Prokrastinasi Belajar: Kenapa Menunda Padahal Ujian Sudah Dekat?

Menuliskan hal-hal sederhana yang sering kita temui dari sudut pandan seorang mahasiswa jurusan: pendidikan ekonomi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari rahma aulia ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahu ujian tinggal beberapa hari lagi, tapi tangan malah sibuk scroll media sosial. Besoknya berjanji akan mulai belajar, lalu besoknya lagi begitu juga. Kalau ini terdengar akrab, kamu tidak sendirian. Dalam psikolog pendidikan, kebiasaan ini disebut prokrastinasi akademik, dan penyebabnya ternyata bukan sekadar soal malas.
Saya pernah punya tugas besar dengan tenggat dua minggu. Selama sepuluh hari, laptop sudah terbuka, tapi yang saya kerjakan hanya merapikan meja, membalas chat, dan menonton video "sebentar saja". Baru di malam terakhir saya panik dan mengerjakan semuanya sekaligus. Hasilnya selesai, tapi capek dan kualitasnya jauh dari yang sebenarnya bisa saya capai.
Prokrastinasi Bukan Sekadar Malas
Menunda bukan berarti seseorang tidak punya niat belajar. Justru banyak yang sangat ingin belajar, tapi tidak kunjung memulai. Meta-analisis Steel (2007) terdapat berbagai penelitian menemukan bahwa prokrastinasi berkaitan dengan rendahnya keyakinan akan kemampuan diri, impulsivitas, tugas yang terasa tidak menyenangkan, dan hadiah yang masih terasa jauh. Prokrastinasi juga berhubungan dengan performa akademik yang lebih rendah.
Artinya, ini lebih milih mengelola perasaan dan dorongan dari pada masalah karakter.
Menurut Sirois dan Pychyl (2013), prokrastinasi sering menjadi cara untuk memperbaiki suasana hati dalam jangka pendek. Tugas yang membosankan, sulit, atau membuat cemas terasa tidak nyaman. Dengan menunda dan beralih ke hal yang lebih menyenangkan, kita langsung merasa lega.
Masalahnya, kelegaan itu hanya sementara. Tugasnya itu tetap ada waktunya makin sempit, dan rasa bersalah serta stres justru bertambah. Lingkaran inilah yang membuat kebiasaan menunda sulit di putus.
Manfaat belajar, seperti nilai atau paham materi, baru terasa nanti. Sementara hiburan memberi kesenangan saat itu juga. Otak cenderung lebih tertarik pada imbalan yang dekat dibanding yang yang jauh, sehingga ujian yang masih "seminggu lagi" terasa kurang mendesak dibanding video yang bisa ditonton sekarang.
Itu sebabnya banyak orang baru bergerak saat tenggat sudah sangat dekat. Rasa mendesaknya akhirnya cukup kuat untuk mengalahkan rasa tidak nyaman.
Cara Memutuskan Kebiasaan Menunda
Beberapa langkah kecil yang bisa dicoba:
Pecah tugas jadi bagian kecil
Mulai dengan 10 menit saja
Buat rencana "jika-maka"
Singkirkan pengalih perhatian
Berbaik hati pada diri sendiri
