Konten dari Pengguna

Ilusi "Pintar" di Era AI

Rahman Ardi Wardana

Rahman Ardi Wardana

Guru Informatika dan Koding KA, S1 Teknologi Pendidikan, PPG Prajabatan Guru Informatika

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahman Ardi Wardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Gerd Altmann/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Gerd Altmann/Pixabay

Belakangan ini saya sering dihadapkan pada sebuah ironi di ruang kelas. Saat memberikan tugas esai atau analisis, tidak jarang saya menerima karya yang tata bahasanya nyaris sempurna, argumennya tertata rapi, dan diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, ketika siswa tersebut saya panggil untuk mempresentasikan atau sekadar berdiskusi secara lisan mengenai tulisannya, mereka tergagap.

Karya itu kehilangan "ruh" penulisnya. Jawabannya sederhana: Generative AI yang mengerjakannya.

Fenomena ini bukan sekadar anekdot lokal. Laporan UNESCO bertajuk "Guidance for generative AI in education and research" secara gamblang memperingatkan bahwa penetrasi AI yang tidak disertai dengan panduan etis dan pedagogis akan mengancam fondasi keaslian pemikiran manusia.

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Di Indonesia, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di kalangan usia sekolah (13—18 tahun) hampir menyentuh angka 99%. Akses mereka terhadap tools seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude sama mudahnya dengan mengakses media sosial.

Pertanyaannya: Apakah kurikulum dan ekosistem sekolah kita sudah siap mengelola disrupsi ini?

Antara Kecakapan Digital dan Literasi AI

Selama bertahun-tahun, pelajaran Informatika di sekolah sering kali terjebak pada penguasaan tools. Kita sibuk mengajari anak cara menggunakan Microsoft Office, membuat presentasi, atau dasar-dasar coding. Itu semua adalah kecakapan digital (digital skills)—dan saat ini, hal itu tidak lagi cukup.

Riset dari Stanford University (2023) mengenai AI Index Report menunjukkan bahwa tantangan terbesar pendidikan ke depan bukanlah mengajarkan siswa cara menggunakan teknologi, melainkan bagaimana mengevaluasi, mengkritisi, dan berkolaborasi dengan teknologi tersebut. Inilah yang disebut dengan literasi AI.

Bahaya "Halusinasi" dan Matinya Berpikir Kritis

Ilustrasi AI. Foto: Shutterstock

Ketika siswa menjadikan AI sebagai "jalan pintas" (shortcut) alih-alih "teman bertukar pikiran" (brainstorming partner), kita sedang menghadapi krisis kognitif.

Kecerdasan buatan rentan terhadap apa yang disebut "halusinasi", menghasilkan informasi yang seolah-olah meyakinkan, padahal faktanya salah total. Tanpa computational thinking (berpikir komputasional) dan nalar kritis, siswa akan menelan mentah-mentah informasi ini. Di sinilah letak relevansi skor PISA kita. Literasi membaca bukan hanya soal bisa membaca teks, melainkan juga soal memahami konteks, memvalidasi sumber, dan mensintesis informasi. Jika AI yang melakukan sintesis, otot kognitif siswa kita akan mengalami atrofi (penyusutan).

Apa yang Harus Dilakukan?

Sebagai pendidik di garis depan teknologi, saya merekomendasikan tiga langkah taktis berbasis data untuk merespons gelombang ini:

Pertama, reorientasi kurikulum informatika. Kementerian Pendidikan harus segera memasukkan "etika dan literasi AI" sebagai capaian pembelajaran wajib, bukan sekadar suplemen. Siswa harus diajarkan anatomi dasar machine learning, bias algoritma, dan seni prompt engineering (memberikan instruksi pada AI). Mereka harus tahu bahwa AI bukanlah "Tuhan yang tahu segalanya", melainkan sebuah mesin prediksi statistik.

Ilustrasi Implementasi AI. Foto: Dok. Istimewa

Kedua, pelatihan guru berbasis skenario (scenario-based training). Pelatihan guru tidak boleh lagi berkutat pada seminar teori. Guru dari semua mata pelajaran bukan hanya guru informatika harus dilatih menggunakan AI untuk menyusun RPP, membuat rubrik penilaian yang kebal AI, dan merancang asesmen yang menuntut pemikiran tingkat tinggi (HOTS), seperti debat, proyek berbasis komunitas, atau ujian lisan yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin.

Ketiga, pembuatan panduan penggunaan AI di tingkat sekolah. Sekolah tidak boleh lepas tangan. Harus ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas. Misalnya, aturan kutipan wajib jika siswa menggunakan bantuan AI dalam tugasnya. Transparansi adalah kunci etika akademik di masa depan.

Penutup

Ada pepatah modern yang berbunyi: "AI tidak akan menggantikan guru, tetapi guru yang menggunakan AI akan menggantikan guru yang tidak menggunakannya." Hal yang sama berlaku untuk siswa kita.

Tugas kita bukanlah memutus kabel internet atau memblokir situs AI di jaringan sekolah. Tugas kita adalah membekali anak-anak kita dengan kompas moral dan nalar kritis agar mereka bisa berselancar di lautan algoritma tanpa kehilangan jati diri dan kemanusiaannya. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun kecerdasan buatan, kebijaksanaan tetaplah milik manusia.