Rahasia Langit & Ingatan Bumi

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 16 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi saya, dalam dinamika perkembangan astronomi dan ziarah ranah antariksa di Indonesia, tampak sebuah geliat intelektual yang patut diidentifikasi tidak hanya sebagai aktivitas saintifik an-sich, namun manifestasi penyingkapan horizon kesadaran.
Perbincangan terkait Kosmologi dan Astronomi adalah pelik yang baru bagi saya, namun saya mencoba menyusun risalah ini dengan mencermati sumbangsih progresif dari para pakar yang begitu saya kagumi, seperti yang terefleksikan dalam berbagai kuliah dan perbincangan yang sempat saya lakukan beberapa waktu lalu dengan Dr. Karlina Supelli.
Pertukaran pikiran terkait kalkulasi astrofisika dan dinamika keantariksaan, membuat saya tersadar bahwa kita sebetulnya sedang disuguhkan sebuah lanskap pemikiran yang melampaui garis batas ilmu positivistik konvensional.
Oleh sebab itu, saya memilih untuk memodifikasi kerangka pembicaraan ini, untuk mengeksplorasi suatu domain yang jauh lebih luas dan elementer, yakni dengan menautkan sains antariksa modern pada akar tradisi serta kosmologi Nusantara.
Langkah ini dilakukan saya ikhtiarkan agar kita dapa menyium kembali romantisisme historis seraya melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap cara manusia berefleksi di hadapan alam semesta.
Sebagai pijakan awal, mari kita telaah sebuah ilustrasi yang merepresentasikan paradoks intelektual modernitas. Dalam komik Calvin and Hobbes karya Bill Watterson, kita menyaksikan percakapan antara dua figur yang secara historis mewakili dua pemikir besar Abad Pertengahan dan Awal Modern, yakni John Calvin dan Thomas Hobbes.
Dua sosok dengan doktrin filosofis yang kerap berbenturan keras, yang satu menekankan kedaulatan ilahi dan takdir eksistensial, sementara yang lain berpijak pada materialisme politik yang deterministik, kini dihadirkan lagi dalam konteks kepolosan infantil namun sarat substansi radikal.
Dalam panel tersebut, tertera sebuah proposisi, seandainya saja setiap manusia bersedia meluangkan waktunya untuk duduk di luar rumah, menatap konstelasi bintang-bintang di langit malam setiap harinya, maka horizon persepsi mereka pafa eksistensi hidup ini dipastikan akan berubah secara transformatif.
Pernyataan yang sekilas tampak sederhana ini sebenarnya menyimpan gema epistemologis yang begitu mendalam. Di dalam trajektori historis pemikiran Barat, saya lalu mengingat anegdot klasik mengenai Thales dari Miletus.
Sebagai salah seorang pemikir fajar filsafat Yunani, Thales begitu terpesona dan terabsorpsi oleh pergerakan Benda-benda langit sehingga ketika ia berjalan sambil terus menatap ke atas demi meraih pengetahuan dan kebijaksanaan kosmis, ia justru terperosok ke dalam lubang di bumi.
Anekdot ini acap kali dijadikan ejekan oleh logika pragmatis untuk mendiskreditkan kerja-kerja kontemplatif. Akan tetapi, di balik peristiwa terperosoknya Thales, tersimpan sebuah afirmasi ontologis: betapa manusia sanggup terdorong oleh penuangan kuriositas yang melampaui utilitas fungsional bumi.
Gema yang senada berdenyut kencang dalam tradisi intelektual Muslim klasik. Sebuah pepatah bernuansa metafisik yang msmbuat saya terkesima disaat menemukannya:
"Jika engkau berhasrat menjadi pribadi yang bijaksana, tataplah langit malam."
Bintang-bintang tidak hanya materi yang berpendar di hampa udara, mereka juga jangkar epistemik yang memicu kelahiran ilmu pengetahuan.
