Topping Tak Kasat Mata: Mikroplastik dalam Menu Harian dan Kajian Kimia

Saya adalah seorang mahasiswa aktif jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saya percaya bahwa melalui tulisan dan edukasi, kita bisa mendorong perubahan kecil yang berdampak besar bagi lingkungan dan masyarakat.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahma Nur Fitria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita mungkin merasa sudah memilih makanan sehat setiap hari dari salad yang mengandung bahan organik hingga ikan laut yang kaya omega-3. Namun tanpa kita sadari, makanan sehat yang kita konsumsi setiap hari ternyata mengandung bahan asing yang tak diundang dan tak terlihat oleh mata telanjang yang bernama mikroplastik. Menurut WHO (2019), mikroplastik telah ditemukan dalam air, dan meski belum ada bukti kuat soal bahaya nya bagi manusia, penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan, terutama untuk partikel plastik berukuran nano yang bisa menembus dinding sel.
Mikroplastik: Topping Tak Kasat Mata dalam Menu Harian
Mikroplastik merupakan partikel plastik kecil yang berukuran kurang dari 5 mm terbentuk dari penguraian plastik besar atau diproduksi langsung dalam ukuran mikro. Karena ukurannya yang sangat kecil hingga tidak bisa dilihat oleh mata telanjang dan sifatnya yang tidak mudah terurai, mikroplastik dengan mudah menyebar ke lingkungan seluruh bagian bumi termasuk dalam rantai makanan kita. Dari garam dapur, air minum, hingga ikan laut yang kita makan. Mikroplastik telah menjadi 'bumbu tambahan' yang tidak diundang.
Data Makanan yang Terkontaminasi Mikroplastik
Garam dapur: Studi oleh Karami et al. (2017) menemukan mikroplastik dalam 90% sampel garam dari berbagai negara. Bahkan rata-rata orang bisa mengomsumsi 1000 mikroplastik per tahun hanya dari garam saja!
Air minum dalam kemasan: Mason et al. (2018) menemukan rata-rata 325 partikel plastik per liter di air kemasan.
Makanan laut: ikan, kerang, dan makanan laut lainnya yang kita konsumsi banyak mengandung mikroplastik, karena laut telah tercemar jutaan ton plastik. Penelitian oleh Rochman et al. (2015) menemukan bahwa 1/3 ikan yang ditangkap di inggris mengandung plastik dalam saluran pencernaannya
Sayur dan buah: Penelitian oleh Oliveri Conti et al. (2020) mendeteksi partikel mikroplastik dalam tomat, apel, dan wortel.
Mikroplastik dari Sudut Pandang Kimia Lingkungan
Dalam kajian kimia lingkungan, mikroplastik memiliki sifat kimia yang dapat menyerap, membawa, dan melepas senyawa toksik di dalam tubuh manusia juga di lingkungan, sehingga dapat bertindak sebagai kontaminan kompleks.
Tabel 1. Jenis Polimer Palstik
Interaksi Kimia di Lingkungan
Fotodegradasi oleh senyawa UV menghasilkan radikal bebas.
Senyawa toksik mengabsorbsi PAHs, DDT, PCB, logam berat (Pb²⁺, Cd²⁺), dll.
Contoh reaksi degradasi PVC: [-CH2-CHCl-]n → -CH=CH- + HCl↑ (oleh panas atau UV)
Efek Kimia Mikroplastik dalam Tubuh Manusia:
BPA dan ftalat bersifat pengganggu hormon (endocrine disruptors).
Mikroplastik nano dapat melewati membran usus dan masuk ke darah atau otak.
Potensi menyebabkan stres oksidatif, peradangan, dan kanker dalam jangka panjang.
Apa Dampaknya Bagi Kesehatan?
Meskipun penelitian mengenai mikroplastik masih diteliti, ia masih diyakini akan membawa dampak negatif bagi kesehatan. Mikroplastik dapat menjadi agen bagi senyawa toksik seperti logam berat, pestisida, dan senyawa organik berbahaya lainnya yang bisa terhitung di dalam tubuh. Beberapa efek yang telah dicurigai antara lain adalah:
Gangguan sistem hormon (endocrine disruptors)
Peradangan usus dan stres oksidatif
Gangguan sistem imun
Kebiasaan yang perlu dihindari
Untuk mengurangi paparan mikroplastik:
Mengurangi penggunakan plastik sekali pakai
Gunakan tumbler dan tas belanja yang bisa digunakan kembali, bukan botol plastik dan kantong plastik
Menghindari penggunaan sedotan, gelas, alat makan yang terbuat dari plastik
Gunakan wadah makanan yang terbuat dari bahan selain plastik
Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik.
Mengurangi konsumsi produk yang dikemas plastik
Referensi
• Mason, S. A., et al. (2018). Synthetic Polymer Contamination in Bottled Water. Frontiers in Chemistry, 6, 407. https://doi.org/10.3389/fchem.2018.00407
• Karami, A., et al. (2017). The presence of microplastics in commercial salts. Scientific Reports, 7, 46173. https://doi.org/10.1038/srep46173
• Rochman, C. M., et al. (2015). Plastic debris in seafood. Scientific Reports, 5, 14340. https://doi.org/10.1038/srep14340
• Oliveri Conti, G., et al. (2020). Microplastics in fruit and vegetables. Environmental Research, 187, 109677. https://doi.org/10.1016/j.envres.2020.109677
• Teuten, E. L., et al. (2009). Transport and release of chemicals from plastics. Phil. Trans. R. Soc. B, 364, 2027–2045. https://doi.org/10.1098/rstb.2008.0284.
• Gallo, F., et al. (2018). Marine litter plastics and their toxic chemicals. Environmental Sciences Europe, 30, 13. https://doi.org/10.1186/s12302-018-0139-z
• Cox, K. D., et al. (2019). Human Consumption of Microplastics. Environmental Science & Technology, 53(12), 7068–7074. https://doi.org/10.1021/acs.est.9b01517
• Barboza, L. G. A., et al. (2020). Microplastics in wild fish from North East Atlantic Ocean and its potential for causing neurotoxic effects, lipid oxidative damage, and human health risks associated with ingestion exposure. Environmental Pollution, 224, 125-135. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2019.134625
• World Health Organization (WHO). (2019). Microplastics in drinking water. Retrieved from https://www.who.int/publications/i/item/9789241516198
