Siapa yang Terakhir Kali Menanyakan Kabar Ale?

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahiel Khadija Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang terakhir kali menanyakan kabar Ale? Pertanyaan itu terus terngiang setelah saya menutup novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna.
Bayangkan kamu tahu persis kapan hidupmu akan berakhir, karena kamu sendiri yang menentukannya. Itulah posisi Ale, pria berusia 37 tahun yang sudah terlalu lelah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa dukungan keluarga, tidak punya teman dekat, dan menjadi korban perundungan di sekolah. Setelah dewasa, ia didiagnosis mengalami depresi akut. Usahanya untuk diterima orang lain selalu berujung gagal, sampai ia memutuskan bahwa dua puluh empat jam lagi adalah batas akhirnya.
Namun sisa waktu itu tidak diisi dengan tangisan. Ale justru sibuk menyiapkan “perpisahan” yang rapi. Ia membereskan tempat tinggalnya, membeli makanan mahal yang tak pernah berani ia nikmati, lalu bernyanyi sampai puas di karaoke. Semua sudah beres, tinggal satu langkah terakhir. Tetapi perutnya berbunyi. Ale pun memutuskan untuk makan dulu, dan yang ia pilih adalah seporsi mie ayam. Dari keputusan kecil itulah kita diajak menyaksikan apa yang terjadi pada rencana besarnya.
Novel ini ditulis oleh Brian Khrisna, penulis kelahiran Bandung. Bukunya setebal 216 halaman dan diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) pada Januari 2025, dengan genre fiksi bertema kesehatan mental. Brian sudah lama menulis. Ia mulai berkarya sejak 2010 dengan beragam bentuk, mulai dari puisi, prosa, hingga cerpen. Namun, novel inilah yang membuat namanya dikenal luas. Hanya dalam waktu sekitar satu tahun, bukunya mencapai cetakan ke-100, dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Pengakuan pun datang untuk penulisnya: Brian dinobatkan sebagai Writer of the Year dalam IKAPI Awards 2026.
Menurut saya, ada tiga hal yang membuat novel ini pantas dibahas. Pertama, keberaniannya membicarakan depresi, topik yang di sekitar kita masih sering dibungkam atau dianggap sepele. Kedua, pilihan simbolnya. Mie ayam bukan makanan istimewa, justru karena itu ia terasa dekat dan mudah dibayangkan siapa saja. Ketiga, buku ini membuktikan bahwa cerita bertema berat tidak harus ditulis dengan bahasa yang berat. Kita bisa membacanya dengan santai, tetapi pulang membawa banyak pikiran.
Kelebihan yang paling terasa menurut saya adalah cara buku ini memperlakukan tokohnya. Ale tidak dijadikan korban yang patut dikasihani, tidak pula dijadikan sosok yang bijak. Ia manusia biasa dengan kekurangan dan luka yang tidak dirapikan. Karena itu, pembaca tidak merasa sedang digurui, melainkan sedang diajak berdiri di samping Ale. Menurut saya, kejujuran seperti inilah yang sering hilang dari cerita-cerita tentang kesehatan mental.
Kelebihan berikutnya ada pada bahasanya. Kalimat-kalimatnya sederhana dan mudah diikuti, sehingga pembaca awam pun bisa memahami tanpa perlu mengerti istilah psikologi. Menurut saya, kesederhanaan itu justru kekuatan, karena pesannya sampai tanpa harus dibungkus hiasan kata. Ada pula unsur humor getir di beberapa bagian, yang membuat suasana tidak terus-menerus menekan. Ilustrasi yang menyertai ceritanya juga membantu pembaca tetap betah dari halaman ke halaman.
Meski begitu, ada beberapa hal yang menurut saya perlu dicatat. Cerita yang berpusat pada satu tokoh dalam waktu yang singkat membuat alurnya terasa lurus dan sederhana. Pembaca yang menyukai konflik berlapis dan plot penuh kejutan mungkin merasa kurang ditantang. Selain itu, tema yang diangkat memang berat. Bagi pembaca yang sedang berada di masa sulit, buku ini bisa terasa terlalu dekat dan menguras emosi, sehingga lebih baik dibaca saat kondisi hati cukup stabil. Terakhir, pesan harapan di dalamnya disampaikan dengan cukup terang, sehingga ruang untuk menafsirkan makna sendiri terasa agak terbatas.
Setelah menimbang semuanya, saya memberi novel ini nilai 4 dari 5. Buku ini bukan bacaan yang berusaha menyelesaikan masalah pembacanya, tetapi bacaan yang mau menemani. Ia mengingatkan kita bahwa orang yang tampak baik-baik saja bisa sedang menanggung beban yang tidak terlihat, dan bahwa kepedulian kecil seperti mau mendengarkan atau mengajak makan bisa berarti lebih besar daripada yang kita kira. Mungkin pertanyaan sederhana seperti “kamu baik-baik saja?” adalah hal yang paling jarang kita ucapkan, padahal bisa jadi itu yang paling dibutuhkan orang di sekitar kita.
Saya merekomendasikan buku ini untuk remaja akhir, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin lebih memahami perasaan orang lain maupun dirinya sendiri. Bacalah dengan hati-hati, dan bila ada bagian yang terasa terlalu mengena, jangan ragu bercerita kepada orang yang kamu percaya atau menemui tenaga profesional.
Daftar Pustaka:
Khrisna, Brian. 2025. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Jakarta: Grasindo.
