Inflasi Pangan Global 2026: Dampak Kenaikan Harga Pangan terhadap Uang Saku dan Daya Beli Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M RAGIL SAFA KURNIADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika Kenaikan Harga Pangan Menjadi Persoalan Global
Kenaikan harga pangan bukan lagi sekadar persoalan yang terjadi di pasar tradisional atau pusat perbelanjaan. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, hingga meningkatnya biaya produksi telah menjadi faktor yang memengaruhi harga pangan di berbagai negara. Memasuki 2026, kondisi tersebut kembali menjadi perhatian karena tekanan harga komoditas pangan global masih berlangsung.
Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO), indeks harga pangan dunia pada September 2026 mencapai 136,0 poin atau meningkat 1,5 persen dibandingkan Agustus 2026. Angka tersebut juga lebih tinggi 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan terutama dipengaruhi oleh harga serealia, minyak nabati, dan gula. Bahkan, indeks harga serealia meningkat 17,2 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga pangan masih menjadi tantangan bagi perekonomian global.
Situasi tersebut patut diperhatikan oleh Indonesia sebagai negara yang memiliki kebutuhan pangan besar dan masih terhubung dengan perdagangan komoditas internasional. Meskipun tidak seluruh kenaikan harga global langsung diteruskan ke pasar domestik, perubahan harga komoditas dunia tetap berpotensi memengaruhi biaya produksi, distribusi, dan harga sejumlah kebutuhan masyarakat.
Dari Krisis Pangan Global hingga Pengeluaran Mahasiswa
Dampak inflasi pangan sebenarnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan mahasiswa. Kenaikan harga beras, telur, minyak goreng, sayuran, hingga makanan siap saji dapat mengubah pola pengeluaran seseorang.
Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, uang saku umumnya harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, seperti makan, transportasi, tempat tinggal, komunikasi, dan keperluan akademik. Ketika harga makanan meningkat, pengeluaran untuk kebutuhan lain berpotensi ikut terpengaruh.
Persoalannya bukan hanya mengenai mahal atau murahnya suatu barang, melainkan bagaimana kenaikan harga tersebut mengurangi kemampuan seseorang untuk membeli barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Kondisi ini berkaitan erat dengan daya beli.
Sebagai contoh sederhana, uang saku sebesar Rp1.000.000 mungkin sebelumnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan dengan pembagian anggaran tertentu. Namun, ketika harga makanan dan transportasi meningkat, jumlah kebutuhan yang dapat dibeli dengan uang tersebut menjadi lebih terbatas.
Artinya, nominal uang saku yang tidak berubah belum tentu memiliki kemampuan belanja yang sama. Inilah salah satu dampak inflasi yang sering kali dirasakan secara langsung, tetapi tidak selalu disadari oleh masyarakat.
Indonesia di Tengah Tekanan Harga Pangan
Tekanan inflasi pangan juga terlihat dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,37 persen secara tahunan. Komoditas seperti beras, cabai rawit, daging ayam ras, minyak goreng, dan daging sapi turut memberikan tekanan terhadap kenaikan harga.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan barang, tetapi juga keterjangkauan harga bagi masyarakat. Kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan pada beberapa kebutuhan pokok dapat membuat pengeluaran rumah tangga maupun individu semakin sulit dikendalikan.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah perubahan kondisi iklim. Fenomena El Niño dan cuaca kering berkepanjangan berpotensi mengganggu produktivitas pertanian serta memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas pangan.
Di tingkat global, gangguan distribusi perdagangan dan kenaikan biaya energi maupun pupuk juga dapat meningkatkan biaya produksi serta pengiriman. Dengan demikian, inflasi pangan merupakan persoalan yang memiliki keterkaitan antara kondisi internasional dan kemampuan produksi dalam negeri.
Mengapa Mahasiswa Perlu Memiliki Literasi Keuangan?
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa perlu memiliki kemampuan mengelola keuangan secara lebih terencana. Uang saku bukan sekadar dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sumber daya yang harus dialokasikan berdasarkan prioritas.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membedakan kebutuhan utama dan kebutuhan tambahan. Pengeluaran untuk makanan, transportasi, tempat tinggal, serta keperluan akademik perlu mendapatkan perhatian sebelum mengalokasikan uang untuk hiburan atau konsumsi yang bersifat sementara.
Selain itu, mahasiswa dapat menyusun anggaran bulanan dan mencatat pengeluaran harian. Kebiasaan sederhana ini membantu mengetahui ke mana uang digunakan sekaligus mengidentifikasi pengeluaran yang sebenarnya dapat dikurangi.
Membawa bekal dari rumah, membandingkan harga makanan, memanfaatkan promo secara bijak, dan menghindari pembelian impulsif juga dapat menjadi alternatif dalam menjaga kestabilan keuangan.
Namun, penghematan tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan kualitas dan kecukupan gizi makanan. Mengurangi pengeluaran memang penting, tetapi kebutuhan nutrisi tetap harus menjadi pertimbangan. Pengelolaan keuangan yang baik bukan berarti mengurangi seluruh konsumsi, melainkan mengalokasikan pendapatan secara lebih tepat.
Peran Pemerintah dalam Menjaga Keterjangkauan Pangan
Meskipun kemampuan mengelola uang saku menjadi hal penting, tanggung jawab menghadapi inflasi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu. Pemerintah juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Upaya seperti memperkuat distribusi pangan, menjaga cadangan beras pemerintah, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mengawasi praktik perdagangan yang merugikan konsumen menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan inflasi.
Selain itu, kebijakan bantuan dan perlindungan sosial perlu diarahkan agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap kenaikan harga. Mahasiswa dari keluarga berpenghasilan terbatas juga dapat merasakan dampak kenaikan biaya hidup, terutama ketika kebutuhan pendidikan dan biaya sehari-hari meningkat secara bersamaan.
Dalam jangka panjang, penguatan ketahanan pangan nasional menjadi langkah yang tidak kalah penting. Ketergantungan terhadap pasokan dan harga komoditas global perlu diimbangi dengan peningkatan produksi domestik, perbaikan infrastruktur pertanian, dan sistem distribusi yang lebih efisien.
Ancaman inflasi
Ancaman inflasi pangan global pada 2026 menunjukkan bahwa persoalan kenaikan harga tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, termasuk mahasiswa.
Bagi mahasiswa, perubahan harga pangan dapat menjadi tantangan dalam mengelola uang saku dan menentukan prioritas pengeluaran. Oleh karena itu, literasi keuangan perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari agar setiap pengeluaran dapat dilakukan secara lebih bijak dan terencana.
Namun, kemampuan individu dalam berhemat tetap perlu didukung oleh kebijakan pemerintah yang mampu menjaga keterjangkauan pangan dan melindungi daya beli masyarakat.
Pada akhirnya, menghadapi inflasi bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghemat uang yang dimiliki, tetapi juga bagaimana menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan setiap orang memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Sebab, ketika harga pangan terus berubah, kemampuan mengelola keuangan dan ketahanan ekonomi menjadi dua hal yang sama-sama penting untuk menjaga kesejahteraan.
