Berbahayakah Tradisi Unik Masyarakat Indonesia Mengonsumsi Daging Satwa Liar?

Dosen di Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rahayu Woro Wiranti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konsumsi daging satwa liar di berbagai wilayah Indonesia masih menjadi bagian dari tradisi dan budaya lokal yang sudah berlangsung turun-temurun. Daging kelelawar buah, ular, biawak, hingga trenggiling, sering kali dianggap memiliki khasiat tertentu, dari meningkatkan stamina hingga menyembuhkan penyakit tertentu. Dalam konteks budaya, praktik ini tidak hanya dimaknai sebagai konsumsi biasa, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan identitas komunitas. Namun, di tengah semakin meningkatnya kesadaran global terhadap kesehatan masyarakat dan pelestarian keanekaragaman hayati, praktik ini mulai menimbulkan sebuah pertanyaan besar: Apakah konsumsi daging satwa liar masih relevan dan aman di era modern?
Tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi adalah bagian penting dari identitas suatu masyarakat. Namun, tradisi yang terus dipertahankan tanpa mempertimbangkan perkembangan dari ilmu pengetahuan dapat membawa risiko besar. Salah satu kekhawatiran utama yaitu munculnya potensi penyebaran penyakit zoonotik – penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Sejumlah wabah besar di dunia, seperti SARS, Ebola, hingga yang paling baru, COVID-19, diduga kuat berasal dari interaksi manusia yang intensif dengan satwa liar, termasuk melalui konsumsi dagingnya. Sistem kekebalan satwa liar yang berbeda dengan manusia sering kali membawa mikroorganisme berbahaya yang tidak menunjukkan gejala pada hewan, tetapi dapat menjadi sangat mematikan saat menular ke manusia. Peranan ini dikenal sebagai reservoir.
Dari sudut pandang kesehatan, konsumsi daging satwa liar yang tidak melalui proses-proses pengolahan dan pengawasan ketat seperti daging ternak, menyimpan banyak risiko terutama menularkan agen mikroorganisme seperti virus, bakteri, atau parasit berbahaya ke manusia atau lingkungan. Selain itu, habitat alami mereka yang terganggu akibat deforestasi dan maraknya perburuan liar juga meningkatkan stres pada hewan, yang justru memicu pelepasan patogen ke lingkungan sekitar.
Selain berisiko bagi kesehatan manusia, perburuan satwa liar untuk konsumsi juga berdampak pada kerusakan ekosistem. Banyak spesies yang saat ini statusnya terancam punah, sebagian besar karena perburuan yang tidak terkendali. Ini bukan hanya masalah konservasi, tetapi juga menyangkut ketahanan ekosistem yang bisa berdampak balik ke manusia, seperti terganggunya rantai makanan atau meningkatnya populasi hama.
Bukan berarti tradisi nenek moyang harus dilupakan, tetapi perlu ada "reinterpretasi budaya" yang lebih adaptif dan selaras dengan perkembangan ilmu kesehatan dan pelestarian lingkungan. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci penting – bukan hanya melarang, tetapi memberikan alternatif dan pemahaman yang mendalam tentang risiko dan dampaknya.
Pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan organisasi masyarakat sipil harus duduk bersama untuk merumuskan pendekatan yang tepat. Ini termasuk penguatan regulasi perburuan satwa liar, pengawasan pasar tradisional, dan promosi sumber protein hewani alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Mengkonsumsi daging satwa liar memang telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya. Namun, di era modern, kita ditantang untuk menyeimbangkan nilai budaya dengan ilmu pengetahuan. Demi kesehatan bersama dan masa depan ekosistem yang lestari, sudah saatnya kita meninjau ulang tradisi ini – bukan untuk menghapus, tetapi untuk merawatnya dengan cara yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
