Konten dari Pengguna

Saat Cinta Tak Harus Memiliki: Membaca Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi

Rahma Multiatun

Rahma Multiatun

Mahasiswi Sastra Indonesia 2024, Universitas Mulawarman

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahma Multiatun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI suasana hujan sebagai simbol perasaan dalam novel.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI suasana hujan sebagai simbol perasaan dalam novel.

Tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki. Ada juga yang cukup dirasakan, lalu dilepas pelan-pelan. Nuansa itu terasa kuat dalam novel Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi karya Boy Candra.

Cerita dalam novel ini tidak dibuat dengan konflik yang heboh atau dramatis. Justru alurnya tenang, mengalir seperti hujan yang turun perlahan. Tokohnya menyimpan perasaan yang dalam, tapi tidak pernah benar-benar sampai pada hubungan yang utuh. Di situ justru letak kekuatannya, sederhana, tapi terasa.

Kalau dilihat dari diksi, Boy Candra pakai kata-kata yang dekat dengan keseharian. Tidak ribet, tapi tetap terasa. Kata seperti hujan, jatuh, dan bumi sering muncul, dan itu bukan kebetulan. Kata-kata ini jadi semacam simbol yang terus dibangun sepanjang cerita.

Misalnya di kutipan, “Aku mencintaimu seperti hujan yang jatuh ke bumi.” Kalimat ini simpel, tapi maknanya dalam. Hujan jatuh tanpa pilih-pilih, bumi menerima tanpa banyak syarat. Dari situ, cinta digambarkan sebagai sesuatu yang tulus dan tidak memaksa.

Dari segi struktur kalimat, banyak kalimat yang pendek dan langsung. Ini bikin perasaan yang disampaikan terasa cepat sampai ke pembaca. Tapi di beberapa bagian, ada juga kalimat yang lebih panjang dan mengalir, biasanya saat tokohnya lagi merenung. Jadi ritmenya terasa hidup, tidak datar.

Contohnya di kalimat, “Aku tidak butuh menjadi alasanmu bertahan, aku hanya ingin menjadi bagian dari kenanganmu.” Strukturnya sederhana, tapi emosinya terasa. Tidak perlu panjang lebar, tapi sudah cukup bikin pembaca paham perasaan tokohnya.

Dari sisi majas, metafora jadi yang paling dominan. Hujan bukan cuma hujan, tapi jadi gambaran perasaan. Selain itu, ada juga sentuhan personifikasi yang bikin suasana terasa lebih hidup. Hal-hal yang sebenarnya abstrak jadi lebih kebayang.

Citraan juga terasa, terutama citraan visual dan perasaan. Pembaca seperti diajak melihat suasana hujan yang tenang, sekaligus ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh. Tidak berlebihan, tapi cukup bikin suasana terasa nyata.

Ada juga repetisi yang cukup sering muncul, terutama soal mencintai tanpa memiliki. Ide ini diulang dengan cara yang berbeda-beda, jadi terasa makin ditekankan. Selain itu, pengulangan ini juga bikin tulisan terasa lebih puitis dan enak dibaca.

Lewat gaya bahasa yang sederhana, novel ini justru berhasil menyampaikan perasaan yang dalam. Tidak dibuat rumit, tapi tetap berkesan.

Di bagian akhir, yang terasa justru bukan soal siapa yang akhirnya bersama, tapi bagaimana seseorang belajar berdamai dengan perasaannya sendiri. Tidak semua cinta harus dipertahankan. Ada yang memang datang untuk dirasakan, lalu dilepas.