Dalam menjejaki genesis filsafat, disiplin yang menjadi medan perjelajahan akademik saya, terlihat jelas bahwa jauh sebelum cabang-cabang sains modern mengkristalisasi dalam demarkasi disipliner yang kaku, filsafat sudah berdiri sebagai rahim primordial bagi seluruh konstruksi pengetahuan manusia.
Filsafat hadir baik dalam wujud kebijaksanaan (wisdom) maupun dalam format analisis logis yang sangat ketat dan terstruktur.
Apabila kita membedah seluruh bangunan pemikiran manusia saat berpapasan dengan realitas konkret dan pengalaman keseharian, maka pada hakikatnya seluruh pergulatan intelektual itu terdistilasi ke dalam tiga pertanyaan mendasar.
Kuriositas pertama muncul dikala manusia menengadahkan pandangannya pada realitas alam dan langit malam. Apa sebetulnya yang ada itu? Apakah eksistensi ini hanya terbatas pada apa yang tertangkap secara indrawi oleh mata manusia, ataukah terdapat ranah realitas yang melampaui batas-batas persepsi empiris tersebut?
Kuriositas ini melahirkan ranah penyelidikan besar yang kita kenal sebagai metafisika dan ontologi. Ini menjadi upaya untuk memetakan struktur terselubung dari keberadaan, menguji apakah materi yang kita raba adalah keseluruhan dari realitas, atau hanya bayang-bayang dari ranah substansi yang lebih mendalam.
Setelah manusia merumuskan klaim tentang 'yang ada', secara rasional akan muncul kuriositas krusial berikutnya. Apa yang dapat saya ketahui mengenai yang-ada tersebut?
Sejauh mana kapasitas rasio manusia sanggup menembus dan memetakan realitas itu? Pertanyaan kedua ini membidani lahirnya epistemologi, sistem penyelidikan atas batas, validitas, bahkan asal-usul pengetahuan.
Dari rahim epistemologi inilah lahir pemilahan bertahap, mulai dari pengetahuan biasa (common sense), pengetahuan faktual sehari-hari, sampai akhirnya mengkristal menjadi pengetahuan ilmiah yang teruji dan tersistematisasi (science).
Pada saat manusia sudah memiliki kepastian ontologis bahwa 'yang ada itu ada', dan secara epistemologis meyakini bahwa 'yang ada itu dapat diketahui', maka muncul imperatif logis yang ketiga. Bagaimana saya harus bersikap berlandaskan pada pengetahuan yang telah saya bangun tersebut?
Kuriositas ini memicu lahirnya kajian aksiologi, yang mencakup domain etika dan estetika, sebuah kontemplasi mendalam terkait nilai-nilai moral, kebaikan, keadilan, serta kualitas keindahan.
Tiga pertanyaan fundamental ini membingkai arsitektur filsafat seraya memandu evolusi sains. Kita dapat menarik garis waktu jauh ke belakang, puluhan ribu tahun lalu sebelum spesiasi Homo sapiens mendominasi bumi, bahkan mencakup era Homo neanderthalensis.
Artefak berupa lukisan-lukisan dinding gua di berbagai belahan dunia menjadi bukti otentik bahwa hominid purba tidak hanya memiliki kesadaran pasif terhadap lingkungan.
Lebih dari itu, mereka memiliki tingkat kesadaran refleksif, dimana kondisi kesadaran di mana mereka "sadar bahwa mereka sedang mawas" (self-awareness of awareness).
Kapasitas untuk mawas diri terhadap lingkungan ini bersua pada dua reaksi afektif yang saling terjalin secara dialektis, yakni rasa takjub (awe) dan rasa gentar (terror/fear), Mysterium Tremendum Et Fascinans, begitulah frasa latin yang diutarakan oleh Rudolf Otto pada tahun 1917 dalam bukunya The Idea of the Holy.
Peradaban manusia pada hakikatnya tidak lahir belaka dari kenyamanan, tapi juga dari konfrontasi eksistensial dengan alam yang tidak terpahami. Disaat petir menyambar, kilat membelah angkasa, atau komet melintas dengan pijar misterius, manusia purba merasa terpana sekaligus dicekat ketakutan mendalam.
