Konten dari Pengguna

Apakah Kesalehan Seseorang Bisa Diukur dari Gelar Haji?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahiel Khadija Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perjalanan menuju Tanah Suci yang dipenuhi "kelokan" kepentingan manusia. (Sumber: Ilustrasi oleh penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perjalanan menuju Tanah Suci yang dipenuhi "kelokan" kepentingan manusia. (Sumber: Ilustrasi oleh penulis)

Pernahkah kita memperhatikan bahwa gelar "Haji" sering kali dipandang lebih dari sekadar penanda bahwa seseorang telah menunaikan rukun Islam kelima? Di tengah masyarakat, gelar tersebut kerap menjadi simbol kehormatan, bahkan ukuran kewibawaan seseorang. Tidak sedikit orang yang menganggap seseorang akan lebih dihormati setelah menyandang gelar haji. Akibatnya, perjalanan ibadah yang semestinya menjadi urusan personal antara manusia dan Tuhan perlahan bergeser menjadi ruang untuk memperoleh pengakuan sosial.

Fenomena tersebut menjadi realitas yang menarik untuk diangkat dalam karya sastra. Ahmadul Faqih Mahfudz melalui cerpennya di Kompas, Kelok Jalan Menuju Engkau, tidak hanya mengisahkan perjuangan seorang kiai untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga membongkar berbagai persoalan yang mengiringinya, mulai dari tekanan status sosial, kepentingan politik, hingga permainan kekuasaan yang mampu mengaburkan makna ibadah. Pembaca diajak menyadari bahwa jalan menuju Tuhan ternyata tidak selalu lurus. Ada banyak "kelokan" yang harus dilewati, dan tidak semuanya lahir dari kelemahan diri, melainkan juga dari sistem sosial yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap agama.

Untuk melihat bagaimana kritik sosial tersebut dibangun, cerpen ini dikaji menggunakan teori Robert Stanton, khususnya pada aspek fakta-fakta cerita. Stanton membagi fakta cerita ke dalam tiga unsur utama, yaitu alur (plot), karakter (character), dan latar (setting). Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dalam membentuk struktur cerita sekaligus menggerakkan konflik. Namun, dalam cerpen Kelok Jalan Menuju Engkau, karakter dan latar tampil sebagai unsur yang paling dominan karena keduanya menjadi media utama pengarang dalam memperlihatkan pergulatan batin tokoh serta realitas sosial yang melingkupinya.

Potret Integritas Seorang Kiai

Karakter dalam karya fiksi dapat dikenali melalui tindakan, dialog, maupun respons tokoh ketika menghadapi konflik. Dalam cerpen Kelok Jalan Menuju Engkau, Ahmadul Faqih Mahfudz membangun karakter Kiai Badrul Arifin sebagai sosok yang sederhana, berintegritas, dan berusaha menjaga kemurnian niat beribadah. Pengarang tidak secara langsung menyebutkan bahwa tokoh utama adalah pribadi yang teguh memegang prinsip. Sebaliknya, watak tersebut dibangun melalui tindakan dan keputusan-keputusan yang diambil tokoh sepanjang cerita.

Hal tersebut tampak ketika Kiai Badrul menolak tawaran berhaji menggunakan fasilitas dari seorang menteri.

"Berhaji dengan jatah menteri memang nikmat tapi berisiko. Nikmat karena gratis, tanpa antre puluhan tahun seperti orang kebanyakan.... Lagi pula, aku tak mau bergelar Haji Abidin alias haji atas biaya dinas."

Penolakan tersebut memperlihatkan bahwa Kiai Badrul lebih mengutamakan kemurnian niat daripada kemudahan yang ditawarkan. Keputusan itu sekaligus menunjukkan bahwa integritas tokoh dibangun melalui pilihan moral yang diambilnya. Dengan cara tersebut, pembaca dapat menyimpulkan sendiri watak tokoh tanpa harus diberi penjelasan secara langsung oleh pengarang.

Namun, Kiai Badrul tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya bebas dari kegelisahan. Di balik keteguhan prinsipnya, ia tetap merasakan tekanan sosial akibat belum menyandang gelar haji.

"Kiai harus K.H., kalau hanya K., itu pelat nomor kendaraan."

Candaan tersebut bukan sekadar humor antarkiai, melainkan sindiran yang mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap gelar haji. Bagi Kiai Badrul, ucapan itu menjadi tekanan batin yang perlahan memengaruhi keputusannya untuk segera berangkat ke Tanah Suci. Di sinilah tampak bahwa karakter tokoh tidak hanya dibentuk oleh keyakinan pribadinya, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang terus memberi tuntutan.

