Mengapa Otak Kita Gemar Membakar Kedamaian dengan Kata "Seandainya"?

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rahiel Khadija Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah beban tak kasatmata yang sering dipikul sendirian oleh para ibu di sekitar kita, sesuatu yang di dunia psikologi sering disebut sebagai krisis identitas. Fenomena ini biasanya menyerang perempuan-perempuan yang dulunya sangat aktif dan berprestasi, namun mendadak harus "mengerem" seluruh ambisinya pasca-pernikahan. Ironisnya, masyarakat kita sering kali melabeli rasa jenuh ini sebagai bentuk kurang bersyukur, padahal yang sedang terjadi adalah perjuangan berdarah-darah di dalam batin seorang perempuan untuk mempertahankan sisa-sisa kewarasannya. Perubahan peran yang drastis dari ruang publik yang dinamis menuju ruang domestik yang monoton sering kali memicu guncangan emosional yang hebat, namun sayangnya kerap kali diabaikan oleh lingkungan sekitar.
Sentilan emosional tentang krisis pilihan hidup inilah yang digambarkan secara luar biasa dalam cerpen terbaru di Kompas berjudul "Ibu" karya Zulfah Nur Alimah. Cerpen ini tidak sedang menjual kisah melankolis yang klise. Penulis justru membongkar sisi psikologis yang sangat tabu: bagaimana rasa tertinggal dari teman sebaya bisa menjadi racun yang menggerogoti kewarasan seorang ibu rumah tangga di tengah padatnya rutinitas domestik. Penulis dengan sangat lihai merajut detail-detail keseharian yang tampak sederhana menjadi sebuah teror psikologis yang nyata bagi sang tokoh utama.
Kalau kita intip dari kacamata teori fiksi Robert Stanton, struktur cerita ini sebenarnya dibangun lewat tiga elemen utama: karakter, alur, dan latar yang saling mengunci. Tapi, mari kita simpan dulu urusan teori itu di laci. Mari kita langsung selami bagaimana cerita ini mengalir begitu dekat, lengkap dengan kutipan-kutipan pilu yang terasa menampar realitas kehidupan kita sendiri. Lewat pendekatan ini, kita dapat melihat bagaimana fiksi serius mampu bekerja sebagai cermin yang memantulkan keretakan-keretakan tersembunyi dalam kehidupan sosial kita.
Digerakkan oleh Rasa Tertinggal
Titik balik emosional dalam cerpen ini tidak dipicu oleh pertengkaran hebat yang meledak-ledak, melainkan oleh dua momen pertemuan yang sangat sunyi namun mematikan. Momen pertama adalah pertemuan digital melalui layar ponsel. Saat si Ibu sedang beristirahat di sela-sela mengurus bayinya, ia membuka Facebook dan melihat unggahan Fakhruddin Saleh, mantan teman kampusnya dulu yang kini sukses, mapan, dan dihormati sebagai penceramah besar. Momen intim yang dihabiskan di atas kasur sembari menggulir gawai tersebut justru berubah menjadi ruang penghakiman bagi dirinya sendiri.
Detik itu juga, sebuah konflik batin yang luar biasa langsung menghantam dadanya. Pikiran si Ibu langsung terseret ke masa lalu, memutar ulang memori tentang lamaran yang dulu ia tolak akibat rasa bimbang dan ketakutan akan kemiskinan. Penulis menggambarkan penyesalan batin itu dengan sangat getir melalui rentetan kalimat pengandaian yang merusak kedamaian batinnya:
"...seandainya dulu ia menerima lamaran Fakhruddin Saleh, hidupnya mungkin telah sempurna: dunia dan akhirat kini telah berada dalam genggamannya. Seandainya ia menikah dengan Fakhruddin Saleh, mungkin dirinya telah dipanggil ustazah."
Belum sempat luka batin akibat rasa tertinggal secara digital itu sembuh, alur cerita membawa si Ibu pada hantaman kedua di dunia nyata. Ketika sepeda motornya tiba-tiba mogok di pinggir jalan akibat keteledorannya yang lupa mengisi bensin, ia mendadak berpapasan dengan Sinta, teman kuliahnya yang kini tampil glamor dan mengendarai mobil merah menyala. Pertanyaan kasual dari Sinta laksana peluru yang telak meruntuhkan sisa-sisa harga diri si Ibu di ruang publik:
“Kenapa kamu tidak bekerja? Mengajar misalnya? Di kampus dulu kamu termasuk mahasiswi yang menonjol.”
Karakter yang Kehilangan Jiwa Lamanya
Cerita ini akan terasa biasa saja jika tokoh "Ibu" digambarkan sebagai wanita yang memang sejak awal malas atau tidak berpendidikan. Namun, penulis justru sengaja membangun karakter si Ibu dengan latar belakang yang bikin hati kita mencelos. Empat belas tahun yang lalu, wanita berdaster kusam ini adalah seorang mahasiswi jurusan Ushuluddin yang sangat cerdas, vokal, dan fasih berdebat soal emansipasi. Ia adalah sosok yang digadang-gangang bakal punya karier cemerlang di dunia akademis, sebuah potensi besar yang diramal oleh dosen-dosennya akan berujung di Kementerian Agama.