Genesis peradaban dipicu oleh dialektika antara ketakjuban dan ketaakjuban-yang-menakutkan ini. Dari tempat perlindungan di dalam gua-gua gelap, impuls-impuls saraf otak manusia berevolusi secara organik.
Otak manusia mengorganisasi kecemasan dan kuriositas tersebut menjadi sebuah struktur berpikir yang sistematis. Hasrat murni untuk mengetahui ini berjalin kelindan secara tidak terpisahkan dengan hasrat eksistensial untuk mempertahankan kelangsungan hidup (will to know x will to survive).
Manusia purba menyadari kerentanan tubuh mereka di hadapan keganasan alam, tanpa taring dan cakar, pengetahuan merupakan satu-satunya instrumen adaptif yang memungkinkan mereka bertahan.
Satu paradoks historis menarik untuk ditelaah, di era modern, tatkala kemajuan sains dan teknologi medis sudah mencapai puncaknya, kerentanan biologis manusia justru semakin telanjang dan menonjol.
Kita melihat betapa gaya hidup di kontemporer dan eksploitasi alam malah membuat peradaban kini kian rapuh di hadapan agresi jasad-jasad renik seperti mikroorganisme dan mutasi virus.
Kendati demikian, dorongan untuk tetap hidup yang inheren dalam eksistensi manusia terus memicu pencarian pengetahuan yang melampaui batas-batas batas bumi.
Untuk mengejawantahkan dorongan pemikiran manusia yang selalu berhasrat menembus batas, kita dapat merujuk pada lukisan ukiran kayu terkenal karya Camille Flammarion dari era Renaissance.
Lukisan tersebut menampilkan seorang pengembara yang merangkak hingga ke batas terluar kubah langit, lalu menyibakkan tirai cakrawala untuk mengintip apa yang tersembunyi di luar sana.
Gambar tersebut secara visual menyimbolkan sebuah pertanyaan kekal, Ada apa sebetulnya di luar alam semesta ini? Di sinilah kita mesti membuat demarkasi metodologis yang tegas namun tidak konfrontatif.
Kuriositas terkait apa yang berada di luar batas ruang-waktu sebenarnya telah melampaui domain sains empiris. Sains, dengan disiplin verifikasinya yang ketat, membatasi ranah pengujiannya pada gejala-gejala yang terikat dalam skema ruang-waktu.
Sains tidak bertugas membuktikan apalagi menolak secara dogmatis eksistensi realitas di luar dimensi ruang-waktu, karena secara jujur ia tidak memiliki perangkat instrumen maupun kerangka metodologis untuk menjangkau ranah metafisik tersebut.
Ranah itu hanya dapat didekati lewat pendekatan-pendekatan reflektif lain seperti filsafat, teologi, dan hermeneutika sastra. Kendati begitu, alam semesta senantiasa menjadi laboratorium epistemik yang sangat berharga bagi pemikiran manusia.
Saya menyadari bahwa lewat astronomi, kosmologi, dan astrofisika, manusia tidak hanya memetakan benda-benda langit, namun dipaksa untuk melakukan refleksi eksistensial yang jauh lebih radikal daripada sebatas mengobservasi fenomena-fenomena parochial di permukaan bumi.
Dalam menjejaki trajektori historis sains, perdebatan mengenai kriteria metodologis berlangsung sangat keras. Saya telah banyak membaca pikiran para pakar yang dengan begitu sistematis memetakan bagaimana sains mengonsolidasi dirinya hingga memiliki daya pertanggungjawaban rasional.
Akan tetapi, konsolidasi tersebut memakan waktu berabad-abad. Bahkan hingga permulaan abad ke-20, tatkala Albert Einstein merumuskan Teori Relativitas Umum dan mengaplikasikannya untuk membangun model matematis alam semesta, seorang astronom terkemuka seperti Herbert Dingle masih dengan tegas mendeklarasikan bahwa kosmologi bukanlah bagian dari sains, tapi spekulasi metafisik.
