Konten dari Pengguna

Tiga Lembar Kartu Pos: Emosi, Keraguan dan Spiritualitas

rahmarafila

rahmarafila

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rahmarafila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga Lembar Kartu Pos: Emosi, Keraguan dan Spiritualitas
zoom-in-whitePerbesar

Tiga Lembar Kartu Pos, Karya Sapardi Djoko Damono Tahun 1975

Lembar Kartu Pos Pertama

Soalnya kau tak pernah tegas menjelaskan keadaanmu,

tak pernah tegas mengakui bahwa harus menyelesaikan

perkaramu dengan-Ku

Suratmu dulu itu entah dimana, tidak di antara

bintang-bintang, tidak di celah awan, tidak di sela-sela sayap

malaikat

Masih Kuingat benar: alamat-Ku kau tulis dengan sangat

tergesa, Kubayangkan tanganmu gemetar tanda bahwa ada

yang ingin lekas-lekas kau sampaikan pada-Ku

Lembar Kartu Pos Kedua

Kau dimana kini? Sebenarnya saja: pernahkah kau tulis

surat itu? Pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin

ketika kau lihat bayang-bayang-Ku yang tertinggal di

kamarmu?

Mungkin Aku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah

merasa memelihara hubungan dengan-Ku, tak pernah ingat

akan percakapan Kita yang panjang perihal topeng

yang tergantung di dinding itu

Bagaimanapun Aku ingin tahu dimana kau kini

Lembar Kartu Pos Ketiga

Anakmu yang tinggal itu menulis surat, katanya antara

lain, “...alamat-Mu kudapati di tong sampah, di antara

surat-surat yang dibuang Ayah; hanya sekali ia pernah

menyebut-nyebut nama-Mu, yakni ketika aku meraung

karena dihalanginya mengenakan topeng yang ...”

Rupanya ia ingin mengajak-Ku bercakap tentang mengapa

Aku sengaja memberimu hadiah topeng di hari ulang

tahunmu dulu itu

Siasatnya pasti siasatmu juga; menatap tajam sambil

menuduh bahwa kunfayakun-Ku sia-sia belaka

.

.

Seperti itulah bunyi dari Puisi indah nan elok karya bung Sapardi. Puisi ini mengandung makna yang mendalam bagi para penikmat karya sastranya. Bung Sapardi dengan nama lengkap Sapardi Djoko D. sangat lihat dalam membalut puisi ini, puisi disajikan secara sederhana dalam tiga rangkaian yang saling berkaitan. Mari kita kupas tuntas untuk memperdalam pemaknaan dari puisi ini.

Analisis

Banyak cara yang bisa di lakukan untuk menelaah dan mendalami makna sebuah karya sastra. Pendekatan karya sastra dapat di telaah pada unsur instrinsik maupun ekstrinsik sebuah karya tersebut.

Alur

"Suratmu dulu itu entah dimana, tidak di antara

bintang-bintang, tidak di celah awan, tidak di sela-sela sayap

malaikat"

Pada kutipan lembar kartu pos yang pertama merupakan penggambaran atas spiritualitas seseorang terhadap Tuhannya. kutipan tersebut bermakna bahwa seseorang yang keimanannya naik turun terhadap tuhan sang pencipta, seseorang tersebut juga sudah lama tidak bersua kepada tuhannya sehingga kutipannya menjelaskan bahwa terbentang jarak yang jauh antara seseorang tersebut dengan tuhannya.

"Mungkin Aku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah

merasa memelihara hubungan dengan-Ku, tak pernah ingat

akan percakapan Kita yang panjang perihal topeng

yang tergantung di dinding itu"

Pada kutipan tersebut, menggambarkan bahwa seseorang yang imannya naik turun dan ketidak konsistenan seseorang dalam bersua dengan tuhannya. pada kalimat "tak pernah ingat akan percakapan kita yang panjang" merefleksikan bahwa seseorang yang datang kepada Tuhannya secara tidak konsisten dan lupa akan sang Maha pencipta. Pengarang menyiratkan bahwa kita sebagai makhluk seharusnya selalu menjaga hubungan baik dengan tuhan dan selalu mengucap syukur atas hidup yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.

