Senja, Waktu yang Diam-Diam Mengajarkan Melepaskan

Mahasiswi Sastra Indonesia 2024, Universitas Mulawarman
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rahma Multiatun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada momen ketika seseorang sadar bahwa tidak semua yang datang akan tinggal. Dalam novel Pada Senja yang Membawamu Pergi karya Boy Candra, perasaan seperti itu tidak disampaikan dengan cara yang meledak-ledak, melainkan pelan, hampir seperti bisikan.
Cerita dalam novel ini tidak bergerak cepat. Justru kesan yang muncul adalah tenang dan sedikit sendu. Tokohnya tidak banyak melawan keadaan, tetapi lebih banyak memahami apa yang terjadi. Dari situ, pembaca seperti diajak ikut duduk sebentar, melihat, lalu merasakan.
Pilihan kata yang digunakan terasa sederhana, tetapi tidak asal. Kata senja muncul berulang dan menjadi pusat suasana. Di sini, senja bukan hanya latar waktu, tetapi seperti penanda bahwa sesuatu sedang berakhir. Diksi yang dipilih memang tidak rumit, tetapi cukup untuk membangun emosi tanpa harus dijelaskan panjang.
Hal ini bisa dilihat pada kalimat, “Senja selalu tahu cara berpamitan tanpa banyak kata.” Kalimat ini tidak panjang, tetapi terasa hidup. Senja seolah-olah diberi kemampuan untuk berpamitan, yang menunjukkan penggunaan personifikasi. Dari situ, perpisahan terasa lebih halus, tidak terasa dipaksakan.
Kalimat-kalimat dalam novel ini juga cenderung singkat. Tidak berbelit, langsung ke inti perasaan. Gaya seperti ini membuat pembaca cepat menangkap emosi yang ingin disampaikan. Namun, di beberapa bagian, kalimat menjadi lebih panjang dan mengalir, terutama saat tokoh sedang memikirkan sesuatu. Perubahan ini membuat alurnya terasa lebih dinamis.
Ada juga penggunaan majas yang cukup konsisten. Selain personifikasi, metafora hadir lewat cara penulis menggambarkan perasaan melalui hal-hal yang dekat dengan alam. Perasaan yang sulit dijelaskan jadi lebih mudah dibayangkan.
Citraan yang dibangun juga cukup kuat. Pembaca seperti bisa melihat warna langit saat senja, sekaligus merasakan suasana yang tenang tetapi sedikit berat. Tidak banyak deskripsi yang berlebihan, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa nyata.
Selain itu, gagasan tentang kehilangan tidak hanya muncul sekali. Ia diulang dalam berbagai bentuk, seolah-olah ingin terus diingatkan. Pengulangan ini bukan tanpa tujuan, melainkan untuk memperkuat kesan bahwa melepaskan bukan hal yang mudah.
Di ujung cerita, yang terasa bukan sekadar kehilangan, tetapi proses memahami keadaan. Ada titik ketika seseorang berhenti menahan dan mulai menerima. Tidak semua hal bisa dipertahankan, dan tidak semua yang pergi harus dikejar kembali.