Padahal saat itu dukungan data empiris mulai terkumpul. Skeptisisme metodologis yang sama pada akhirnya runtuh seiring menguatnya bukti-bukti observasional.
Namun, poin krusial bagi kita yang bergerak di ranah interdisiplin, seperti pertautan yang saya bangun antara ilmu hubungan internasional dan filsafat, merupakan bagaimana pengetahuan kosmologis memberikan pengayaan reflektif yang tiada tara.
Dikala seorang pemikir memaknai proses evolusi bintang, ia sampai pada kesadaran saintifik yang menakjubkan, bahwa atom-atom berat seperti karbon, nitrogen, dan oksigen yang membentuk untaian molekul protein di dalam tubuh manusianya tidak pernah diproduksi di bumi, tapi menjadi merupakan hasil reaksi nukleosintesis di dalam inti bintang-bintang purba yang meledak miliaran tahun lalu.
Kita, secara harfiah, adalah debu bintang (stardust). Kesadaran lintas disiplin ini tidak menjadi sebuah manuver hierarkis untuk memposisikan satu cabang ilmu lebih superioe dari yang lain, tapi menjadi ikhtiar untuk mendistribusikan persepsi bahwa bergelut dengan kosmologi merupakan jalan masuk menuju kedalaman pemahaman eksistensial.
Di sinilah kita mesti membedakan antara 'pengetahuan' (knowledge) dan 'pemahaman' (understanding). Pengetahuan dibangun atas fakta-fakta mentah yang dikumpulkan, dikategorikan, lalu kemudian diikat dalam kerangka teori.
Teori itu sendiri sebetulnya menjadi sebuah rekonstruksi konseptual terhadap data yang melampaui sekadar himpunan angka, karena ia melibatkan asumsi-asumsi epistemik, daya eksplanasi, dan kapasitas prediktabilitas.
Namun, pemahaman menuntut langkah melampaui teori. Pemahaman hadir dikala manusia menarik interpretasi teoritis itu kembali ke dalam dirinya, lalu berhadapan dengan pertanyaan aksiologis, bagaimana saya harus hidup dan bersikap setelah saya memahami fakta kosmis ini?
Dalam tradisi pemikiran Abad Pertengahan, gerakan epistemik ini dirumuskan dalam pergerakan bahasa Latin yang sangat elegan, yaitu berawal dari Sciencia (pengetahuan saintifik faktual), manusia bergerak meniti jalan menuju Sapientia (kearifan/kebijaksanaan), hingga akhirnya bermuara pada Virtus (keutamaan moral dan nilai hidup).
Terdapat kekeliruan fatal dalam pandangan populer kontemporer yang secara reduktif mengklaim bahwa sains merupakan entitas netral yang sepenuhnya steril dari nilai (value-free), yang seakan hanya bertugas menyajikan fakta keras yang dingin.
Padahal, justru dari perjelajahan epistemik yang begitu mendalam terhadap arsitektur alam semesta, terpancar kearifan bernilai tinggi yang sanggup mentransformasi sikap etis manusia terhadap eksistensinya.
Acap kali dalam diskursus filsafat di Indonesia hadir sebuah proposisi mendasar yang cenderung simplistis, yakni klaim bahwa peradaban Nusantara tidak pernah mengembangkan sistem pengetahuan ilmiah, dan hanya memiliki kawruh, sebuah akumulasi kearifan lokal yang sifatnya intuitif, berorientasi esoteris pada 'dunia sana' (otherworldly), serta tidak memiliki daya analitis terhadap 'dunia sini'.
Saya memandang klaim ini sebagai bentuk inferioritas epistemik yang perlu didekonstruksi secara kritis. Bilamana kita menelaah secara jeli jejak kebudayaan bangsa-bangsa Bahari di Nusantara, yang mana kata 'bahari' di sini mengandung pemaknaan ganda, merujuk pada maritim sekaligus mengindikasikan kedalaman sejarah yang kuno, kita akan menemukan bukti yang membantah anggapan minimnya sistem pengetahuan tersebut.
