Konten dari Pengguna

Magang di ATR/BPN: Melihat Proses Alih Media Sertifikat Tanah dari Dekat

Rahfa Azzahra

Rahfa Azzahra

Undergraduate Student at Indonesian University of Education, Survey Mapping and Geographic Information System.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahfa Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sertifikat tanah seringkali terlihat sebagai dokumen akhir yang sederhana. Namun, melalui pengalaman magang di ATR/BPN, Rahfa Shofa Azzahra, mahasiswa Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografis Universitas Pendidikan Indonesia, justru mendapatkan pemahaman baru mengenai proses di baliknya tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Hal ini dirasakan secara langsung ketika terlibat dalam kegiatan magang alih media di Seksi Survei dan Pemetaan.

Pada dasarnya kegiatan alih media merupakan proses mengubah dokumen fisik menjadi data digital. Proses ini diawali dari tahap pemeriksaan dokumen. Buku tanah dan surat ukur yang tersedia harus dicek terlebih dahulu kondisi dan kelengkapannya. Dari tahap ini, terlihat bahwa satu dokumen dapat memuat banyak informasi penting yang harus dibaca dengan teliti.

Setelah dokumen dinyatakan layak, proses berlanjut dengan memahami isi dokumen tersebut. Pada tahap ini, penulis mengenal adanya dua jenis data, yaitu data tekstual dan data spasial. Data tekstual berisi informasi seperti nomor bidang dan luas tanah, sedangkan data spasial berkaitan dengan letak dan bentuk bidang tanah. Keduanya harus saling sesuai agar tidak menimbulkan kesalahan pada tahap berikutnya.

Foto pengerjaan textual untuk mengecek informasi setifikat fisik sesuai dengan sertifikat digital. Tangerang Selatan, Kamis (12/02/2026). Dok. pribadi

Selanjutnya, data mulai diinput ke dalam sistem digital, seperti aplikasi Komputerisasi Kegiatan Pertanahan (KKP). Data tekstual dari buku tanah dimasukkan sebagai informasi utama, sementara data spasial dihubungkan dengan bidang tanah yang bersangkutan. Proses ini membutuhkan ketelitian karena setiap data harus sesuai dengan dokumen asli.

foto data spasial untuk mencocokan bentuk bidang dan luas bidang. Tangerang Selatan, Selasa (31/03/2026) Dok. Pribadi

Setelah data tekstual dan spasial sudah diinput. Dara tersebut harus dicek kembali melalui sistem yang digunakan, termasuk melihat kesesuaian bidang tanah pada KKP serta penyusunan visual melalui aplikasi Tata Letak. Pada tahap ini, dilakukan pengecekan apakah bentuk bidang dan luas tanah sudah sesuai dengan data yang dimasukkan. Tahap ini menjadi penting untuk memastikan bahwa data spasial dan tekstual sudah selaras.

Setelah proses pengecekan selesai, maka dapat melakukan validasi menggunakan aplikasi Sistem Informasi Tata Ruang dan Tanah (SiTata). Dalam praktik yang penulis amati, SiTata digunakan sebagai tahap akhir untuk memastikan bahwa data tekstual dan spasial sudah benar, sebelum diajukan ke tahap berikutnya.

Proses pengesahan sertifikat analog menuju ke elektronik menggunakan Aplikasi SiTata. Tangerang Selatan, Kamis (19/02/2026) Dok. Pribadi

Setelah data dinyatakan valid, proses berlanjut ke tahap penerbitan dalam bentuk sertifikat elektronik melalui Tanda Tangan Elektronik (TTE). Pada tahap ini, data yang telah melalui proses pengecekan dan validasi digunakan sebagai dasar dalam penerbitan sertifikat tanah secara digital. Hal ini menunjukkan bahwa hasil akhir yang terlihat sederhana sebenarnya merupakan hasil dari rangkaian proses yang panjang dan terstruktur.

Melalui rangkaian tahapan tersebut, penulis menyadari bahwa proses yang terlihat sederhana ini ternyata melibatkan banyak langkah yang saling berkaitan. Setiap tahap, mulai dari membaca dokumen, input data, pengecekan bidang, hingga validasi akhir membutuhkan ketelitian dan pemahaman yang baik.

Pengalaman magang ini memberikan gambaran bahwa proses di balik sertifikat tanah tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga tentang bagaimana data tekstual dan spasial diperiksa, disesuaikan, dan divalidasi secara bertahap. Dari sini, dapat dipahami bahwa hal-hal yang tampak sederhana sering kali menyimpan proses yang tidak sederhana di baliknya.