Karakter Kiai Badrul semakin kuat melalui kehadiran tokoh-tokoh lain. Kiai Jubni menghadirkan pandangan yang lebih pragmatis terhadap hubungan agama dan kekuasaan. Bram menjadi representasi penyalahgunaan kepercayaan, sedangkan Haji Subroto melambangkan kekuatan modal yang rela mengorbankan siapa pun demi kepentingannya. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut membuat karakter Kiai Badrul semakin menonjol karena prinsip hidupnya terus diuji oleh berbagai kepentingan di sekelilingnya.

Puncak perkembangan karakter terjadi ketika seluruh harapan Kiai Badrul runtuh di Bandara Soekarno-Hatta.

"Setelah menunggu sampai tengah malam hingga pagi dan Bram tetap tak muncul dan masih tak bisa dihubungi, aku baru sadar, aku ditipu."

Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi justru menyimpan daya emosional yang kuat. Pengarang tidak menghadirkan luapan kemarahan ataupun ratapan panjang. Kesunyian yang muncul setelah kesadaran itu membuat pembaca ikut merasakan kehancuran batin tokoh. Pada titik inilah karakter Kiai Badrul mencapai perkembangan yang utuh sebagai sosok yang tetap mempertahankan prinsip, meskipun harus menerima konsekuensi yang menyakitkan.

Ruang Sosial yang Membentuk Konflik

Latar dalam cerpen ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga membangun suasana serta memperlihatkan lingkungan sosial yang memengaruhi tindakan tokoh. Ahmadul Faqih Mahfudz menghadirkan latar yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pesantren sehingga cerita terasa realistis sekaligus memperkuat kritik sosial yang ingin disampaikan.

Suasana religius tampak ketika para santri mengiringi keberangkatan Kiai Badrul dengan lantunan selawat.

"Para santri menembang selawat seraya mengiringinya dengan ketipak-ketipuk rebana."

Latar pesantren menghadirkan suasana yang hangat, religius, dan penuh harapan. Pengarang memperlihatkan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, tetapi pada saat yang sama juga menunjukkan adanya budaya yang menempatkan gelar haji sebagai simbol penghormatan.

Hal tersebut semakin terlihat melalui tradisi masyarakat yang memberikan bekal kepada calon jamaah haji.

"Ada yang membawa uang, ada yang membawa bungkusan-bungkusan beras dan gula."

Tradisi tersebut mencerminkan kepedulian dan solidaritas masyarakat. Akan tetapi, dukungan itu justru berubah menjadi beban psikologis bagi Kiai Badrul. Ia merasa tidak hanya membawa harapan pribadinya, tetapi juga harapan seluruh masyarakat yang telah memberikan doa dan kepercayaan. Akibatnya, kegagalan berangkat haji bukan lagi menjadi persoalan individu, melainkan juga persoalan sosial.

Perubahan latar kemudian terjadi ketika cerita berpindah menuju Bandara Juanda dan Bandara Soekarno-Hatta.

"Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, aku berdebar-debar karena Bram tak kelihatan batang hidungnya."

Bandara yang semula menjadi gerbang menuju Tanah Suci justru berubah menjadi ruang lahirnya tragedi. Perpindahan latar dari pesantren yang penuh doa menuju bandara yang dipenuhi kecemasan menciptakan kontras yang tajam antara harapan dan kenyataan. Perubahan suasana tersebut memperkuat konflik sekaligus memperlihatkan perubahan emosi tokoh utama.

Pada bagian akhir cerita, pengarang memperluas fungsi latar melalui konflik tambang emas.

"Haji Subroto tak suka keberadaanku karena aku gigih menggerakkan masyarakat untuk menolak tambang emas di wilayahku."

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tragedi yang dialami Kiai Badrul tidak semata-mata disebabkan oleh penipuan, melainkan berakar pada konflik kepentingan ekonomi dan politik. Dengan demikian, latar dalam cerpen ini tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga merepresentasikan realitas sosial yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan mampu mengintervensi ruang-ruang keagamaan.

Melalui karakter dan latar yang dibangun secara saling berkaitan, Ahmadul Faqih Mahfudz berhasil menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap masyarakat kontemporer. Karakter Kiai Badrul memperlihatkan bahwa integritas selalu menuntut pengorbanan, sedangkan latar menunjukkan bahwa tekanan terbesar sering kali lahir dari lingkungan sosial yang lebih mengutamakan simbol daripada substansi. Pada akhirnya, Kelok Jalan Menuju Engkau mengingatkan pembaca bahwa perjalanan menuju Tuhan tidak hanya diuji oleh kemampuan mencapai Tanah Suci, tetapi juga oleh keberanian mempertahankan prinsip ketika berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, dan tuntutan masyarakat.

Daftar Pustaka:

  • Mahfudz, Ahmadul Faqih. (2026, 23 Mei). "Kelok Jalan Menuju Engkau". Kompas.

  • Stanton, Robert. (2007). An Introduction to Fiction (Terjemahan: Teori Fiksi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.