Konten dari Pengguna

Tahun Baru, Target Baru?

Rahayu Rindy

Rahayu Rindy

Sociology Education student at Universitas Negeri Jakarta.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahayu Rindy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi catatan harian yang merepresentasikan semangat awal tahun. Sumber foto: Pexels.com by Bich Tran
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi catatan harian yang merepresentasikan semangat awal tahun. Sumber foto: Pexels.com by Bich Tran

Pergantian tahun sering dipahami sebagai titik awal untuk memperbaiki hidup. Kalender yang berganti membawa harapan baru sekaligus daftar target yang harus dicapai. Di ruang publik dan media sosial, resolusi tahun baru tampil sebagai penanda kemajuan diri, seolah setiap individu dituntut memulai tahun dengan versi hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Target-target tersebut jarang lahir di ruang yang benar-benar personal. Banyak resolusi terbentuk dari standar sosial yang beredar luas, mulai dari tuntutan karier yang terus naik, tubuh yang lebih ideal, hingga kehidupan yang tampak produktif dan tertata. Dalam konteks ini, resolusi tidak hanya menjadi rencana pribadi, tetapi juga cerminan nilai masyarakat modern yang mengagungkan pencapaian dan kecepatan.

Media sosial memperkuat tekanan tersebut. Linimasa dipenuhi unggahan tentang pencapaian, perencanaan hidup, dan slogan motivasi yang seragam. Perbandingan sosial menjadi sulit dihindari, dan resolusi berubah menjadi ukuran keberhasilan yang sering kali tidak realistis. Akibatnya, awal tahun justru diiringi kecemasan, rasa tertinggal, dan ketakutan gagal sebelum benar-benar memulai.

Ilustrasi aktivitas kerja dan tuntutan target di awal tahun. Sumber foto: Pexels.com by Ruslan Burlaka

Dari sudut pandang ekonomi sosial, budaya resolusi juga berkaitan dengan logika produktivitas. Waktu diperlakukan sebagai aset yang harus dioptimalkan, sementara jeda dan kegagalan dipandang sebagai hambatan. Individu didorong untuk terus bergerak, berbenah, dan meningkatkan diri tanpa selalu diberi ruang untuk memahami kondisi sosial dan emosionalnya sendiri.

Namun, tahun baru tidak selalu harus dimaknai sebagai ajang menumpuk target. Ia bisa menjadi ruang refleksi yang lebih manusiawi, tempat individu meninjau ulang ritme hidup dan relasi sosialnya. Alih-alih menambah beban, momen ini dapat digunakan untuk memahami batas diri dan kebutuhan akan keseimbangan.

Dengan cara pandang tersebut, resolusi tidak lagi sekadar daftar tuntutan, melainkan proses yang lebih sadar dan kontekstual. Tahun baru pun tidak hanya menandai perubahan waktu, tetapi juga kesempatan untuk membangun relasi yang lebih sehat dengan diri sendiri dan lingkungan sosial.