"Siasatnya pasti siasatmu juga; menatap tajam sambil

menuduh bahwa kunfayakun-Ku sia-sia belaka"

Pada kutipan tersebut, menggambarkan bahwa tuhanlah maha pencipta, sekali tuhan berkehendak, kita akan selalu berada di genggamannya. "Kunfayakun" memiliki arti yang sangat besar, pada Q.S. Yasin:82 "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." karena manusia dan semua makhluk hidup selalu bisa mengusahakan apapun dalam hidupnya, tetapi tidak bisa melawan takdir yang telah ditentukan oleh sang Maha pencipta.

Latar

1. Di Atas Bumi

"Suratmu dulu itu entah dimana, tidak di antara

bintang-bintang, tidak di celah awan, tidak di sela-sela sayap

malaikat"

Dalam kalimat ini, penggambaran mengenai doa-doa yang sering dipanjatkan oleh seseorang ketika ia sedang dekat dengan tuhannya, tetapi makna mendalam dari kutipan tersebut adalah tidak ada lagi doa-doa yang terpanjat kepada tuhan ketika iman dan spiritualitas seseorang sedang melemah.

2. Di Kamar

"Kau dimana kini? Sebenarnya saja: pernahkah kau tulis

surat itu? Pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin

ketika kau lihat bayang-bayang-Ku yang tertinggal di

kamarmu?"

Pada kutipan "pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin ketika kau melihat bayang-bayang-Ku yang tertinggal di kamarmu?" penggambaran ketika seseorang yang meminta pertolongan kepada tuhannya dan memanjatkan doa di kala ia kesulitan dan tuhan senantiasa memeluknya. Makna keseluruhan yang tergambar pada kutipan tersebut bahwa seseorang yang sedang melemah imannya tidak memanjatkan doa kepada tuhan yang maha kuasa, tidak lagi meminta pertolongan dan menyanjung tuhannya.

gaya bahasa

sapardi membalut puisinya dengan sederhana namun sangat kaya akan makna yang tersirat didalamnya. bahasa asing pun terlantun dalam puisi ini, "kunfayakun" yang memiliki arti terjadi-lah. Puisi milik sapardi juga menggandrungi majas metafora yang menjadikan arti makna semakin mengerucut. Sapardi sukses dalam mengimajikan kata-kata hingga menemukan titik terdalam terhadap makna yang ingin ia sampaikan kepada para penikmat sastranya, seperti pada judul yang tertera "kartu pos" bermakna seperti sebuah komunikasi antar manusia terhadap tuhannya.

Majas metafora

"Rupanya ia ingin mengajak-Ku bercakap tentang mengapa

Aku sengaja memberimu hadiah topeng di hari ulang

tahunmu dulu itu"

topeng dalam kutipan tersebut memiliki keraguan, kepalsuan dan ketidakjujuran manusia kepada Tuhannya. kutipan ini juga menggambarkan bahwa peristiwa apapun akan tetap dalam genggaman tuhan dan kehendak-Nya. manusia akan selalu ada pada takdir yang telah tuhan rancang sedemikian rupa. sapardi menciptakan emosi yang tegang pada kutipan ini.

Amanat

Puisi Tiga Lembar Kartu Pos mengajak para penikmat sastra untuk merenungkan hubungan spiritual mereka dengan Tuhan. Puisi ini juga menyoroti keraguan dan kerinduan yang mungkin dirasakan seseorang terhadap hubungan tersebut. Sapardi merefleksikan mengenai hubungan spiritual yang kompleks antara manusia dan Tuhannya dan melibatkan pembahasan yang dapat menstimulus terhadap kehadiran Tuhan yang maha Esa dalam kehidupan di dunia ini, entah pada saat masa penting di hidup kita, ataupun pada keseharian kita.