FOMO di Kalangan Anak Muda: Penyebab dan Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari

Saya seorang mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen S1
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rahma Dwi kartika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi hari, hal pertama yang dilakukan sebagian anak muda setelah bangun tidur adalah membuka media sosial. Ada teman yang sedang berlibur, teman lain yang baru membeli barang keluaran terbaru, sementara yang lainnya mengunggah momen berkumpul bersama. Awalnya, kita hanya berniat melihat-lihat. Namun, tanpa disadari, muncul perasaan ingin ikut merasakan hal yang sama. Kita mulai bertanya-tanya mengapa kehidupan orang lain terlihat begitu menyenangkan, sementara hari-hari kita terasa biasa saja. Bahkan, keinginan untuk membeli barang atau mengunjungi tempat tertentu terkadang muncul bukan karena benar-benar membutuhkan atau menginginkannya, melainkan karena takut tertinggal dari orang lain.
Perasaan tersebut dikenal sebagai FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu ketakutan akan tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau tren yang sedang dinikmati orang lain. Di era media sosial, FOMO semakin dekat dengan kehidupan anak muda karena berbagai aktivitas dan pencapaian dapat dilihat dengan mudah melalui layar ponsel. Tanpa disadari, kebiasaan melihat kehidupan orang lain dapat membuat kita merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tidak dianggap ketinggalan.
Fenomena ini bisa terlihat dari berbagai kebiasaan sederhana. Ketika sebuah tempat makan menjadi viral, banyak orang merasa ingin mengunjunginya agar tidak ketinggalan tren. Ketika suatu produk ramai dibicarakan, muncul keinginan untuk memilikinya meskipun barang serupa sudah tersedia. Begitu pula ketika melihat teman-teman berkumpul tanpa mengajak kita, terkadang muncul perasaan sedih atau takut tidak lagi menjadi bagian dari lingkungan pertemanan. Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa FOMO tidak selalu berkaitan dengan keinginan memiliki sesuatu, tetapi juga dengan kebutuhan untuk merasa diterima dan terhubung dengan orang lain.
Menurut saya, persoalan FOMO bukan terletak pada keinginan untuk mencoba hal baru, melainkan ketika kita mulai kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang benar-benar diinginkan. Mengikuti tren sebenarnya tidak salah selama dilakukan atas dasar keinginan sendiri. Namun, ketika keputusan lebih banyak dipengaruhi oleh rasa takut tertinggal, kita bisa terjebak dalam kebiasaan mengikuti orang lain tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan keadaan diri sendiri. Kita akhirnya melakukan sesuatu bukan karena menyukainya, tetapi karena khawatir dianggap kurang mengikuti perkembangan zaman.
Media sosial turut memperkuat keadaan tersebut. Setiap hari, kita melihat unggahan tentang liburan, pencapaian akademik, pekerjaan, hubungan romantis, hingga gaya hidup yang terlihat menyenangkan. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat seseorang menikmati liburan, tetapi tidak mengetahui kesulitan yang sedang dihadapinya. Kita juga bisa melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui berapa lama waktu dan usaha yang mereka butuhkan untuk mencapainya. Ketika hanya membandingkan kehidupan kita dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain, wajar jika kita merasa tertinggal.
Dampak FOMO tidak berhenti pada perasaan iri atau kurang percaya diri. Kebiasaan mengikuti tren juga dapat membuat seseorang menghabiskan lebih banyak uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan. Keinginan untuk membeli barang yang sedang populer, mencoba tempat yang viral, atau mengikuti berbagai kegiatan bisa muncul secara berulang. Selain itu, terlalu sering memantau media sosial dapat membuat seseorang sulit menikmati waktu istirahat karena pikirannya terus tertuju pada apa yang sedang dilakukan orang lain. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat atau melakukan kegiatan yang disukai justru dihabiskan untuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana FOMO dapat memengaruhi cara kita memandang keberhasilan. Saat melihat teman sebaya sudah menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, atau mencapai impian tertentu, kita mungkin merasa harus segera melakukan hal yang sama. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda. Tidak semua orang harus mencapai sesuatu pada usia yang sama. Jika terus menggunakan pencapaian orang lain sebagai ukuran, kita akan selalu menemukan alasan untuk merasa tertinggal, bahkan ketika sebenarnya sudah mengalami banyak perkembangan.
Lalu, bagaimana cara menghadapi FOMO di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan media sosial? Menurut saya, langkah pertama adalah belajar mengenali alasan di balik setiap keinginan. Sebelum membeli barang atau mengikuti tren, kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah hal tersebut memang dibutuhkan dan disukai, atau hanya dilakukan karena orang lain juga melakukannya. Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih sadar.
Selain itu, membatasi waktu penggunaan media sosial juga dapat menjadi langkah yang bermanfaat. Kita tidak harus selalu mengetahui semua hal yang sedang terjadi atau mengikuti setiap tren yang muncul. Sesekali, memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dari layar ponsel dapat membantu kita kembali memperhatikan hal-hal yang benar-benar penting. Kita juga perlu belajar menghargai pengalaman sederhana, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga, berbincang dengan teman, membaca buku, atau menikmati waktu sendiri tanpa merasa harus membagikannya kepada siapa pun.
Pada akhirnya, tidak semua hal harus kita ikuti dan tidak semua pengalaman yang terlewatkan merupakan sebuah kerugian. Kita tidak harus selalu mengetahui tren terbaru, mengunjungi tempat yang sedang viral, atau mencapai keberhasilan yang sama dengan orang lain untuk merasa cukup. Mengikuti perkembangan zaman memang penting, tetapi mengenali kebutuhan diri sendiri juga tidak kalah penting. Jangan sampai keinginan untuk mengetahui kehidupan orang lain justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupan sendiri. Sebab, hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang berhasil kita ikuti, melainkan tentang bagaimana kita menghargai setiap proses yang sedang kita jalani.
Rahma Dwi Kartika, Mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen S1
