosi. Pembicara harus bisa membangkitkan perasaan audiens sehingga menerima topik yang sedang dibawakan. Elemen ini penting untuk masalah politik, sosisal dan kemanusiaan.

Contohnya, pidato tentang perjuangan hidup di masa lalu yang dilakukan oleh calon legislatif untuk menarik simpati para calon pemilih.

3. Logos

Logos berhubungan dengan logika yang dikemukakan ketika membicarakan suatu masalah. Logos tidak hanya menghubungkan satu kejadian atau pemikiran dengan yang lainnya, tapi juga memerlukan fakta, statistik, dan data yang mendukung.

Logika yang efektif adalah perpaduan antara logika formal dan informal. Logika formal berupa penyusunan argumen, sedangkan logika informal menyangkut cara penyampaian yang fleksibel.

Teori retorika Aristoteles merupakan pengetahuan dasar bagi orang-orang yang akan terjun di dunia public speaking. Bekal pengetahuan ini akan menghasilkan pembicara yang andal dan menguasai seni berbicara. (lus)

Baca juga: Tips Pede Berbicara di Depan Umum agar tidak Gugup