Lirik lagu rakyat yang menyebut leluhur kita sebagai "bangsa pelaut" bukanlah slogan kosong. Kemampuan melayari Samudra Hindia hingga mencapai Madagaskar tidak mungkin diraih belaka dengan pasrah pada kawruh spekulatif.
Pencapaian navigasi bahari itu menuntut akumulasi pengetahuan empiris yang begitu presisi, mulai dari pemetaan konstelasi bintang di langit, observasi pola arah angin muson, kalkulasi perubahan musim, bahkan navigasi gelombang laut.
Demikian pula dalam ranah agraris. Masyarakat tradisional Nusantara mengembangkan sistem kalender ekologis yang begitu ketat. Keberhasilan mendirikan mahakarya arsitektural seluas Candi Borobudur juga merupakan bukti tak terbantahkan.
Borobudur tidak mungkin berdiri kokoh di atas perhitungan mistik semata, ia berada di atas fondasi kalkulasi matematika, geometri ruang, teknik sipil mekanika batuan, dan orientasi astronomis yang sangat akurat.
Karakteristik paling mendasar dari kosmologi bangsa-bangsa Bahari Nusantara terletak pada penolakan mereka untuk memisahkan secara dikotomis antara langit dan bumi, antara ranah profan 'dunia sini' dan ranah sakral 'dunia sana'.
Akan tetapi, ketiadaan pemisahan dikotomis ini tidak berarti mereka tidak memiliki kemampuan abstraksi pengetahuan. Sebagai contoh konkret, dalam rekonstruksi kosmologi Tanimbar, kita menemukan struktur pengetahuan terintegrasi yang terbagi ke dalam tiga tataran sistematis.
Pertama, Tataran Epistemik Objektif (Eksplorasi External-Subjek/Objek). Pada level awal ini, manusia menempatkan realitas alam di luar dirinya sebagai objek kajian rasional. Bintang-bintang, vegetasi, dan iklim diorientasikan sebagai entitas yang diamati, dipetakan polanya, dan dipelajari sistematikanya.
Dalam tradisi pertanian Tanimbar dan Nusantara secara umum, pergerakan konstelasi Orion diadopsi penanda astronomis presisi untuk memulai penanaman umbi-umbian, dan bahan pangan lainnya.
Sistem penandaan ini diawali dengan ritual penghormatan kepada figur kosmologis Para Leluhur Tanah. Kini, cerita dan ritual seperti ini kerap kali direduksi secara dangkal oleh generasi modern sebagai sekadar dongeng. Padahal, mitos tersebut menyimpan kode-kode kosmologis yang begitu dalam.
Cara berpikir kuno ini sifatnya simbolik-organis untuk mengartikulasikan bahwa vegetasi bumi bukanlah materi mati yang netral, tapi jejaring kehidupan yang mengoneksikan dimensi ilahi dengan eksistensi manusia.
Yang kedua, Tataran Refleksi Etis-Mawas Diri (Kajian Batin). Sistem pengetahuan Nusantara menyadari limitasi kerangka subjek-objek. Oleh sebab itu, pengetahuan dinaikkan ke tataran kedua, yakni memeriksa instrumen pengetahuan itu sendiri, yaitu batin manusia.
Di dalam teks-teks naskah kuno seperti Etnografi Tanimbar, para pembaca diundang untuk melakukan introspeksi batiniah yang mendalam.
Dalam kosa kata filsafat modern, tataran kedua ini setara dengan domain Etika, dimana terdapat sebuah kewajiban epistemik untuk menguji niat, motif, dan kesadaran moral sebelum manusia mengambil tindakan terhadap alam dan sesamanya.
Ketiga dan terakhir adalah Tataran Metafisik-Transendental (Penyatuan Kosmis). Tataran tertinggi ini mengintegrasikan seluruh akumulasi pengetahuan empiris dan etika batin ke dalam tingkat abstraksi metafisik.
Manusia tidak lagi dipandang sebagai entitas terpisah yang mengeksploitasi alam, namun bagian dari kesatuan kosmologis yang utuh.
