Konten dari Pengguna
Tidak Semua Luka Anak Rumah Penuh Konflik Terlihat dari Luar
30 November 2025 2:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tidak Semua Luka Anak Rumah Penuh Konflik Terlihat dari Luar
Tulisan ini membahas luka emosional anak yang tumbuh di keluarga penuh konflik. Meski terlihat baik-baik saja, banyak dari mereka menyimpan kecemasan, tekanan, dan beban yang tidak tampak dari luar. Rahma Multiatun
Tulisan dari Rahma Multiatun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Banyak orang mengira bahwa luka hanya tampak saat seseorang menangis, marah, atau kehilangan kendali. Padahal beberapa luka justru bersembunyi rapi di balik sikap yang terlihat baik-baik saja. Ini sering dialami oleh mereka yang tumbuh di keluarga tidak harmonis yang sering disebut broken home. Dari luar mungkin terlihat tenang, tetapi ada banyak hal yang sedang mereka tahan.
ADVERTISEMENT
WHO mencatat bahwa 1 dari 3 remaja mengalami kecemasan atau stres berkepanjangan ketika tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh konflik.
Angka itu terasa masuk akal karena konflik keluarga bukan hanya soal suara keras atau pertengkaran. Terkadang bentuknya lebih halus seperti diam yang menekan ketegangan yang tidak pernah selesai atau rasa takut yang muncul setiap kali pulang ke rumah. Dan tidak semua orang berani bercerita tentang itu.
Saya pernah melihat bagaimana seseorang menjalani hari dengan senyum aktif dan tampak tidak punya masalah. Tetapi setiap malam ia harus menghadapi suara dua orang yang saling menyalahkan. Tidak ada ruang aman untuk kembali. Tidak ada tempat untuk mengeluh. Pelan pelan ia belajar menyembunyikan semuanya dan dunia mengira ia baik baik saja.
ADVERTISEMENT
Yang sering dilupakan adalah anak dari keluarga yang tidak harmonis tumbuh dengan beban yang lebih berat dari yang terlihat. Mereka memikirkan hal hal yang seharusnya belum perlu mereka pikirkan menjaga kestabilan rumah menjadi penengah atau sekadar memastikan suasana tidak makin panas. Perlahan mereka terbiasa mengurus orang lain sebelum memikirkan diri sendiri.
Sayangnya lingkungan sekitar sering salah memahami mereka. Ada yang menganggap mereka terlalu sensitif terlalu tertutup atau terlalu mandiri. Padahal itu cara mereka bertahan. Mereka belajar menata diri karena rumah tidak memberi ruang untuk itu. Mereka belajar menahan emosi karena tidak ada tempat aman untuk melepaskannya.
Menurut saya yang paling dibutuhkan orang orang seperti ini bukan nasihat seperti sabar saja atau semua keluarga memang punya masalah. Yang mereka butuhkan hanyalah tempat di mana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa harus menahan apa pun. Kadang cukup satu teman yang mau mendengar tanpa menghakimi sudah membuat mereka merasa lebih ringan.
ADVERTISEMENT
Luka dari rumah memang tidak selalu tampak. Tetapi bukan berarti tidak ada. Mereka hanya belajar menyimpannya lebih rapat agar bisa tetap menjalani hidup seperti biasa. Dan keberanian itu menurut saya patut dihargai.
Mereka mungkin tumbuh dari situasi yang berantakan tetapi bukan berarti mereka tidak bisa membangun diri pelan pelan. Justru banyak dari mereka yang akhirnya menjadi sosok yang kuat penuh empati dan mengerti bagaimana rasanya berjuang sendirian.
Karena pada akhirnya orang yang terluka bukan yang paling keras tangisnya tetapi yang paling pandai menyembunyikan perihnya.

