Belajar dari Video Viral Jarum Suntik Berserakan: Bukan Soal Siapa yang Salah

Saya adalah Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rahma Nida An Khofiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, berita mengejutkan lewat pada timeline sosial media saya dalam bentuk sebuah video singkat yang memperlihatkan ratusan jarum suntik bekas berserakan di semak-semak dan saluran air. Videonya viral, komentarnya penuh spekulasi; ada yang menduga limbah itu dari rumah sakit, klinik, sampai praktik ilegal.
Namun sampai sekarang belum ada keterangan resmi darimana asal-muasal dan siapa pelaku yang membuang limbah medis itu. Bagi saya, ini bukan untuk melihat siapa yang salah, melainkan apa yang bisa kita lakukan kalau kita sendiri yang menemukan benda semacam itu
Jadi kalau suatu hari kita ketemu jarum suntik bekas yang tergeletak di jalan, tahan dulu rasa penasaran untuk memungutnya, apalagi mematahkan atau membuangnya ke tempat sampah biasa. Sentuhan langsung itu berisiko melukai kulit sekaligus jadi jalan penularan penyakit. Saat itu juga, segera laporkan kejadian itu ke pihak berwenang. Kalau lokasinya dekat rumah atau tempat main anak-anak, jauhkan dulu mereka sampai petugas datang menangani.
Sempat kepikiran juga: apa cuma dengan lihat atau lewat dekat lokasinya bisa langsung bikin tertular? Jawabannya bisa, tapi tidak otomatis.
Melihat, berada di dekat, atau melewati lokasi jarum suntik ditemukan tidak akan membuat kita tertular secara langsung. Penularan perlu jalur paparan tertentu, misalnya darah yang masuk lewat luka tusuk dengan kondisi jarum yang masih terkontaminasi darah pembawa virus atau mikroorganisme penyebab penyakit, seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV.
Nah, terus gimana kalau ternyata sampai tertusuk beneran? Jangan panik dulu, ya. Langkah pertama, cuci lukanya pakai air mengalir dan sabun, jangan dipencet atau diisap berlebihan, lalu tutup dengan kasa atau perban bersih, dan segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat buat dievaluasi tenaga medis.
CDC menyarankan langkah ini karena dokter nanti yang akan menilai risiko paparannya dan menentukan apakah kamu perlu vaksin. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang mencegah infeksi.
Daripada memindahkannya sendiri, mendingan langsung hubungi pihak berwenang, bisa pengelola kawasan, RT/RW atau kelurahan setempat, Dinas Kesehatan, atau Dinas Lingkungan Hidup.WHO menegaskan jika limbah medis harus dikelola dengan prosedur khusus supaya tidak membahayakan petugas maupun masyarakat umum. Jarum suntik bekas seharusnya masuk wadah tahan tusuk dulu sebelum diangkut dan dimusnahkan.
Dari peristiwa ini, saya memahami bahwa segala prosedur yang dilakukan bukan cuma soal etika, tapi memang diatur hukum. Di Indonesia, pengelolaan limbah B3 dari fasilitas kesehatan, termasuk limbah benda tajam, sudah diatur lewat Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 dan ketentuan teknis dari Kementerian Kesehatan.
Ramainya video semacam ini biasanya diikuti spekulasi soal asal limbahnya, mulai dari rumah sakit, klinik, sampai praktik kesehatan ilegal. Padahal, menuduh pihak tertentu tanpa bukti malah bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Menurut saya, hal yang lebih penting adalah memastikan limbah tersebut dapat segera ditangani dengan aman, bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang membuangnya. Kita semua bisa mengambil peran dalam pencegahan dan edukasi dini dengan tidak menyentuhnya sendiri dan segera melapor ke pihak yang berwenang.
Jadi, jika seandainya kamu menemukan hal serupa di sekitarmu, ingat tiga hal ini: jangan sentuh, jauhkan orang lain, dan laporkan. Langkah kecil ini bisa mencegah risiko cedera maupun penularan penyakit, sekaligus menjaga lingkungan tetap aman untuk semua orang, termasuk kamu sendiri.