Dalam kosmologi Tanimbar, realitas tertinggi diakui dalam sosok Ubi'laa atau Du'ilaa, Prinsip Pertama (First Principle) yang memunculkan seluruh alam semesta.
Kekayaan kosmologis yang begitu padu ini sayangnya mengalami disintegrasi dan alienasi historis yang parah.
Disintegrasi ini dipicu oleh pelbagai faktor krisis, mukai penyeragaman budaya, intervensi kolonialisme, hingga kontradiksi buatan yang mempertentangkan antara adat dan agama.
Secara etimologis, kata 'agama' yang diserap dari bahasa Sanskerta sebetulnya bermakna "tradisi atau pedoman yang diwariskan turun-temurun untuk mencegah kekacauan (a-gama)".
Pada saat tradisi ditabrakkan secara kaku dengan keyakinan formal, manusia Nusantara kehilangan jangkar kosmologisnya, terasing dari bumi yang diinjaknya dan dari langit yang dinaunginya.
Urgennya merevaluasi kosmologi tradisional menjadi kian mendesak dikala saya menatap krisis sistemik modernitas. Fenomena pandemi global yang kita alami memberikan penafsiran nyata terhadap kerapuhan peradaban manusia.
Kita menyaksikan sebuah kontradiksi. Sains medis mutakhir sanggup memproduksi vaksin dalam tempo singkat, namun sains an-sich megap-megap saat melayani kecepatan mutasi biologi dan evolusi jasad-jasad renik yang bergerak jauh lebih lincah daripada kalkulasi teknokratis manusia.
Mengapa disrupsi biokosmis ini bisa terjadi? Kajian disease ecology secara telanjang mendekomposisi akar problematikanya, ini adalah buah dari keserakahan cara hidup manusia modern.
Globalisasi yang lepas kendali, eksploitasi alam yang begitu agresif, serta deforestasi masif telah menjarah habitat fauna liar hingga habis. Batas-batas alami yang memisahkan ekosistem liar dan pemukiman manusia dihancurkan.
Akibatnya, lompatan patogen (zoonosis) dan mutasi virus terjadi secara akseleratif. Manusia modern sementara memanen badai dari benih keacuhan kosmologis yang ditanamnya sendiri.
Untuk mengatasi krisis multidimensional ini, kita tidak bisa hanya bertumpu satu lensa observasional. Kita memerlukan keberanian metodologis untuk mengodifikasi seluruh sistem pengetahuan tradisional Nusantara, bukan untuk menggesernya dengan sains modern, tapi untuk dikompilasilan dalam dialog interdisiplin yang saling memperkaya.
Kita perlu memperbanyak 'teropong' kita dalam menatap realitas. Sains modern merupakan satu teropong yang sangat tajam, namun kita juga memerlukan teropong etika, teropong ekonomi politik, teropong filsafat, dan teropong kosmologi kultural.
Kajian analitis terkait logika kosmologi ini telah diperdalam secara tekun oleh banyak pemikir akademisi yang lalu mengilhami saya.
Melalui pembacaan atas naskah-naskah kuno, banyak dari mereka yang memperlihatkan bahwa di balik narasi mitologis Nusantara, tersembunyi struktur logika formal yang sangat solid dan relevan untuk menjawab disorientasi kemanusiaan modern.
Untuk menutup perkara yang saya coba angkat dalam risalah ini, ziarah intelektual dari ilmu hubungan internasional menuju kosmologi dan filsafat, membuat saya tersadar akak pergeseran yang mana menjadi usaha untuk mengekspansi horizon berpikir lewat kajian interdisiplin.
Kosmologi memberi saya landasan empiris yang sangat kokoh untuk memahami realitas dari berbagai teropong pemikiran. Pergerakan epistemik ini saya dedikasikan agar membawa meniti jenjang pemaknaan, berpijak pada Pengetahuan (Sciencia), menanjak menuju Kearifan (Sapientia), dan bermuara pada Keutamaan Etis (Virtus).