Namun, apa yang terjadi setelah bertahun-tahun tenggelam dalam urusan domestik? Siklus mengurus anak, dapur, dan setrikaan yang menggunung tanpa jeda ternyata pelan-pelan mereduksi kapasitas berpikirnya. Ia mengalami krisis identitas yang akut ketika menatap bayangannya sendiri secara mendalam:
“Matanya memindai sosok di hadapannya: wanita berdaster, rambut sebahu yang tampak berminyak, wajah kusam tanpa riasan, and sepasang payudara yang menggelambir.”
Yang paling menyedihkan, rutinitas yang monoton itu membuat otaknya "macet total" bahkan hanya untuk sekadar mengingat nama Sinta, teman seangkatannya sendiri yang dulu begitu akrab di lingkungan kampus. Karakter si Ibu menjadi potret nyata tentang bagaimana sebuah potensi besar bisa perlahan melandai, menyusut, dan luruh akibat kelelahan fisik dan mental yang tidak pernah divalidasi oleh lingkungan terdekatnya.
Latar yang Menjadi Penjara Angan-Angan
Latar tempat di dalam cerpen ini juga dipilih dengan sangat emosional untuk menggambarkan keterjebakan sang tokoh. Rumah tidak lagi menjadi tempat pulang yang menenangkan, melainkan sebuah ruang yang mengisolasi angan-angannya. Kita diajak melihat bagaimana si Ibu terkepung oleh dapur yang kacau, setrikaan yang menggunung di sudut ruang TV, dan mainan yang bertebaran di mana-mana. Rasa lelah ini makin lengkap dengan ketidakpekaan sang suami yang justru menganggap enteng masalah kesehatan mental istrinya yang terus memburuk:
“Saat ia menceritakan kondisinya yang pelupa kepada suaminya, dan mengatakan bahwa ia sepertinya membutuhkan bantuan psikiater, lelaki itu hanya tertawa. Sejurus kemudian, jemari kasar lelaki itu telah menyusup ke dalam celana dalamnya, disusul suara napas terengah yang memenuhi ruangan.”
Dan pada akhir alur cerita, seluruh beban emosional itu meledak di ruang paling belakang, paling sempit, dan paling gelap di dalam rumah: kamar mandi. Kamar mandi ini berubah menjadi ruang isolasi terakhir tempat ia memuntahkan segala kemuakan fisik dan batinnya tanpa ada satu orang pun yang mendengarnya:
“Di dalam kamar mandi yang gelap, ia membungkuk di depan kloset, mengeluarkan air liur yang mengental. Tangannya mencengkeram perutnya yang kembali bergejolak; merontokkan sebuah rahasia kecil yang diam-diam mulai mengakar di rahimnya.”
Di ruang gelap itulah, sebuah rahasia biologis terungkap bahwa ada kehamilan baru yang mulai tumbuh di rahimnya. Kehamilan ini seolah menjadi pintu baja yang tertutup rapat, mengunci nasibnya untuk tetap tinggal di dalam labirin domestik dan memaksa si Ibu untuk benar-benar mengubur sisa-sisa impian masa mudanya secara mutlak.
Refleksi Bagi Perempuan Modern
Pada akhirnya, cerpen "Ibu" karya Zulfah Nur Alimah ini adalah sebuah refleksi yang sangat tajam bagi kehidupan sosial kita hari ini. Di masyarakat kita, seorang ibu rumah tangga sering kali dibebani oleh ekspektasi budaya yang sangat berat: mereka dituntut untuk selalu tampil ikhlas, serbabisa, dan mengorbankan seluruh eksistensi dirinya demi label "ibu yang baik". Penulis berhasil mengetuk kesadaran kita bahwa pengorbanan tanpa batas sering kali menyisakan luka batin yang menganga.
Cerpen ini membuktikan bahwa di era modern, tantangan menjadi ibu rumah tangga menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Media sosial dan pertemuan tak sengaja dengan masa lalu sering kali menyiramkan bensin penyesalan pada api kelelahan yang sudah membakar keseharian. Siksaan kata "seandainya" menjadi hantu digital yang siap menerkam kapan saja kita lengah.
"Ibu" bukan sekadar cerita pendek biasa; ini adalah sebuah monumen peringatan sunyi bagi kita semua. Sebuah pengingat bahwa di balik pintu rumah yang tampak tenang, acapkali ada identitas seorang perempuan yang sedang luruh dalam sepi, berjuang sendirian melawan rasa tertinggal demi menjaga kewarasannya yang tersisa.
Daftar Pustaka
• Alimah, Zulfah Nur. (2026, 24 Juni). "Ibu". Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/ibu-2
• Stanton, Robert. (2007). An Introduction to Fiction (Terjemahan: Teori Fiksi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
