Rasulan Bejiharjo: Tradisi Budaya dan Gunungan Hasil Panen

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rahmah Mulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunungkidul - Rasulan Bejiharjo merupakan tradisi masyarakat Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya melestarikan budaya lokal. Informasi mengenai pelaksaan Rasulan juga dimuat dalam situs resmi Kalurahan Bejiharjo.
Pada Selasa, 21 Juli 2026, rangkaian Merti Dusun atau Rasulan di Padukuhan Banyubening 1, Banyubening 2, dan Kulwo ditutup di Balai Kalurahan Bejiharjo. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga tradisi dan mempererat kebersamaan.
Rasulan Bejiharjo, Tradisi Budaya dengan Gunungan Hasil Panen dan wayang kulit
Salah satu bagian menarik dari tradisi Rasulan Bejiharjo adalah gunungan yang berisi hasil panen. Setiap desa menyiapkan gunungan yang disusun menyerupai gunung, kemudian dibawa menuju balai desa dengan iringan kesenian reog.
Setelah tiba di balai desa, gunungan tersebut diperebutkan oleh masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari kemeriahan acara sekaligus mencerminkan antusiasme warga dalam mengikuti tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi Rasulan merupakan bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul. Penjelasan mengenai tradisi Rasulan sebagai bentuk syukur setelah panen juga dapat dibaca dalam artikel tentang tradisi Rasulan di Gunungkidul.
Selain kirab gunungan, tradisi Rasulan Bejiharjo juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian pada malam hari. Salah satunya adalah wayang kulit yang digelar di balai desa sebagai hiburan bagi masyarakat.
Pertunjukan wayang kulit menjadi bagian dari upaya melestarikan kesenian tradisional Jawa. Warga dapat berkumpul untuk menikmati pertunjukan sekaligus mempererat hubungan sosial di lingkungan mereka.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Rasulan Bejiharjo tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi sarana menjaga gotong royong dan kebersamaan masyarakat. Tradisi ini diharapkan terus dikenal oleh generasi muda agar warisan budaya lokal tetap terjaga.