Keutamaan etis inilah yang mengarahkan kita pada pertanyaan paling esensial dalam hidup, untuk apa sebetulnya kita ada di dunia ini? Kuriositas eksistensial ini mengemuka tajam dikala kita berpapasan dengan realitas tentang kematian.
Pandemi global Covid-19 beberapa tahun lalu yang melanda sudah memaparkan kerapuhan hidup manusia secara telanjang. Kematian tidak lagi menjadi abstraksi statistik, ia menjadi kenyataan konkrit yang menyapa lingkungan terdekat kita.
Di sinilah manusia dipaksa untuk melangsungkan pergulatan eksistensial paling elementer. Dialektika antara rasa takjub (awe) dan rasa gentar (terror) yang dialami bangsa-bangsa Bahari purba ribuan tahun lalu, dialektika yang membidani lahirnya mitos, filsafat, dan sains pada hakikatnya bersumber dari konfrontasi manusia dengan enigma kematian.
Manusia berfilsafat dan bersains untuk memaknai hidup justru karena ia sadar akan limit eksistensinya yang fana. Akan tetapi, di era modern saat ini, makna ideal dari ziarah sains itu mengalami penyempitan yang mengkhawatirkan.
Saat ditanya mengenai alasan mengapa seseorang mempelajari kosmologi atau filsafat, respon yang kerap muncul dari sudut pandang utilitarian adalah pertanyaan pragmatis yang dingin,"Apa kegunaan langsung ilmu tersebut bagi kehidupan sehari-hari dan pendapatan ekonomi?"
Keterjeratan kita pada logika utilitas ini berakar dari pergeseran paradigma sains sejak abad ke-16 dan ke-17. Misi ideal sains sebagai ikhtiar contemplatif untuk menemukan Kebenaran (Truth) bergeser secara radikal tatkala Francis Bacon mendengungkan doktrin Scientia Operativa, sains yang diorientasikan untuk dominasi, penerapan praktis, kegunaan instrumen, dan hasil material.
Melalui Revolusi Industri hingga era komputasi modern, scientia operativa menjelma menjadi garda terdepan perkembangan peradaban karena menghasilkan keuntungan ekonomi secara melimpah serta memberikan kemudahan teknis bagi hidup manusia.
Kejenutan terbesarnya terlihay pada peminggiran secara sistematik terhadap basic sciences dan filsafat. Ada kecenderungan dangkal yang menganggap ilmu-ilmu dasar seperti kosmologi murni tidak memberi manfaat langsung.
Padahal, tanpa fondasi teoretis yang dibangun oleh ilmu-ilmu dasar, seluruh proyeksi ilmu terapan dan inovasi teknologi akan mengalami stagnasi total. Sains terapan tanpa pengayoman ilmu murni dan filsafat akan kehilangan arah etisnya, bermetamofosis menjadi instrumen mekanis yang dingin dan tidak peduli pada eksistensi manusia.
Hubungan manusia dengan alam telah terdistorsi secara parah. Manusia memandang alam belaka sebagai objek eksploitasi (resource) yang siap dirampok demi pemenuhan kalkulasi utilitas jangka pendek.
Kita seakan lupa bahwa manusia dan alam merupakan satu kesatuan kosmologis yang terhubung secara organis. Kita terasing dari bumi yang memberi kita kehidupan, dan terasing dari langit yang memberi kita perspektif keagungan.
Oleh sebab itu, tugas kita bersama adalah mengembalikan sains pada ruh primordialnya. Saya ingin memfasilitasi generasi mendatang agar tidak sekadar tumbuh menjadi teknokrat-teknokrat dingin yang mahir mengkalkulasi data, tapi menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kedalaman kearifan (sapientia) dan keutamaan etis (virtus).
Hanya dengan kembali menyadari kecilnya posisi kita di tengah keagungan jagat raya, manusia sanggup bersikap santun terhadap alam, peduli pada sesama, dan menemukan kembali makna otentik dari eksistensinya di bumi ini.
