Konten dari Pengguna

Akal di Atas Emosi: Mengapa Rasionalitas Adalah Kunci Menyelesaikan Konflik ?

Ragil Januar

Ragil Januar

mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragil Januar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi saat kajian sumber foto : dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi saat kajian sumber foto : dokumentasi pribadi

Kita hidup di zaman ketika orang lebih cepat bereaksi daripada berpikir. Di media sosial, dalam obrolan sehari-hari, bahkan dalam keputusan-keputusan penting—emosi sering kali menjadi pengemudi utama. Masalah kecil bisa membesar, kesalahpahaman bisa berubah jadi pertengkaran, hanya karena kita terlalu cepat merasa, dan terlalu lambat mencerna.

Padahal, tidak semua hal harus dihadapi dengan ledakan emosi. Tidak semua ketidaksetujuan adalah serangan. Tidak semua rasa sakit perlu dibalas dengan sakit yang sama. Kita lupa bahwa ada satu kekuatan yang lebih tenang tapi jauh lebih ampuh dalam menyelesaikan persoalan: akal sehat.

Berpikir rasional bukan berarti kita membuang perasaan. Tapi rasionalitas adalah rem saat perasaan mulai mengambil alih kendali. Ia memberi jarak antara stimulus dan respons. Ia membuat kita berhenti sejenak sebelum bereaksi, lalu bertanya: apa tujuan akhirnya? Apakah ini akan menyelesaikan atau memperkeruh?

Saya sendiri pernah berada di titik itu—di mana emosi memuncak dan keinginan untuk “menang” dalam argumen terasa sangat menggoda. Tapi yang saya pelajari adalah: kadang, yang menyelesaikan bukan kata terakhir, tapi sikap tenang. Bukan pembuktian, tapi pemahaman. Bukan marah, tapi mengurai persoalan dengan kepala dingin.

Masalah tidak akan selesai jika masing-masing sibuk mempertahankan ego. Tapi ketika satu pihak memilih untuk tetap logis, melihat dari sudut pandang lebih luas, dan fokus pada solusi—di situlah celah penyelesaian bisa ditemukan. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita bisa menunda reaksi emosional, memberi ruang untuk berpikir jernih.

Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin berpikir tenang adalah bentuk perlawanan tersendiri. Mungkin, rasionalitas adalah satu-satunya jalan agar kita tidak ikut tenggelam dalam keributan yang tak pernah membawa penyelesaian apa-apa.

Ragil Januar, Anggota Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang