Konten dari Pengguna

Ribut Perkara Bahasa, Lupa Bahwa Indonesia Hidup dalam Ratusan Bahasa

Rahayu Rindy

Rahayu Rindy

Sociology Education student at Universitas Negeri Jakarta.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahayu Rindy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Linimasa media sosial X beberapa hari terakhir terasa lebih riuh dari biasanya. Balas-balasan komentar bermunculan, lengkap dengan parodi logat dan sindiran tentang kemampuan berbahasa Inggris. Sebagian menanggapinya dengan tawa sarkas, sebagian lainnya merasa tersinggung dan memilih membalas. Bahasa, yang semestinya menjadi jembatan untuk bertukar pikiran, perlahan bergeser menjadi arena adu gengsi. Di tengah keramaian itu, muncul pertanyaan sederhana: sejak kapan bahasa dijadikan ukuran tunggal untuk menilai harga diri dan kecerdasan seseorang?

Ilustrasi keberagaman budaya dan bahasa dalam masyarakat global. Sumber foto: Pexels.com by Alexas Fotos
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keberagaman budaya dan bahasa dalam masyarakat global. Sumber foto: Pexels.com by Alexas Fotos

Di ruang digital yang serba cepat, bahasa memang kerap memikul beban lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia menjadi simbol modernitas, pendidikan, bahkan status sosial. Kemampuan menggunakan bahasa global seperti Inggris sering diposisikan sebagai tolok ukur kecakapan intelektual. Maka ketika ada kesalahan tata bahasa atau aksen yang dianggap “tidak standar”, yang tersentuh bukan hanya persoalan grammar, melainkan harga diri. Polemik ini pun membesar, seolah-olah kefasihan adalah satu-satunya tanda kemajuan.

Namun di tengah perdebatan itu, ada satu kenyataan yang jarang disadari: Indonesia sejak lama hidup dalam realitas multibahasa. Ribut tentang satu atau dua bahasa asing di media sosial sebenarnya hanyalah riak kecil di atas lautan keragaman bahasa yang telah kita arungi selama berabad-abad.

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Fakta ini menempatkan kita sebagai salah satu negara dengan keragaman linguistik terbesar di dunia. Bahasa Indonesia sendiri lahir sebagai lingua franca, atau bahasa pemersatu, yang pada awalnya bukan bahasa ibu bagi sebagian warganya. Artinya, sejak dini banyak orang Indonesia sudah terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa dalam hidupnya.

Dalam keseharian, hal ini terjadi begitu alami hingga sering tak dianggap istimewa. Di rumah, seseorang mungkin berbicara dalam bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Minang, atau bahasa daerah lainnya untuk mengekspresikan kedekatan. Di sekolah atau kantor, ia beralih ke Bahasa Indonesia yang lebih formal. Di ruang digital atau forum profesional internasional, bahasa Inggris menjadi alat komunikasi. Perpindahan ini berlangsung tanpa banyak kita sadari. Kita tidak sekadar mengganti kosakata; kita sedang menyesuaikan cara pandang, nada, bahkan cara menempatkan diri.

Kebiasaan berpindah bahasa melatih kepekaan membaca situasi. Ia membentuk kelenturan sosial berupa kemampuan untuk memahami konteks dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas. Multilingualisme di Indonesia bukan respons terhadap ejekan di media sosial, bukan pula tren sesaat. Ia adalah hasil sejarah panjang interaksi antarbudaya, perdagangan, migrasi, dan upaya menyatukan perbedaan dalam satu negara kepulauan yang luas. Ia tumbuh sebagai kebutuhan, bukan sebagai pencitraan.

Bahasa Bukan Arena Lomba

Media sosial sering kali memperbesar konflik yang sebenarnya dangkal. Satu komentar bisa dengan mudah melebar menjadi penilaian terhadap satu bangsa. Padahal kemampuan berbahasa tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia dipengaruhi akses pendidikan, lingkungan sosial, kebutuhan praktis, dan sejarah masing-masing masyarakat. Mengukurnya hanya dari standar aksen atau tata bahasa tertentu berarti mengabaikan kompleksitas itu.

Ribut perkara bahasa mungkin akan mereda seiring bergantinya tren di linimasa. Namun kenyataan bahwa Indonesia hidup dalam ratusan bahasa tidak bergantung pada polemik sesaat. Multilingualisme bukanlah arena lomba untuk menentukan siapa yang paling fasih. Ia adalah bagian dari keseharian yang membentuk cara kita memahami dunia dan satu sama lain.

Di tengah riuhnya perdebatan, barangkali yang perlu diingat bukan siapa yang paling sempurna tata bahasanya, melainkan bahwa kita tumbuh dalam tradisi yang mengajarkan cara menyambung perbedaan lewat bahasa. Dan itu adalah kekayaan yang tak perlu dibuktikan lewat perang komentar, karena ia sudah hidup dalam keseharian kita.