Integrasi Sabar dan Syukur Dalam Kehidupan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Manajemen Dakwah
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahmaditya Ragil Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan sifat sabar dan syukur. Sabar dan syukur adalah sifat yang terpuji dan sifat tersebut harus dimiliki dalam kepribadian muslim.
عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ .فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له
Artinya:
“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim nomor 2999)
Allah memaparkan fenomena-fenomena di bumi yang menjadi bukti kekuasaan dan keesaan-Nya. Wahai orang yang berakal, tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dan tidak tenggelam dengan berkat rahmat Allah melalui pengetahuan yang Dia anugerahkan kepadamu sehingga bisa mengangkut barang-barang yang engkau butuhkan sebagai nikmat Allah, agar dengan itu semua diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dalam menghadapi ujian-Nya dan banyak bersyukur atas nikmat-Nya.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan agar manusia melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya yang ada di bumi dengan mengatakan, “Apakah tidak engkau perhatikan, hai Muhammad, bahtera yang berlayar di lautan yang menghubungkan negeri-negeri yang berjauhan letaknya.” Dengan adanya hubungan itu, penduduk suatu negeri akan mengenal penduduk negeri lain. Keperluan dan kebutuhan rakyat yang tidak ada di negerinya dapat diambil dan diangkut oleh kapal-kapal dari negeri-negeri yang lain, seperti bahan makanan, pakaian, obat-obatan, perhiasan, mesin-mesin, dan sebagainya. Dengan adanya kapal-kapal itu, seakan-akan hu-bungan antara bangsa-bangsa dan negara-negara dewasa ini semakin dekat. Kapal dibuat pertama kali oleh Nabi Nuh sesuai dengan perintah Allah dalam misi penyelamatan manusia beriman ditambah dengan sejumlah pasangan hewan (lebih lanjut baca Surah Hūd/11: 40). Namun demikian, dengan kemampuan berpikir manusia, maka teknologi kapal berkembang. Kapal tidak saja dibuat dari bahan kayu saja bahkan sudah berkembang dengan menggunakan logam. Walaupun akhir-akhir ini dengan berkembangnya teknologi bahan, manusia telah mampu “meramu” dari bahan yang tersedia menjadi bahan yang lebih ringan, kompak, mudah dibentuk, kuat, tahan cuaca, dan tahan benturan. Besi yang mestinya tenggelam, karena massa jenis logam jauh lebih besar di atas massa jenis air, tetapi dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yakni dengan menerapkan hukum Archimides (fisika), maka besi tadi dapat mengapung di permukaan air. Hakikatnya hukum fisika itu adalah ketetapan Allah. Ketetapan Allah yang dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan manusia. Itulah nikmat Allah yang sesungguhnya. Semua yang diterangkan Allah itu adalah bukti-bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya yang nyata bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan kesukaran, serta bagi orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Tanda orang bersyukur kepada Allah itu ialah dengan menyatakan ungkapan syukur dalam bentuk perkataan atau perbuatan ketika menerima nikmat itu. Asy-Sya’bī berkata, “Sabar itu adalah sebagian dari iman, syukur itu adalah sebagian iman, dan yakin adalah iman seluruhnya. Tidakkah engkau perhatikan firman Allah yang terdapat pada akhir ayat ini dan firman-Nya: “wa fi al-arḍi āyātun li al-muqinīn” (dan pada bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin) dan sabda Rasulullah saw: اَلْاِيْمَانُ نِصْفَانِ نِصْفٌ فِى الصَّبْرِ وَنِصْفٌ فِى الشُّكْرِ. (رواه البيهقى عن أنس) Iman itu ada dua bagian, yaitu sebagian dalam sabar dan sebagian dalam syukur. (Riwayat al-Baihaqī dari Anas).
Kesimpulan:
Sangat penting dan diperlukan sekali sebagai manusia memiliki sifat sabar dan syukur. Keduanya termasuk dalam sifat terpuji yang dimana sifat tersebut harus tertanam dalam kepribadian setiap muslim. Dengan adanya sifat tersebut manusia akan selalu sadar tentang arti dari perbuatan terpuji yang didasari dari sifat sabar dan syukur. Sabar berfungsi sebagai kekuatan dalam menghadapi ujian, kesulitan, dan cobaan hidup dengan tetap teguh, tidak mudah putus asa, serta tetap berada di jalan yang benar. Sementara itu, syukur menjadi bentuk pengakuan atas nikmat yang diberikan, baik melalui hati, lisan, maupun perbuatan.
Keduanya tidak dapat dipisahkan: sabar menjaga manusia saat berada dalam kesempitan, sedangkan syukur menjaga manusia agar tidak lalai saat berada dalam kelapangan. Dengan mengamalkan sabar dan syukur, seseorang akan mencapai keseimbangan emosional, ketenangan batin, serta kedekatan kepada Allah. Oleh karena itu, sabar dan syukur bukan hanya sikap, tetapi juga kunci utama dalam meraih kebahagiaan dan ketakwaan dalam kehidupan.
Penulis: Rahmaditya Ragil Widodo
Dosen Pengampu: Dr. Hamidullah Mahmud, L.c, M.A.
