Konten dari Pengguna

BRICS di Afrika: Alternatif Kerja Sama atau Bentuk Baru Ketergantungan?

Rahel Riyanto

Rahel Riyanto

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahel Riyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.istockphoto.com/en/photo/brazil-russia-india-china-south-africa-and-white-flag-print-screen-on-wooden-figure-gm2169682993-589656614
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.istockphoto.com/en/photo/brazil-russia-india-china-south-africa-and-white-flag-print-screen-on-wooden-figure-gm2169682993-589656614

Dalam beberapa tahun terakhir, Afrika semakin menjadi pusat perhatian dalam dinamika geopolitik global. Kehadiran BRICS melalui berbagai skema kerja sama menunjukkan adanya pergeseran kekuatan dunia ke arah Global South. Investasi, pembangunan infrastruktur, hingga kemitraan ekonomi yang ditawarkan membuka peluang baru bagi negara berkembang di kawasan tersebut.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul pertanyaan kritis mengenai arah dan dampak jangka panjangnya. Apakah kerja sama ini benar-benar menciptakan hubungan yang setara, atau justru melahirkan bentuk baru ketergantungan ekonomi dan dominasi global? Dalam konteks ini, penting untuk membaca ulang peran BRICS di Afrika tidak hanya sebagai alternatif, tetapi juga sebagai aktor dengan kepentingan strategisnya sendiri.

Ekspansi BRICS di Afrika: Alternatif Kerja Sama Global

Masuknya BRICS ke Afrika mencerminkan perubahan dalam pola kerja sama internasional yang tidak lagi didominasi oleh aktor Barat. Negara-negara dalam BRICS menawarkan skema kerja sama yang lebih fleksibel, terutama dalam bidang investasi dan pembangunan infrastruktur. Hal ini memberikan peluang bagi negara-negara Afrika untuk mengakses sumber pendanaan alternatif di luar lembaga seperti IMF dan World Bank.

Selain itu, kerja sama ini juga memperkuat posisi Afrika dalam dinamika Global South. Dengan adanya BRICS, negara-negara Afrika memiliki lebih banyak pilihan dalam menjalin kemitraan internasional, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu blok kekuatan global. Dalam konteks ini, BRICS sering dipandang sebagai simbol munculnya tatanan dunia multipolar yang lebih inklusif.

Sumber: https://pixabay.com/photos/road-construction-4747950/

Antara Pembangunan dan Ketergantungan Ekonomi

Di balik peluang yang ditawarkan, kerja sama antara BRICS dan Afrika juga menimbulkan kekhawatiran terkait ketergantungan ekonomi. Banyak proyek pembangunan yang dibiayai melalui pinjaman jangka panjang, yang pada akhirnya dapat membebani negara penerima. Ketergantungan terhadap investasi asing ini berpotensi melemahkan kemandirian ekonomi jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Lebih jauh, hubungan kerja sama tersebut sering kali menunjukkan adanya ketimpangan kekuatan. Negara-negara besar dalam BRICS memiliki kapasitas ekonomi dan politik yang jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara Afrika. Akibatnya, Afrika cenderung berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam proses negosiasi maupun implementasi kerja sama.

Kondisi ini memunculkan kritik bahwa kerja sama tersebut berpotensi menjadi bentuk baru dari dominasi global. Meskipun tidak bersifat langsung seperti kolonialisme klasik, pola hubungan yang terbentuk dapat menciptakan ketergantungan struktural yang sulit dilepaskan dalam jangka panjang.

Strategi Afrika dalam Menghadapi Dinamika Global

Menghadapi situasi ini, negara-negara Afrika dituntut untuk memiliki strategi yang lebih kuat dalam memanfaatkan kerja sama internasional. Kemampuan untuk menegosiasikan kesepakatan yang adil menjadi kunci agar kerja sama dengan BRICS benar-benar memberikan manfaat yang optimal. Tanpa strategi yang matang, Afrika berisiko hanya menjadi objek dalam dinamika geopolitik global.

Di sisi lain, penguatan kapasitas domestik juga menjadi faktor penting dalam mengurangi ketergantungan. Pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada investasi asing, tetapi juga pada kemampuan negara dalam mengelola sumber daya dan meningkatkan daya saing ekonomi. Dengan demikian, posisi Afrika dalam kerja sama global dapat menjadi lebih seimbang dan menguntungkan dalam jangka panjang.