Jerusalem, Teologi dan Eskatologi

Reader on Politic, Sociology, Crimonology and National Security.
Tulisan dari Rahman Saleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perang masa depan diawali dengan dengan cyber dan space warfare, kemudian amunisi balistic konvensional yang di gantikan dengan hulu ledak nuklir, biological weapon, chimical weapon dan senjata aneh - aneh lainnya yang tidak terbayangkan yang akan menghabiskan manusia dan peradabannya, kemudian seluruh teknologi persenjataan musnah bersama dan benturan senjata yang mahadahsyat. Kemudian pertempuran kembali kepada persenjataan konvensional pedang, tombak, panah dan sajam. Kemudian secara perlahan manusia akan habis dari muka bumi.
Menggabungkan antara scientific forecasting, folkore dengan teologi dan eskatologi dalam sebuah filsafat multidisiplin memang menarik. Sebagai contoh dalam wiracarita Mahabharata sebagai kisah teologi Resi Parasurama memberikan senjata Brahma ((Bramasthya)) kepada Dewabratha (Bisma), Resi Drona dan Karna. Dari Drono di ajarkan dan diberikan kepada Aswatama dan Arjuna. Senjata ini tidak bisa berbenturan kecuali efeknya menghancurkan alam semesta, mirip nuklir, biological weapon, chemical weapon atau mass weapon destruction lainnya.
Dan wiracarita Mahabharata menskenario sebuah perang besar (perang di Padang kurusetra) sebagai sebuah suksesi alami sebagai konsekuensi terhadap revolusi atas sistem yang layak untuk berakhir dan digantikan oleh sistem dan kepemimpinan yang baru.
Teori Realisme dalam hubungan internasional mengatakan bahwa akumulasi kekuatan militer adalah konsekuen dari anomie dari keadilan di dunia, dimana dalam pergaulan dunia tidak ada Lembaga yang bisa menegakkan hukum dan keadilan atas perilaku kejahatan dari sebuah negara. Akumulasi kekuatan adalah mekanisme alamiah negara dalam bertahan atas keberlangsungan eksistensi nya. Tetapi pada titik tertentu mekanisme pertahanan ini adalah ancaman bagi eksistensi negara lain. Security Dillema begitulah kira - kira, sehingga pada titik tertentu sebuah mekanisme akumulasi kekuatan sebagai mekanisme pertahanan diri, berubah menjadi pemicu negara lain melakukan invansi dengan dalih sebelum suatu negara memiliki kapasitas militer yang mengekspansi negaranya, perlu ada serangan sebelum negara itu besar.
Jika Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel hanya test the water dalam rangka melakukan deteksi dini atas peta teman dan musuhnya di seluruh dunia karena sebagai pengusaha dia tidak mau memubazirkan riset dan operasi intelijen utk memetakan negara kawan dan musuh, maka kebijakan Trump dapat dilihat sebagai kecerdasan emosional dimana negara - negara yang bereaksi keras ataupun mendukung bisa dipetakan dan dibuatkan langkah khusus, di banding dengan mengeluarkan budget riset dan operasi pengumpan informasi. Dan tentunya Trump bisa mencabut pernyataan tersebut, sebagai Kebijakan kontroversial nya yang dia batalkan, contoh pembangunan tembok di perbatasan.
Tetapi jika langkah Trump sebagai tersebut sebagai langkah serius dan sebagai wujud komitmen politik luar negeri yang pro - Israel, maka Trump sedangkan menarik trigger Balancing power melalui mekanisme alamiah akumulasi kekuatan negara - negara dunia. Jika tidak di kelola dengan baik. Trump seperti ingin melawan sebuah eskatologi dengan sebuah teologi. "Dominasi dunia adalah milik AS, dan tak akan terbendung termasuk Tuhan kalian,." Kira - kira Trump mau bilang begitu. Selain berusaha melawan dominasi itu, tentunya Tuhan akan menghukum orang - orang seperti Trump ini, bukan dengan eksistensi kekuatan, sebagaimana Bima menghabisi Duryudana dengan memukulkan Gadha di paha Duryudana sesuatu yang tidak pernah diprediksikan Duryudana di dalam aturan perang Gadha.
Saya sangat yakin pernyataan Trump didukung dengan policy paper yang di susun oleh alat negara Amerika yang tidak diragukan kompetensi dan kapasitas. Tetapi dunia selalu di tentukan oleh faktor non - prediktif. Dalam istilah public policy ada validitas internal dan validitas eksternal, itu kenapa semua kalkulasi dan appraisial terkadang mengalami deviasi. Sehingga leader yang baik adalah leader yang tidak mengambil resiko yang terlalu besar atas keputusan politik tertentu.
Lantas apa yang akan terjadi pasca ini, waktu dan fakta empiris yang terjadi di masa depan yang akan menjawabnya.
