Konten dari Pengguna

Demagogi vs Pedagogi: Peringatan Rocky Gerung untuk Mahasiswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahma Multiatun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pada unggahan ini dihasilkan menggunakan AI (Artificial Intelligence).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pada unggahan ini dihasilkan menggunakan AI (Artificial Intelligence).

Belakangan ini, ruang publik kembali digegerkan oleh pernyataan kontroversial dari Rocky Gerung. Kali ini, sorotan tajam ditujukan kepada gerakan mahasiswa, khususnya terkait narasi kritik yang dilontarkan oleh eks Ketua BEM UI, Tiyo Ardianto. Bagi sebagian orang, ucapan Rocky mungkin terdengar terlalu keras atau bahkan provokatif. Namun, jika kita bedah lebih dalam, kritik tersebut sebenarnya bukan sekadar serangan personal, melainkan sebuah alarm bahaya mengenai pergeseran karakter aktivisme di kampus.

Rocky menyoroti adanya gejala "fasisme" yang mulai menunggangi gerakan mahasiswa. Istilah ini tentu berat, namun konteks yang ia maksud bukanlah fasis dalam arti harfiah rezim otoriter masa lalu, melainkan sikap arogansi intelektual dan penolakan terhadap dialektika yang sehat. Ketika kritik terhadap penguasa hanya berhenti pada label-label emosional tanpa disertai gagasan konstruktif, gerakan itu rentan kehilangan arah. Seperti yang ditegaskan Rocky, narasi semacam itu adalah bentuk penurunan oktaf; sebuah kemunduran dari tradisi berpikir kritis menuju demagogi yang dangkal.

Di sinilah letak urgensi membedakan antara pedagogi dan demagogi. Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesungguhnya dibangun di atas fondasi pedagogi: sebuah proses mendewasakan nalar, mempertanyakan realitas secara rasional, dan menawarkan alternatif solusi yang adil. Kita bisa melihat jejaknya dari Sumpah Pemuda 1928 hingga puncak idealisme 1965-1966. Namun, seiring waktu, terutama pasca-Orde Baru dan memasuki era digital, ada kecenderungan pedagogi ini tergerus. Kritik sering kali diganti dengan hasutan, data diganti dengan asumsi, dan diskusi diganti dengan teriakan di media sosial.

Kekhawatiran Rocky tentang mahasiswa yang "senang dapat Rp20 juta" mungkin terdengar sinis, tetapi itu adalah refleksi atas komodifikasi aktivisme. Ketika gerakan mahasiswa mulai dikooptasi oleh kepentingan politik praktis atau terjebak dalam populisme murahan, maka fungsi kontrol sosialnya lumpuh. Mahasiswa tidak lagi menjadi agen perubahan, melainkan sekadar alat legitimasi atau oposisi yang dibayar. Ini adalah ancaman nyata bagi demokrasi kita. Jika generasi muda hari ini lebih memilih jalan pintas berupa sensasi daripada perjuangan panjang berbasis riset dan pemikiran, maka warisan perjuangan 1998 hanya akan menjadi kenangan manis yang tak berarti.

Tentu saja, menyamakan seluruh gerakan mahasiswa saat ini dengan fasisme adalah generalisasi yang berbahaya. Masih banyak aktivis yang bekerja sunyi, berdiskusi di perpustakaan, dan turun ke lapangan dengan data yang valid. Namun, peringatan Rocky harus kita terima sebagai introspeksi kolektif. Bukan untuk membungkam suara kritis, tapi untuk memastikan bahwa suara kritis tersebut tetap berada di rel pedagogi, bukan tersesat di labirin demagogi.

Gerakan mahasiswa memang selalu dinamis dan berubah sesuai zamannya. Tantangan hari ini bukan lagi sekadar menggulingkan rezim, melainkan melawan apatisme, hoaks, dan pragmatisme politik. Agar tidak ditunggangi oleh kekuatan yang justru merusak esensi pergerakan, mahasiswa perlu kembali merawat nalar. Intinya, perubahan yang berkelanjutan tidak pernah lahir dari emosi sesaat, melainkan dari pikiran yang tenang dan hati yang teguh pada prinsip.