Konten dari Pengguna

Dilema Guru SD: Dari Pengajar Menjadi Manajer Logistik MBG

Rahmat Asmayadi

Rahmat Asmayadi

Pengguna Kumparan

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Asmayadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Riwuh Guru Mempersiapkan MBG (sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Riwuh Guru Mempersiapkan MBG (sumber: dokumentasi pribadi)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap digadang-gadang sebagai ruang tumbuh baru bagi pemenuhan gizi anak bangsa. Namun, ketika gagasan besar itu diturunkan ke ruang kelas sekolah dasar (SD), realitanya tidak sesederhana memindahkan makanan dari katering ke meja siswa. Di lapangan, peran guru mendadak berlipat ganda: dari seorang pendidik menjadi manajer logistik, pengawas katering, hingga tim kebersihan harian.

Beberapa saat sebelum bel istirahat berbunyi, deretan porsi makanan MBG sudah tiba di sekolah. Saat fokus mengajar masih berjalan di ruang kelas, konsentrasi guru harus terbagi untuk memeriksa kedatangan logistik tersebut. Tanggung jawab ini murni berada di pundak para guru. Kami harus memastikan rasa makanan layak, komposisi gizi seimbang, dan kondisi sajian aman sebelum dikonsumsi anak-anak. Ketika bel istirahat akhirnya berbunyi—waktu yang idealnya menjadi momen rehat guru—suasana berubah menjadi arena pengawasan ketat. Guru mengarahkan siswa mencuci tangan, membagikan porsi, memastikan tidak ada makanan yang terbuang (food waste), hingga mengajari tata cara makan (table manner) dasar.

Foto: Siswa Antri MBG (sumber: dokumentasi pribadi)

Di balik niat mulianya, pelaksanaan program MBG menghadirkan dinamika nyata yang membebankan ruang gerak guru: Peralihan Fokus Mengajar: Beban operasional menyambut dan memeriksa makanan menjelang jam istirahat kerap memotong konsentrasi serta waktu efektif pembelajaran. Manajemen Logistik & Sampah: Pengelolaan sisa makanan, tempat wadah, dan kebersihan kelas pascamakan memerlukan manajemen ekstra agar lingkungan belajar tetap kondusif. Resiko Komunikasi: Guru berada di garis depan saat ada keluhan dari orang tua murid terkait selera atau variasi menu bulanan.

Kita semua sepakat bahwa gizi anak adalah fondasi utama mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, program besar ini membutuhkan sistem pendukung (support system) yang presisi di tingkat sekolah. Pihak sekolah, khususnya guru SD, memerlukan pendampingan tim operasional khusus atau skema distribusi yang lebih efektif agar peran utama guru dalam mengajar tidak tergerus oleh urusan dapur.

Memanusiakan guru di dalam ekosistem MBG adalah kunci. Sebab, anak yang sehat memang butuh makanan bergizi, tetapi anak yang cerdas tetap membutuhkan hadirnya guru yang fokus mendampingi proses belajarnya.